M Syukron Eko, Mahasiswa UMM Pembuat Kapal Selam Tanpa Awak asal Kejayan

Prestasi membanggakan disumbangkan warga Kabupaten Pasuruan untuk negeri ini. Muhammad Syukron Eko, 29, berhasil membuat alutsista berupa kapal selam tanpa awak. Hasil penelitiannya ini sudah dipamerkan pada Panglima TNI. Dan saat ini terus dikembangkan dengan dana penelitian dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

————

Minggu (4/8) siang itu, Muhammad Syukron sedang sharing dengan ratusan pelajar SMA/SMK di SMAN 1 Bangil. Warga Pacarkeling, Kejayan, Kabupaten Pasuruan, itu diundang untuk memberikan pengalaman kuliah pada para pelajar tersebut.

Syukron sendiri kuliah S-1 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Namun, dia juga anggota Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Sebab, Syukron memang pernah kuliah di Polandia.

KARYA: M. Syukron Eko membawa karyanya, kapal selam tanpa awak di Kementerian Kelautan dan Perikanan pada Juli 2019 dalam acara “Plastik Waste is the Problem and the Solution” bersama Race for Water, Prancis. (Dok. Pribadi)

Dari hasil belajar di sana, dia menghasilkan penelitian untuk skripsinya tentang Rancang Bangun Remotely Operated Vehicle (ROV). Yaitu, alat utama sistem persenjataan (alutsista) berupa kapal selam tanpa awak.

Pria 29 tahun ini bercerita, sejak kecil memang menyukai teknologi. Bahkan, saat kecil dia sering membongkar alat-alat elektronik. Seperti radio.

“Dulu saat kecil, kalau mau bongkar-bongkar barang elektronik, seperti radio atau tv, harus kunci pintu kamar dulu. Biar enggak dimarahi. Tapi dulu karena ingin tahu aja isi di dalamnya seperti apa,” terangnya.

Putra pasangan suami istri Machfudz – Dewi ini akhirnya membeli buku reparasi TV saat SMP. Tujuannya, agar bisa membongkar pasang televisi.

Lulusan MTs Al Yasini, Kraton, itu kemudian meneruskan ke SMKN 1 Purwosari. Saat SMK, dia memilih jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) sesuai passion-nya. Di SMK itu pula, Syukron belajar robotika.

Saat SMK pula, Syukron merasa harus meneruskan belajar ke luar negeri. “Karena saya merasa di Amerika dan Eropa, ilmu teknologi lebih maju. Saya pun mengungangkapkan ke orang tua. Dan orang tua setuju dengan rencana saya itu,” terangnya.

Akhirnya Syukron mengajukan beasiswa ke American Fields Service (AFS) Intercultural Program. “Tapi, saat itu bahasa Inggris saya termasuk lemah. Akhirnya tak lolos sampai tahap akhir. Hal itu kemudian memacu saya untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris,” terangnya.

Setelah lulus SMK, Syukron akhirnya belajar bahasa Inggris dua tahun di Pare, Kediri. Lalu melanjutkan kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jurusan Teknik Informatika.

Saat semester 7, Syukron mengikuti study exchange di Politechnika Lubelska Polandia, jurusan Computer Science. Syukron pun diterima. Di Polandia, dia belajar selama satu tahun. Yaitu, tahun 2013-2014.

“Saat di Polandia itu, banyak pengalaman yang saya dapat. Salah satunya mendapatkan ide untuk membuat skripsi tentang kapal selam tanpa awak,” terangnya.

Ide itu datang saat Syukron sedang ke Museum Auschwitz di Jerman. Saat melihat kecanggihan teknologi perang, terbesitlah keinginannya untuk membuat kapal selam tanpa awak.

Saat kembali ke Indonesia, dia menyodorkan proposal ujian skripsi tentang pembuatan kapal selam tanpa awak. Namun, proposal itu sempat dipandang remeh karena dianggap terlalu sulit.

“Ada dosen pembimbing yang mendukung, ada juga yang meremehkan. Katanya usulan saya terlalu sulit bagi mahasiswa S-1. Katanya itu untuk kelas magister,” terangnya.

Saat ujian proposal skripsi diterima, diakui bahwa penelitiannya itu memang cukup sulit. Bahkan, Syukron butuh waktu 1,5 tahun untuk menyelesaikannya. Namun, pada akhirnya skripsinya ini mendapatkan nilai sempurna dari dosen pembimbingnya.

Menurutnya, kapal selam tanpa awak sebagai alutsista di Indonesia belum pernah ada. “Kalau robot tanpa awak di laut sudah ada. Biasanya untuk perusahaan minyak dan eksplorasi laut,” terangnya.

Kapal selam tanpa awak sebagai alutsista ini, nantinya tidak hanya unutk eksplorasi laut. Tapi, juga sebagai pemantau, penyerangan, dan survilence atau pengintaian tsunami.

Selain waktu penelitian yang lama. Syukron butuh modal tidak sedikit untuk penelitian ini. Dia menghabiskan sekitar Rp 10 juta untuk perakitan mesinnya.

Untuk membiayai skripsinya itu, Syukron pun harus mencari uang sendiri. Sebab, orang tuanya hanyalah pedagang sembako.

Syukron pun berjualan es jus di tengah kesibukannya sebagai mahasiwa. Selama dua bulan, aktivitas itu dilakoninya. Namun, musibah datang. Gerobak jus yang dipakainya untuk jualan dicuri orang.

“Saat itu saya hampir drop, stres juga. Orang tua saya kasihan melihat saya stres. Akhirnya sebagian kebutuhan biaya untuk penelitian dibantu orang tua,” terangnya.

Selama penelitian, kapal selam tanpa awak yang masih prototipe itu memakai drone yang dipasangi hardware Ardu Pilot Mega (APM). Selain dipasang GPS dan Akselorometer untuk kemiringan, kapal selam juga dilapisi pipa PVC. Saat itu kapal selam mampu menyelam sampai 1 meter.

“Saat ini, untuk sementara kapal selam prototipe masih bergerak naik–turun, ke kiri–kanan, ambil sampel air, menyalakan senter, ambil gambar dan video,” ujarnya.

Karena masih prototipe, kapal selam tanpa awak buatanya ini masih bisa terus dikembangkan. Termasuk memasang amunisi untuk menyerang.

Setelah lulus dari UMM, Syukron terus mengembangkan ciptaannya tersebut. Termasuk membuat proyek lain, seperti robot yang bisa menulis dan menggambar. Karyanya itu lantas dijual secara mandiri.

Setelah lulus, Syukron juga sempat kembali ke Polandia setahun dan berencana melanjutkan magister di sana. “Tapi, setelah belajar bahasa setahun di sana, saya kembali ke Indonesia. Dan berniat mencari beasiswa lain,” terangnya.

Saat ini Syukron menjadi Ketua Lembaga Pengembangan Teknologi Pertahanan Maritim di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Hasil penelitian kapal selam miliknya itu, mendapatkan bantuan dana penelitian Rp 50 juta dari UMM. Sehingga, prototipe kapal selam tanpa awak itu, saat ini sudah jauh berbeda. Bentuknya mirip roket dengan dimensi 1 meter dan 3 dim.

Pada April 2019, Syukron bertemu dengan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. Dia mempresentasikan karyanya di depan Palingma TNI.

“Saat itu saya ditawari untuk menjadi anggota TNI di Dislitbang TNI. Di sana, saya bisa melanjutkan karya saya. Tapi, masih saya pikirkan karena saya masih ingin sekolah S-2,” terangnya.

Saat ini, Syukron sudah mengajukan beasiswa magister di Amerika dan Turki. Dan, tinggal menunggu pengumuman pada bulan September mendatang. Saat diterima nanti, dia ingin melanjutkan karyanya menjadi tesis.

Syukron juga mempunyai mimpi, setelah nanti lulus akan membuat perusahaan alutsista di Indonesia. “Setelah lulus S-2 saya ingin membuat perusahaan alutsista dan fokus ke Pertahanan,” ungkapnya. (eka/fun)