alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Friday, 19 August 2022

Padhang Howo, Sisipkan Pesan Ulama-Umara melalui Lagu

Embrio grup Padhang Howo ini bermula dari kegemaran Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf terhadap Kiai Kanjeng milik Emha Ainun Najib. Jauh sebelum berpolitik, Irsyad menjadi distributor kaset (pita) Kiai Kanjeng.

—————-

Grup musik Padhang Howo resmi terbentuk pada 2013. Meski baru enam tahun, nama Padhang Howo di ajang kesenian tidak bisa dipandang remeh. Sebagai bukti, grup yang kini personelnya mencapai 25 orang ini kerap diundang di acara besar.

Mulai dari hajat pernikahan atau acara pengajian akbar hingga haul tokoh penting di Indonesia. Ketika tampil, penonton atau jamaah yang datang selalu terbius dengan penampilannya. Gabungan antara musik religi, seni hadrah, salawat Nabi yang sesekali diselingi musik pop atau dangdut, kian membuat penonton terkesima.

Tilik saja ketika Pemkab Pasuruan menggelar Hari Jadi ke 1.089. Padhang Howo yang tampil di awal hingga pertengahan acara membuat jamaah ikut bersawalat. Demikian juga ketika ikut mengisi acara Haul K.H. Abdurrahman Wahid. Jamaah khusyuk dan merasa terhibur. Inilah yang menjadi kekuatan Padhang Howo.

“Seperti tujuan awal dibentuk. Grup ini awalnya memang untuk mengisi kejenuhan. Namun, di dalamnya sekaligus untuk syiar kebajikan dan dakwah,” ujar Irsyad yang kini menjadi pembina Padhang Howo.

Melalui lagunya, Padhang Howo juga kerap menyisipkan pesan-pesan ulama dan umara. Termasuk program pemerintahan. Terutama, ketika Irsyad resmi menjadi Bupati Pasuruan periode pertama usai terpilih pada 2013. Salah satunya seperti lagu Pasuruan Gumuyu.

Pasuruan Gumuyu sejatinya tak berbeda dengan salawatan. Namun, dengan berbagai kreasi dan lirik yang digubah, lagu ini memiliki pesan khusus untuk rakyat dan pemerintahan. Namun, masih kental dengan nuansa religi. Lagu ciptaan Irsyad ini kini banyak dikenal masyarakat Kabupaten Pasuruan. Bahkan, banyak dipakai ASN Kabupaten Pasuruan sebagai nada dering ponsel.

Bukan hanya Pasuruan Gumuyu. Lagu lainnya seperti di album terbaru bertajuk Penawar Rindu. Nyanyian yang diiringi dengan gamelan dan alat musik lainnya itu, seakan ingin mengajak agar yang mendengar selalu ingat Tuhan. “Ada pesan-pesan yang ingin disampaikan dan pesan itu melalui musik,” ujar Irsyad.

Tak berbeda dengan Kiai Kanjeng yang sudah dikenal di nusantara. Konsep Padhang Howo memang mirip. Ini, juga dilandasi dengan kekaguman Irsyad terhadap Emha Ainun Najib. Suka dengan seni, namun saat tampil di hadapan penonton bisa sembari berdakwah.

Irsyad memang menjadi motor berdirinya Padhang Howo. Jauh sebelum terbentuk, Irsyad juga pernah punya grup musik, Kenthonk Tetek. Grup yang berlokasi di Marropuro, Purwosari, ini juga sering mengisi acara salawatan di kampung-kampung. “Saya penggemar Kiai Kanjeng. Bahkan, dulu distributor kaset yang masih berupa pita,” ujarnya.

Saat mulai berpolitik dan menjadi anggota legislatif, Irsyad menggagas Padhang Howo. Nama ini diambil dari sebuah warung kopi yang terkenal di Kota Pasuruan. Terkenal karena di warung kopi ini menjadi tempat kumpul yang tak mengenal batas. Pejabat dan rakyat berkumpul dan di warung kopi ini, isu-isu di pemerintahan dibahas.

“Karena menjadi tempat yang tak mengenal jabatan, maka nama itu disepakati,” imbuh Koordinator Padhang Howo Ubaidillah.

Personel Padhang Howo, diakui Ubaidillah, juga senang dengan musik. Saat kali pertama dibentuk, mereka merupakan para pemuda yang gemar bermusik dan masih “liar.”

“Bagaimana tidak, dulu kami masih berlatih musik sembari minum bir, itu sudah biasa. Tapi, ketika dibina Gus Irsyad Yusuf dan konsep Padhang Howo terbentuk, pelan-pelan kami mulai hijrah. Teman-teman juga senada. Lebih religius,” jelas Ubaidillah.

Setelah terbentuk pada 18 September 2013, Padhang Howo mulai sering berlatih. Meski belum memiliki instrumen lengkap dan harus meminjam. “Tapi, karna yang back up Gus Irsyad, pelan-pelan alat musik dilengkapi. Kami juga mulai banyak dapat undangan,” ujar Ubaidillah.

Bahkan, Irsyad juga sering hadir di tengah-tengah masyarakat saat Padhang Howo tampil. Tak sekadar bersalawat, beberpa kali orang nomor satu di Kabupaten Pasuruan tersebut juga tampil bermain musik.

Padhang Howo juga kerap featuring dengan grup musik terkenal lainnya. Beberapa kali saat Pemkab Pasuruan promosi ke luar daerah, Padhang Howo ikut. Setidaknya sudah ada 3 album yang dirilis dari label record. Pertama, Munajat; ke dua, Cincin Zaman; dan ke tiga, Penawar Rindu. Di luar tiga album itu, sudah banyak lagu atau klip yang dibuat.

Album Cincin Zaman sangat istimewa karena di dalam album itu, Irsyad duet langsung dengan vocalis Kiai Kanjeng, almarhum Ustad Zainul Arifin. Kurun waktu beberapa tahun terakhir, Padhang Howo kerap diundang menjadi bintang tamu acara Ramadan Festival yang digelar Jawa Pos.

Kedekatan Padhang Howo dengan Kiai Kanjeng, juga sudah lama. Sudah beberapa kali Padhang Howo tampil bersama Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto. “Mas Sabrang juga sangat antusias dengan Padhang Howo. Pernah beberapa kali menawarkan diri untuk ikut mentas bareng. Dia enggan dibayar, terutama jika tampil bersama Padhang Howo,” ujar Ubaidillah sembari diamini Irsyad.

Padhang Howo yang kini sudah banyak memiliki fans, tetap serius berlatih. Hampir setiap kali tampil di acara pentas atau undangan, selalu ada jamaah atau fans yang menunggu. Ikut bersalawat menyebarkan lagu-lagu cinta Rasulullah Muhammad SAW.

“Prinsipnya, kami tak komersial. Di dalam grup, ada yang keluar dan masuk itu sudah biasa. Tapi, di Padhang Howo, inilah kami bisa memberikan pesan-pesan ke masyarakat untuk ikut syiar dan dakwah melalui musik. Mati sudah pasti, sayang kalau kita tidak mampu memberi arti,” ujar Irsyad. (fun/rud)

Embrio grup Padhang Howo ini bermula dari kegemaran Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf terhadap Kiai Kanjeng milik Emha Ainun Najib. Jauh sebelum berpolitik, Irsyad menjadi distributor kaset (pita) Kiai Kanjeng.

—————-

Grup musik Padhang Howo resmi terbentuk pada 2013. Meski baru enam tahun, nama Padhang Howo di ajang kesenian tidak bisa dipandang remeh. Sebagai bukti, grup yang kini personelnya mencapai 25 orang ini kerap diundang di acara besar.

Mulai dari hajat pernikahan atau acara pengajian akbar hingga haul tokoh penting di Indonesia. Ketika tampil, penonton atau jamaah yang datang selalu terbius dengan penampilannya. Gabungan antara musik religi, seni hadrah, salawat Nabi yang sesekali diselingi musik pop atau dangdut, kian membuat penonton terkesima.

Tilik saja ketika Pemkab Pasuruan menggelar Hari Jadi ke 1.089. Padhang Howo yang tampil di awal hingga pertengahan acara membuat jamaah ikut bersawalat. Demikian juga ketika ikut mengisi acara Haul K.H. Abdurrahman Wahid. Jamaah khusyuk dan merasa terhibur. Inilah yang menjadi kekuatan Padhang Howo.

“Seperti tujuan awal dibentuk. Grup ini awalnya memang untuk mengisi kejenuhan. Namun, di dalamnya sekaligus untuk syiar kebajikan dan dakwah,” ujar Irsyad yang kini menjadi pembina Padhang Howo.

Melalui lagunya, Padhang Howo juga kerap menyisipkan pesan-pesan ulama dan umara. Termasuk program pemerintahan. Terutama, ketika Irsyad resmi menjadi Bupati Pasuruan periode pertama usai terpilih pada 2013. Salah satunya seperti lagu Pasuruan Gumuyu.

Pasuruan Gumuyu sejatinya tak berbeda dengan salawatan. Namun, dengan berbagai kreasi dan lirik yang digubah, lagu ini memiliki pesan khusus untuk rakyat dan pemerintahan. Namun, masih kental dengan nuansa religi. Lagu ciptaan Irsyad ini kini banyak dikenal masyarakat Kabupaten Pasuruan. Bahkan, banyak dipakai ASN Kabupaten Pasuruan sebagai nada dering ponsel.

Bukan hanya Pasuruan Gumuyu. Lagu lainnya seperti di album terbaru bertajuk Penawar Rindu. Nyanyian yang diiringi dengan gamelan dan alat musik lainnya itu, seakan ingin mengajak agar yang mendengar selalu ingat Tuhan. “Ada pesan-pesan yang ingin disampaikan dan pesan itu melalui musik,” ujar Irsyad.

Tak berbeda dengan Kiai Kanjeng yang sudah dikenal di nusantara. Konsep Padhang Howo memang mirip. Ini, juga dilandasi dengan kekaguman Irsyad terhadap Emha Ainun Najib. Suka dengan seni, namun saat tampil di hadapan penonton bisa sembari berdakwah.

Irsyad memang menjadi motor berdirinya Padhang Howo. Jauh sebelum terbentuk, Irsyad juga pernah punya grup musik, Kenthonk Tetek. Grup yang berlokasi di Marropuro, Purwosari, ini juga sering mengisi acara salawatan di kampung-kampung. “Saya penggemar Kiai Kanjeng. Bahkan, dulu distributor kaset yang masih berupa pita,” ujarnya.

Saat mulai berpolitik dan menjadi anggota legislatif, Irsyad menggagas Padhang Howo. Nama ini diambil dari sebuah warung kopi yang terkenal di Kota Pasuruan. Terkenal karena di warung kopi ini menjadi tempat kumpul yang tak mengenal batas. Pejabat dan rakyat berkumpul dan di warung kopi ini, isu-isu di pemerintahan dibahas.

“Karena menjadi tempat yang tak mengenal jabatan, maka nama itu disepakati,” imbuh Koordinator Padhang Howo Ubaidillah.

Personel Padhang Howo, diakui Ubaidillah, juga senang dengan musik. Saat kali pertama dibentuk, mereka merupakan para pemuda yang gemar bermusik dan masih “liar.”

“Bagaimana tidak, dulu kami masih berlatih musik sembari minum bir, itu sudah biasa. Tapi, ketika dibina Gus Irsyad Yusuf dan konsep Padhang Howo terbentuk, pelan-pelan kami mulai hijrah. Teman-teman juga senada. Lebih religius,” jelas Ubaidillah.

Setelah terbentuk pada 18 September 2013, Padhang Howo mulai sering berlatih. Meski belum memiliki instrumen lengkap dan harus meminjam. “Tapi, karna yang back up Gus Irsyad, pelan-pelan alat musik dilengkapi. Kami juga mulai banyak dapat undangan,” ujar Ubaidillah.

Bahkan, Irsyad juga sering hadir di tengah-tengah masyarakat saat Padhang Howo tampil. Tak sekadar bersalawat, beberpa kali orang nomor satu di Kabupaten Pasuruan tersebut juga tampil bermain musik.

Padhang Howo juga kerap featuring dengan grup musik terkenal lainnya. Beberapa kali saat Pemkab Pasuruan promosi ke luar daerah, Padhang Howo ikut. Setidaknya sudah ada 3 album yang dirilis dari label record. Pertama, Munajat; ke dua, Cincin Zaman; dan ke tiga, Penawar Rindu. Di luar tiga album itu, sudah banyak lagu atau klip yang dibuat.

Album Cincin Zaman sangat istimewa karena di dalam album itu, Irsyad duet langsung dengan vocalis Kiai Kanjeng, almarhum Ustad Zainul Arifin. Kurun waktu beberapa tahun terakhir, Padhang Howo kerap diundang menjadi bintang tamu acara Ramadan Festival yang digelar Jawa Pos.

Kedekatan Padhang Howo dengan Kiai Kanjeng, juga sudah lama. Sudah beberapa kali Padhang Howo tampil bersama Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto. “Mas Sabrang juga sangat antusias dengan Padhang Howo. Pernah beberapa kali menawarkan diri untuk ikut mentas bareng. Dia enggan dibayar, terutama jika tampil bersama Padhang Howo,” ujar Ubaidillah sembari diamini Irsyad.

Padhang Howo yang kini sudah banyak memiliki fans, tetap serius berlatih. Hampir setiap kali tampil di acara pentas atau undangan, selalu ada jamaah atau fans yang menunggu. Ikut bersalawat menyebarkan lagu-lagu cinta Rasulullah Muhammad SAW.

“Prinsipnya, kami tak komersial. Di dalam grup, ada yang keluar dan masuk itu sudah biasa. Tapi, di Padhang Howo, inilah kami bisa memberikan pesan-pesan ke masyarakat untuk ikut syiar dan dakwah melalui musik. Mati sudah pasti, sayang kalau kita tidak mampu memberi arti,” ujar Irsyad. (fun/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/