alexametrics
28.9 C
Probolinggo
Wednesday, 16 June 2021
Desktop_AP_Top Banner

Kelompok Tani Mulyo Gondangwetan Sukses Budi Daya Pisang Cavendish

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Tidak hanya rasa pisang Cavendish yang manis. Sekumpulan petani di Desa Kalirejo, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, juga sudah merasakan manisnya keuntungan dari budi daya Cavendish. Omzetnya tidak main-main. Sebulan bisa menyentuh ratusan juta rupiah.

————–

GUYUB. Begitulah suasana sejumlah pria ketika berkumpul di rumah Muhammad Sidiq, menjelang Rabu siang (7/6). Pertemuan itu rutin digelar di hari Senin pertama setiap bulannya.

Beragam hal mereka bicarakan. Tentunya, tidak lepas dari pisang Cavendish. Salah satu komoditas buah tropis yang saat ini sedang banyak digemari. Juga mulai banyak dibudidayakan.

Termasuk sekelompok pria yang tergabung dalam Kelompok Tani Mulyo II ini. Sejak enam tahun terakhir, mereka membudidayakan Cavendish. Tepatnya sejak 2015.

Mulanya, Sidiq yang punya inisiatif menanam pisang Cavendish. Besar dari keluarga petani, Sidiq memang terbiasa beraktivitas di lahan pertanian maupun kebun.

Saat itu, dia tergiur akan permintaan pisang Cavendish yang tinggi di pasaran. Tidak hanya datang dari pasar lokal, juga dari pasar modern.

“Itu yang membuat saya tertarik untuk menanam Cavendish,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo.

Sidiq lantas memulai budi daya di lahan perkebunan seluas 0,5 hektare. Uji coba demi uji coba dia lakukan. Beragam sumber pun ia pelajari untuk menghasilkan pisang berkualitas. Mulus, besar, dan rasa yang enak.

DIBUNGKUS: Tingginya permintaan membuat kelompok tani Multo banjir omzet hingga ratusan juta rupiah. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Sebab, konsumen akan memilih pisang yang mulus bersih. Tidak yang berbintik, bergaris, hingga ukurannya berbeda.

“Jadi yang diminati, pisangnya mulus, mengkilat. Tentu rasanya sudah pasti mengikuti,” bebernya.

Agar hasilnya sesuai harapan, pisang yang sudah berbuah lebat harus langsung dibungkus plastik. Sehingga, tidak rusak jadi santapan hewan.

Asupan air di setiap pohon juga tidak kalah pentingnya. Kebersihan kebun dan pengairan tidak boleh dilewatkan. Termasuk pemupukan dan antisipasi hama.

Sebab, Cavendish memiliki aroma yang harum. Aromanya itu mengundang kupu-kupu datang. Jika tidak diantisipasi, kupu-kupu bisa datang hinggap. Lalu, bertelur dan berubah menjadi ulat.

Kalau sudah ada ulat, maka kulit pisang menjadi kotor. Tidak lagi bersih. Dengan kondisi yang tidak lagi bersih, bisa membuat harga jualnya turun.

Kini, Sidiq tidak sendiri lagi membudidayakan Cavendish. Ada sekitar 20 petani yang bergabung dengannya dalam Kelompok Tani Mulyo II di Desa Kalirejo.

Mereka berbagi tugas dalam budi daya itu. Ada yang setiap harinya di kebun. Mengairi pohon, merawan tanaman, dan membersihkan kebuh. Ada juga yang bertugas mengemas dan memasarkan.

“Sekarang sudah ada 15 hektare lahan yang kami kelola. Milik petani dikelola secara kolektif,” katanya.

Setiap hektare lahan, rata-rata dipenuhi 2 ribu pohon pisang. Pisang bisa dipanen sembilan bulan setelah masa tanam.

Keuntungan membudidayakan pisang Cavendish, kata Sidiq, bisa berlipat-lipat. Misalnya saja, dari setiap pohon yang ditanam bisa beranak sampai lima pohon.

Semuanya tidak ada yang terbuang. Ia biasanya hanya menyisakan dua pohon untuk dibiarkan tumbuh. Buahnya bisa dipanen empat bulan kemudian.

Nah, tiga pohon anakan lainnya bisa dijual. Jumlahnya bisa dua kali lipat lebih banyak dibanding pohon yang ditanam semula.

Tak hanya itu, Kelompok Tani Mulyo II juga mulai melebarkan daya produksinya. Caranya dengan menjalin kemitraan di beberapa wilayah.

Para petani yang memiliki lahan, bisa mengikuti metode budi daya pisang Cavendish ala Kelompok Tani Mulyo II. Lalu, hasil panennya dipasarkan kelompok tani tersebut.

“Sekarang sudah ada beberapa yang jadi mitra kami. Tersebar. Ada yang di Purwosari, Sidogiri, Rejoso, Grati. Juga di Kota Pasuruan,” bebernya.

Seksi Pemasaran Kelompok Tani Mulyo II M Nurullah Aji Saputra menambahkan, pemasaran pisang itu ia lakukan dengan beragam pola. Mulai door to door di kios-kios pasar lokal. Hingga melalui pasar induk atau pasar modern. Omzetnya bisa mencapai ratusan juta rupiah setiap bulannya.

“Kalau pemasaran sudah menyebar di daerah-daerah di Jawa Timur. Kemarin juga ada permintaan dari Jakarta,” ungkap dia. (tom/hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

Tidak hanya rasa pisang Cavendish yang manis. Sekumpulan petani di Desa Kalirejo, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, juga sudah merasakan manisnya keuntungan dari budi daya Cavendish. Omzetnya tidak main-main. Sebulan bisa menyentuh ratusan juta rupiah.

————–

GUYUB. Begitulah suasana sejumlah pria ketika berkumpul di rumah Muhammad Sidiq, menjelang Rabu siang (7/6). Pertemuan itu rutin digelar di hari Senin pertama setiap bulannya.

Mobile_AP_Half Page

Beragam hal mereka bicarakan. Tentunya, tidak lepas dari pisang Cavendish. Salah satu komoditas buah tropis yang saat ini sedang banyak digemari. Juga mulai banyak dibudidayakan.

Termasuk sekelompok pria yang tergabung dalam Kelompok Tani Mulyo II ini. Sejak enam tahun terakhir, mereka membudidayakan Cavendish. Tepatnya sejak 2015.

Mulanya, Sidiq yang punya inisiatif menanam pisang Cavendish. Besar dari keluarga petani, Sidiq memang terbiasa beraktivitas di lahan pertanian maupun kebun.

Saat itu, dia tergiur akan permintaan pisang Cavendish yang tinggi di pasaran. Tidak hanya datang dari pasar lokal, juga dari pasar modern.

“Itu yang membuat saya tertarik untuk menanam Cavendish,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo.

Sidiq lantas memulai budi daya di lahan perkebunan seluas 0,5 hektare. Uji coba demi uji coba dia lakukan. Beragam sumber pun ia pelajari untuk menghasilkan pisang berkualitas. Mulus, besar, dan rasa yang enak.

DIBUNGKUS: Tingginya permintaan membuat kelompok tani Multo banjir omzet hingga ratusan juta rupiah. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Sebab, konsumen akan memilih pisang yang mulus bersih. Tidak yang berbintik, bergaris, hingga ukurannya berbeda.

“Jadi yang diminati, pisangnya mulus, mengkilat. Tentu rasanya sudah pasti mengikuti,” bebernya.

Agar hasilnya sesuai harapan, pisang yang sudah berbuah lebat harus langsung dibungkus plastik. Sehingga, tidak rusak jadi santapan hewan.

Asupan air di setiap pohon juga tidak kalah pentingnya. Kebersihan kebun dan pengairan tidak boleh dilewatkan. Termasuk pemupukan dan antisipasi hama.

Sebab, Cavendish memiliki aroma yang harum. Aromanya itu mengundang kupu-kupu datang. Jika tidak diantisipasi, kupu-kupu bisa datang hinggap. Lalu, bertelur dan berubah menjadi ulat.

Kalau sudah ada ulat, maka kulit pisang menjadi kotor. Tidak lagi bersih. Dengan kondisi yang tidak lagi bersih, bisa membuat harga jualnya turun.

Kini, Sidiq tidak sendiri lagi membudidayakan Cavendish. Ada sekitar 20 petani yang bergabung dengannya dalam Kelompok Tani Mulyo II di Desa Kalirejo.

Mereka berbagi tugas dalam budi daya itu. Ada yang setiap harinya di kebun. Mengairi pohon, merawan tanaman, dan membersihkan kebuh. Ada juga yang bertugas mengemas dan memasarkan.

“Sekarang sudah ada 15 hektare lahan yang kami kelola. Milik petani dikelola secara kolektif,” katanya.

Setiap hektare lahan, rata-rata dipenuhi 2 ribu pohon pisang. Pisang bisa dipanen sembilan bulan setelah masa tanam.

Keuntungan membudidayakan pisang Cavendish, kata Sidiq, bisa berlipat-lipat. Misalnya saja, dari setiap pohon yang ditanam bisa beranak sampai lima pohon.

Semuanya tidak ada yang terbuang. Ia biasanya hanya menyisakan dua pohon untuk dibiarkan tumbuh. Buahnya bisa dipanen empat bulan kemudian.

Nah, tiga pohon anakan lainnya bisa dijual. Jumlahnya bisa dua kali lipat lebih banyak dibanding pohon yang ditanam semula.

Tak hanya itu, Kelompok Tani Mulyo II juga mulai melebarkan daya produksinya. Caranya dengan menjalin kemitraan di beberapa wilayah.

Para petani yang memiliki lahan, bisa mengikuti metode budi daya pisang Cavendish ala Kelompok Tani Mulyo II. Lalu, hasil panennya dipasarkan kelompok tani tersebut.

“Sekarang sudah ada beberapa yang jadi mitra kami. Tersebar. Ada yang di Purwosari, Sidogiri, Rejoso, Grati. Juga di Kota Pasuruan,” bebernya.

Seksi Pemasaran Kelompok Tani Mulyo II M Nurullah Aji Saputra menambahkan, pemasaran pisang itu ia lakukan dengan beragam pola. Mulai door to door di kios-kios pasar lokal. Hingga melalui pasar induk atau pasar modern. Omzetnya bisa mencapai ratusan juta rupiah setiap bulannya.

“Kalau pemasaran sudah menyebar di daerah-daerah di Jawa Timur. Kemarin juga ada permintaan dari Jakarta,” ungkap dia. (tom/hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2