alexametrics
31.7 C
Probolinggo
Monday, 16 May 2022

Cerita Juru Makam Korban Covid; Misteri Tangisan Tengah Malam Terungkap

Tubuhnya berkeringat. Dua tangan pemuda itu memegangi pucuk batu nisan yang hampir tenggelam oleh tanah kuburan. Sholihin nama pemuda tersebut. Di tempatnya bekerja, perjalanan hidup korban pandemi sampai pada titik akhir.

ROZI AL JUFRI, Pasuruan, Radar Bromo

SEBAGAI anak muda, Sholihin juga ingin sukses. Dia bercita-cita menjadi pegawai negeri yang berhasil dalam karir. Namun, jalan memang berbeda bagi dirinya. Pemuda 36 tahun itu merintis masa depan sebagai juru makam. Menjadi pekerja harian lepas (PHL) di UPT Pemakaman, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Pemkot Pasuruan. Dia jalani takdir itu.

Saya bersua Sholihin saat ”megengan” lalu. Kamis malam Jumat (31/3). Beberapa hari menjelang Ramadan 1443 H. Usai rehat siang. Sholihin tengah memegang cangkul di TPU Pohjentrek, Kecamatan Purworejo. Satu-satunya makam umum di Kota Pasuruan yang semua ”penghuninya” adalah korban Covid-19. Jumlahnya 101 kuburan. Penduduk Kota dan Kabupaten Pasuruan. Ada pula warga Surabaya dan Bandung. Di lahan seluas sekitar 1.000 meter persegi, mereka berdiam abadi. Menanti disambangi sanak famili.

PERLU PERBAIKAN: Makam yang batu nisannya hampir ambles. (Rozi Al Jufri/Jawa Pos Radar Bromo)

”Biasanya Kamis malam Jumat seperti ini banyak yang nyekar. Apalagi, sekarang Jumat terakhir (sebelum Puasa),” ungkap pemuda kelahiran 30 Desember 1986 tersebut.

Sholihin ramah kepada para peziarah. Juga ringan tangan. Biasanya, ada keluarga almarhum/almarhumah yang minta bantuannya untuk bersih-bersih pusara. Sebagian malah pesan by phone. Agar Sholihin menolong mereka saat tiba di kuburan. Yang lain cukup pinjam peralatan.

Tubuhnya berkeringat. Dua tangan pemuda itu memegangi pucuk batu nisan yang hampir tenggelam oleh tanah kuburan. Sholihin nama pemuda tersebut. Di tempatnya bekerja, perjalanan hidup korban pandemi sampai pada titik akhir.

ROZI AL JUFRI, Pasuruan, Radar Bromo

SEBAGAI anak muda, Sholihin juga ingin sukses. Dia bercita-cita menjadi pegawai negeri yang berhasil dalam karir. Namun, jalan memang berbeda bagi dirinya. Pemuda 36 tahun itu merintis masa depan sebagai juru makam. Menjadi pekerja harian lepas (PHL) di UPT Pemakaman, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Pemkot Pasuruan. Dia jalani takdir itu.

Saya bersua Sholihin saat ”megengan” lalu. Kamis malam Jumat (31/3). Beberapa hari menjelang Ramadan 1443 H. Usai rehat siang. Sholihin tengah memegang cangkul di TPU Pohjentrek, Kecamatan Purworejo. Satu-satunya makam umum di Kota Pasuruan yang semua ”penghuninya” adalah korban Covid-19. Jumlahnya 101 kuburan. Penduduk Kota dan Kabupaten Pasuruan. Ada pula warga Surabaya dan Bandung. Di lahan seluas sekitar 1.000 meter persegi, mereka berdiam abadi. Menanti disambangi sanak famili.

PERLU PERBAIKAN: Makam yang batu nisannya hampir ambles. (Rozi Al Jufri/Jawa Pos Radar Bromo)

”Biasanya Kamis malam Jumat seperti ini banyak yang nyekar. Apalagi, sekarang Jumat terakhir (sebelum Puasa),” ungkap pemuda kelahiran 30 Desember 1986 tersebut.

Sholihin ramah kepada para peziarah. Juga ringan tangan. Biasanya, ada keluarga almarhum/almarhumah yang minta bantuannya untuk bersih-bersih pusara. Sebagian malah pesan by phone. Agar Sholihin menolong mereka saat tiba di kuburan. Yang lain cukup pinjam peralatan.

MOST READ

BERITA TERBARU

/