SMPN 7 Jadi Rujukan Nasional karena Budaya Literasi

Banyak cara yang dilakukan sekolah untuk mengembangkan prestasi di luar bidang akademik. Salah satunya yang dilakukan SMP Negeri 7 Kota Probolinggo. Pihak sekolah menginisiasi sebuah lembaga penerbitan. Lembaga ini cukup ampuh memotivasi guru dan siswa untuk membuat buku. Total sudah ada 6 buku yang diterbitkan milik guru dan siswa.

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo

JARUM jam menunjukkan sekitar pukul 10.00. Halaman sekolah terlihat lengang. Seluruh siswa beraktivitas di dalam kelas. Mengejar prestasi di bidang akademik, memang menjadi target sekolah. Namun, prestasi di luar bidang akademik juga jadi bidikan mereka. Hingga kemudian SMP Negeri 7 didaulat sebagai sekolah rujukan tingkat nasional.

Predikat sekolah rujukan itu tidak didapat semudah membalikkan telapak tangan. Mereka melakukan inovasi yang digagas sejak setahun yang lalu. Inovasi itu berupa pengembangan budaya literasi di sekolah. Jika sebagian orang mengenal literasi sebagai kegiatan membaca dan menulis, namun SMPN 7 setingkat lebih maju. Yakni, menerbitkan buku sendiri.

Jawa Pos Radar Bromo kemudian bertemu Sudarmanto, kepala sekolah setempat. “Kegiatan literasi ini dimulai sejak Juli 2017,” katanya. Ide memunculkan ini karena Sudarmanto melihat sulitnya sekolah untuk mengembangkan prestasi dari sisi akademik.

“SMP 7 ini memang bukan sekolah favorit. Siswa yang pintar cenderung memilih sekolah lain yang lebih diunggulkan. Jadi, sulit bagi kami untuk mengembangkan prestasi dari bidang studi seperti olimpiade,” ujarnya. Akhirnya, pihak sekolah mencari ide untuk mengembangkan prestasi selain akademik. Pilihannya diutamakan berkaitan dengan pengembangan pendidikan karakter.

“Sejak Pemerintahan Pak SBY, memang gencar pembangunan karakter siswa. Kemudian dilanjutkan saat Pak Jokowi ini, ada pengembangan pendidikan karakter. Dalam Permendikbud ada beberapa aspek pengembangan pendidikan karakter yang bisa dilakukan, salah satunya adalah budaya literasi,” ujarnya.

Sudarmanto menjelaskan, literasi tidak hanya sekadar meningkatkan minat baca siswa, tapi juga kemampuan untuk menulis. “Makanya digagas One Event One Piece of Writing Work. Ini gerakan literasi sekolah dan teknologi,” ujarnya. Dalam setiap event di sekolah, diharapkan menghasilkan karya tulis berupa buku. Untuk menciptakan karya tulis ini, melibatkan tidak hanya guru, tapi juga siswa.

“Misalnya saat puasa Ramadan, kami mengumumkan kepada siswa untuk membuat karya tulis berupa surat untuk Rasulullah SAW serta puisi. Beberapa hari sebelum pelaksanaan lomba, kami sudah umumkan sehingga siswa bisa mencari bahan atau materi untuk tulisannya,” ujarnya.

Saat lomba dilakukan, siswa mendapatkan lembaran kertas yang berstempel sekolah untuk media penulisan. “Jadi, siswa berlomba menulis ini tidak pakai komputer atau laptop, tapi menulis manual. Cara ini langkah agar siswa benar-benar menulis dari karyanya sendiri bukan dari plagiat,” ujarnya.

Siswa bebas untuk menulis dimana saja, tidak harus di kelas. Salah satunya di halaman sekolah. “Tapi, harus dikumpulkan dalam jangka waktu tertentu. Baru setelah karya dikumpulkan, siswa bisa mengetik di komputer. Termasuk jika ingin menambah kutipan itu boleh. Adanya tulisan tangan ini untuk memastikan bahwa karya siswa ini memang asli buatan mereka,” ujarnya.

Setelah itu, sekolah akan mencari tulisan yang terbaik di antara peserta lomba. “Semua siswa wajib untuk ikut. Jika untuk kegiatan Ramadan ini hanya diikuti siswa muslim saja,” ujarnya. Setelah dipilih karya terbaik, maka proses layout juga dilakukan siswa yang ikut dalam kegiatan ekstrakurikuler Teknologi dan Informasi.

“Proses layout sebelum dicetak juga dilakukan siswa TIK. Tentunya dengan dibimbing guru bidang studinya. Sedangkan yang menulis karya tidak dibatasi hanya dari siswa ekstra KIR. Tapi, semuanya bisa ikut menulis,” ujarnya.

Saat memulai program ini, Sudarmanto melibatkan perusahaan penerbitan swasta untuk mencetak 2 buku pertama. “Ini supaya buku yang diterbitkan memiliki ISBN (International Serial Book Number, Red). Baru setelah mengunjungi sekolah lain dan melakukan konsultasi, sebenarnya sekolah bisa menerbitkan buku sendiri. Tentunya, sekolah sebagai penerbit nonkomersial,” ujarnya.

Sudarmanto juga mempelajari terlebih dahulu mengenai penggunaan anggaran BOS. Pasalnya, kegiatan mencetak buku ini bersumber dari BOS. “Setelah dipelajari ternyata bisa digunakan dana BOS. Karena salah satu penggunaannya bisa untuk mencetak perlengkapan belajar siswa. Akhirnya, kami mendaftar ke perpustakaan nasional untuk mendapat ISBN,” ujarnya.

Sebagai penerbit nonkomersial, SMPN 7 menerbitkan buku berjudul Menggulung Lautan Sampah, Bahasaku Martabatku, Menggali Potensi Jaran Bodhag, dan Menapak Jejak Rasulullah SAW. “Kalau Surat Cinta untuk Rasulullah dan antologi puisi diterbitkan penerbit swasta. Waktu itu masih belum mengurus ISBN,” jelasnya.

Sejak September 2017, SMPN 7 sudah bisa mencetak dan menerbitkan buku secara resmi. “Biasanya jika tidak ada kegiatan khusus, buku dicetak hanya 20 eksemplar. Tapi, jika ada pameran pendidikan bisa sampai 200 eksemplar,” ujarnya. Program ini ternyata mendapat apresiasi positif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Salah satunya adalah penetapan SMP 7 sebagai sekolah rujukan nasional.

“Di Kota Probolinggo baru SMP 1 dan SMP 7 yang ditunjuk sekolah rujukan nasional,” ujarnya. Selain itu, dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur, SMPN 7 mendapatkan penghargaan sebagai sekolah yang menginspirasi. (rf)