alexametrics
27.2 C
Probolinggo
Sunday, 29 May 2022

Masih Muda, Ning Nia Jadi Pendidik di MTs-MA Unggulan Ponpes Singa Putih

SEBAGAI anak pertama KH Muhammad Syaifullah Arif Billah, pendiri dan pengasuh Ponpes Singa Putih Munfaridin (SPM), Ning Zainiatul Firdaus memegang peran penting. Menjadi ketua pondok putri sekaligus mendidik santri.

Begitu menuntaskan skripsi dan lulus dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ning Nia -panggilan Zainiatul Firdaus- bergelar sarjana. Pada 2018, ning berusia 28 itu mengabdi di Ponpes Singa Putih Munfaridin, Dusun Sentong, Desa Lumbangrejo, Kecamatan Prigen.

Di tahun tersebut, dia didapuk sebagai ketua pondok putri. Kala itu, pondok putri masih dirintis atau baru berdiri. Adapun Ponpes SPM sudah berdiri pada 1994. ”Mengabdi mulai 2018. Belum menikah. Waktu itu semester akhir sekaligus mengerjakan skripsi,” tutur Ning Nia.

SANTRIWATI: Ning Zainiatul Firdaus yang menjadi pendidik di Ponpes Singa Putih Munfaridin, Dusun Sentong, Desa Lumbangrejo, Kecamatan Prigen. (Foto: Rizal: F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Setelah lulus kuliah dan menikah, dia menjalahi hidup berumah tangga dengan Ahmad Adib Mutaali. Tugas dan peran serta pengabdiannya di SPM bertambah kuat. Pondok putri di SPM semakin eksis hingga sekarang.

Ning Nia merupakan generasi kedua atau penerus pertama di SPM. Dia adalah anak pertama di antara tiga bersaudara. Putri pasangan suami-istri (pasutri) KH Muhammad Syaifullah Arif Billah dan Hj Ismatul Qudsiyah.

Bisa dikatakan, kehidupan sehari-hari Ning Nia lebih banyak berada di lingkungan ponpes. Pagi sampai siang menjadi pengajar di MTs dan MA Unggulan Singa Putih. Kemudian, sore dan malam hari mengajar para santriwati di asrama pondok putri.

”Sehari-hari fokus di pondok. Kalau di sekolah, mengajar fiqih saja. Sedangkan di asrama pondok putri, mengajar tafsir dan akhlak,” beber ibu dua anak itu lantas tersenyum.

SEBAGAI anak pertama KH Muhammad Syaifullah Arif Billah, pendiri dan pengasuh Ponpes Singa Putih Munfaridin (SPM), Ning Zainiatul Firdaus memegang peran penting. Menjadi ketua pondok putri sekaligus mendidik santri.

Begitu menuntaskan skripsi dan lulus dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ning Nia -panggilan Zainiatul Firdaus- bergelar sarjana. Pada 2018, ning berusia 28 itu mengabdi di Ponpes Singa Putih Munfaridin, Dusun Sentong, Desa Lumbangrejo, Kecamatan Prigen.

Di tahun tersebut, dia didapuk sebagai ketua pondok putri. Kala itu, pondok putri masih dirintis atau baru berdiri. Adapun Ponpes SPM sudah berdiri pada 1994. ”Mengabdi mulai 2018. Belum menikah. Waktu itu semester akhir sekaligus mengerjakan skripsi,” tutur Ning Nia.

SANTRIWATI: Ning Zainiatul Firdaus yang menjadi pendidik di Ponpes Singa Putih Munfaridin, Dusun Sentong, Desa Lumbangrejo, Kecamatan Prigen. (Foto: Rizal: F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Setelah lulus kuliah dan menikah, dia menjalahi hidup berumah tangga dengan Ahmad Adib Mutaali. Tugas dan peran serta pengabdiannya di SPM bertambah kuat. Pondok putri di SPM semakin eksis hingga sekarang.

Ning Nia merupakan generasi kedua atau penerus pertama di SPM. Dia adalah anak pertama di antara tiga bersaudara. Putri pasangan suami-istri (pasutri) KH Muhammad Syaifullah Arif Billah dan Hj Ismatul Qudsiyah.

Bisa dikatakan, kehidupan sehari-hari Ning Nia lebih banyak berada di lingkungan ponpes. Pagi sampai siang menjadi pengajar di MTs dan MA Unggulan Singa Putih. Kemudian, sore dan malam hari mengajar para santriwati di asrama pondok putri.

”Sehari-hari fokus di pondok. Kalau di sekolah, mengajar fiqih saja. Sedangkan di asrama pondok putri, mengajar tafsir dan akhlak,” beber ibu dua anak itu lantas tersenyum.

MOST READ

BERITA TERBARU

/