alexametrics
25.2 C
Probolinggo
Sunday, 26 June 2022

Demi Kemanusiaan, Pemilik Rela Jadikan Hotel Semeru Tempat Isoter

Sejak awal Juli, Hotel Semeru di Jalan Veteran, Kelurahan Bugul Lor, Kecamatan Panggungrejo, menjadi tempat isolasi terpadu (isoter) bagi pasien Covid-19 di Kota Pasuruan. Namun, tidak semua pasien bisa dirawat di sini. Isoter hanya untuk mereka yang bergejala ringan dan orang tanpa gejala (OTG).

 

HOTEL Semeru menjadi satu-satunya hotel yang bersedia dijadikan isoter di Kota Pasuruan. Mulanya pada Mei, Pemkot Pasuruan menyampaikan pada seluruh hotel di kota bahwa pemerintah membutuhkan tempat isoter.

Saat itu, semua hotel menolak menjadi isoter. Namun, tim satgas penanganan Covid-19 Kota Pasuruan tidak menyerah. Sebulan kemudian atau pada akhir Juni, Kapolres Pasuruan Kota AKBP Arman menghubungi pihak Hotel Semeru. Kapolres lantas meminta pada pemilik Hotel Semeru, Budy Tjahjo Poernomo untuk datang ke rumah dinas wali kota di Jalan Panglima Sudirman.

“Mungkin karena Kapolres mengenal saya, makanya saya dihubungi beliau. Saat bertemu dengan tim satgas, mereka langsung meminta agar kami bersedia Hotel Semeru menjadi tempat isoter,” ungkap Budy saat ditemui di Hotel Semeru.

Karena dorongan hati nurani dan dukungan dari keluarga, ia pun bersedia menjadikan Hotel Semeru menjadi tempat isoter. Selama empat hari, pihaknya lantas berbenah untuk melengkapi fasilitas di hotel agar bisa mendukung isoter.

Mulai dari menambah closed circuit television (CCTV) di setiap ruangan, mesin cuci, hingga pagar pembatas antara isoter dengan tenaga kesehatan (nakes). Seluruh fasilitas tambahan ini murni disiapkan pihak hotel.

Dan pada 3 Juli, Hotel Semeru mulai jadi tempat isoter. Pada hari pertama, ada lebih dari 30 orang yang dirawat di tempat ini. Setiap warga yang dirawat di Hotel Semeru mendapatkan makan dan obat serta vitamin tiga kali sehari dari Dinas Kesehatan (Dinkes).

“Selama empat hari kami menyiapkan Hotel Semeru menjadi tempat isoter. Ini murni karena atas dasar kemanusiaan. Kami ingin membantu pemerintah agar pandemi segera berakhir,”jelasnya.

Hotel Semeru memiliki 68 kamar yang setiap kamar, masing-masing dihuni oleh dua orang. Sehingga, total maksimal hunian adalah 136 orang. Agar mendukung isoter secara maksimal, Hotel Semeru juga menyediakan satu kamar mandi di setiap kamar hunian. Sehingga, bisa memudahkan warga selama dirawat di sana.

DORONGAN NURANI: Aktivitas di Hotel Semeru Park. Nampak warga yang positif Covid-19 melakukan aktivitas. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

“Masyarakat juga sering langsung menghubungi kami atau pribadi ke saya. Ini biasanya saat mereka tahu ada tetangganya yang kena Covid dan bingung mau melakukan apa,” sebut adik dari anggota DPRD Kota Pasuruan, Dedy Tjahjo Poernomo ini.

Koordinator Rumah Isolasi Riza Khoiriya menambahkan, tidak semua warga yang terpapar Covid bisa dirawat di Hotel Semeru. Mereka yang dirawat di Hotel Semeru adalah OTG dan bergejala ringan. Sementara warga dengan gejala sedang hingga berat diisolasi di rumah sakit.

Lamanya isolasi bagi OTG dihitung selama 10 hari mulai dari pengambilan tes PCR. Sementara bagi yang bergejala, penghitungannya 13 hari sejak pengambilan tes. Sebab, setelah dua minggu, virus sudah tidak bisa menularkan. Hanya tersisa bangkai virus saja.

“Isoter juga masih memperhitungkan ketersediaan ruangan tempat isoter. Sebab, satgas harus menyediakan tempat cadangan sebanyak empat kamar tidur bagi pasien yang kondisinya membaik dan berganti dengan gejala ringan sebelum 13 hari dari rumah sakit,” terang Riza. (riz/hn)

Sejak awal Juli, Hotel Semeru di Jalan Veteran, Kelurahan Bugul Lor, Kecamatan Panggungrejo, menjadi tempat isolasi terpadu (isoter) bagi pasien Covid-19 di Kota Pasuruan. Namun, tidak semua pasien bisa dirawat di sini. Isoter hanya untuk mereka yang bergejala ringan dan orang tanpa gejala (OTG).

 

HOTEL Semeru menjadi satu-satunya hotel yang bersedia dijadikan isoter di Kota Pasuruan. Mulanya pada Mei, Pemkot Pasuruan menyampaikan pada seluruh hotel di kota bahwa pemerintah membutuhkan tempat isoter.

Saat itu, semua hotel menolak menjadi isoter. Namun, tim satgas penanganan Covid-19 Kota Pasuruan tidak menyerah. Sebulan kemudian atau pada akhir Juni, Kapolres Pasuruan Kota AKBP Arman menghubungi pihak Hotel Semeru. Kapolres lantas meminta pada pemilik Hotel Semeru, Budy Tjahjo Poernomo untuk datang ke rumah dinas wali kota di Jalan Panglima Sudirman.

“Mungkin karena Kapolres mengenal saya, makanya saya dihubungi beliau. Saat bertemu dengan tim satgas, mereka langsung meminta agar kami bersedia Hotel Semeru menjadi tempat isoter,” ungkap Budy saat ditemui di Hotel Semeru.

Karena dorongan hati nurani dan dukungan dari keluarga, ia pun bersedia menjadikan Hotel Semeru menjadi tempat isoter. Selama empat hari, pihaknya lantas berbenah untuk melengkapi fasilitas di hotel agar bisa mendukung isoter.

Mulai dari menambah closed circuit television (CCTV) di setiap ruangan, mesin cuci, hingga pagar pembatas antara isoter dengan tenaga kesehatan (nakes). Seluruh fasilitas tambahan ini murni disiapkan pihak hotel.

Dan pada 3 Juli, Hotel Semeru mulai jadi tempat isoter. Pada hari pertama, ada lebih dari 30 orang yang dirawat di tempat ini. Setiap warga yang dirawat di Hotel Semeru mendapatkan makan dan obat serta vitamin tiga kali sehari dari Dinas Kesehatan (Dinkes).

“Selama empat hari kami menyiapkan Hotel Semeru menjadi tempat isoter. Ini murni karena atas dasar kemanusiaan. Kami ingin membantu pemerintah agar pandemi segera berakhir,”jelasnya.

Hotel Semeru memiliki 68 kamar yang setiap kamar, masing-masing dihuni oleh dua orang. Sehingga, total maksimal hunian adalah 136 orang. Agar mendukung isoter secara maksimal, Hotel Semeru juga menyediakan satu kamar mandi di setiap kamar hunian. Sehingga, bisa memudahkan warga selama dirawat di sana.

DORONGAN NURANI: Aktivitas di Hotel Semeru Park. Nampak warga yang positif Covid-19 melakukan aktivitas. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

“Masyarakat juga sering langsung menghubungi kami atau pribadi ke saya. Ini biasanya saat mereka tahu ada tetangganya yang kena Covid dan bingung mau melakukan apa,” sebut adik dari anggota DPRD Kota Pasuruan, Dedy Tjahjo Poernomo ini.

Koordinator Rumah Isolasi Riza Khoiriya menambahkan, tidak semua warga yang terpapar Covid bisa dirawat di Hotel Semeru. Mereka yang dirawat di Hotel Semeru adalah OTG dan bergejala ringan. Sementara warga dengan gejala sedang hingga berat diisolasi di rumah sakit.

Lamanya isolasi bagi OTG dihitung selama 10 hari mulai dari pengambilan tes PCR. Sementara bagi yang bergejala, penghitungannya 13 hari sejak pengambilan tes. Sebab, setelah dua minggu, virus sudah tidak bisa menularkan. Hanya tersisa bangkai virus saja.

“Isoter juga masih memperhitungkan ketersediaan ruangan tempat isoter. Sebab, satgas harus menyediakan tempat cadangan sebanyak empat kamar tidur bagi pasien yang kondisinya membaik dan berganti dengan gejala ringan sebelum 13 hari dari rumah sakit,” terang Riza. (riz/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/