alexametrics
28 C
Probolinggo
Monday, 17 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Ketika Duet Yusuf Bersaudara Pimpin Kota-Kabupaten Pasuruan

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Kabupaten dan Kota Pasuruan kini dipimpin Yusuf bersaudara. Irsyad Yusuf menjadi Bupati Pasuruan. Sedangkan kakaknya, Saifullah Yusuf menjabat sebagai Wali Kota Pasuruan. Komunikasi dua kepala daerah itu kini lebih cair. Keduanya saling memotivasi, saling memberi masukan.

 

GUS Ipul sama sekali tak merasa canggung lantaran luas wilayah yang dipimpinnya jauh lebih kecil ketimbang wilayah yang dipimpin adiknya. Baginya, hal itu tidak menjadi persoalan substantif.

“Saya merasa terhormat ya telah diberi mandat untuk melakukan perubahan di Kota Pasuruan,” katanya.

Sejak awal, Gus Ipul bahkan sudah meyakinkan diri. Bahwa kehadirannya di Kota Pasuruan semata-mata untuk mengabdi. Dia juga punya keinginan kuat untuk membawa perubahan bagi Kota Pasuruan menjadi lebih maju. “Kami ingin mengajak warga kota untuk mengejar ketertinggalan,” ujarnya.

Baginya, luas wilayah yang dipimpin bukan yang utama. Keputusannya untuk maju dalam kontestasi politik Kota Pasuruan, lantaran dorongan para kiai. Dia menganggap, hal itu sebagai panggilan untuk “pulang kampung”. Tentu saja dia harus menyingsingkan lengan. Menyelesaikan setumpuk persoalan di kota yang meliputi empat kecamatan ini.

“Amanah itu nggak memandang luas wilayah. Dimanapun, kalau kita diberi amanah ya harus dijalankan sepenuh hati dan sungguh-sungguh,” jelasnya.

Meski kini ia dan adiknya telah berduet sebagai kepala daerah di Pasuruan, Gus Ipul menegaskan bahwa norma-norma dalam tata kelola pemerintahan tetap berjalan semestinya. Hanya saja, dia mengaku memang perlu menjalin komunikasi yang baik dengan daerah-daerah tetangga. Terutama daerah perbatasan. “Yang juga penting itu membangun komunikasi untuk bersinergi,” katanya.

Komunikasi antar daerah menjadi kunci utama untuk menyelesaikan persoalan bersama. Misalnya, banjir. Bencana yang selama ini kerap melanda wilayah Pasuruan. Juga di perbatasan Kota dengan Kabupaten Pasuruan.

Gus Ipul juga mengakui, hubungan antarkepala daerah yang juga memiliki ikatan darah seperti dirinya dengan Bupati Pasuruan bakal lebih cair. Tidak hanya komunikasi formal saja. Melainkan juga informal dapat dengan mudah dilakukan.

“Tentu tidak hanya saya berdua ya. Stakeholder lain juga ikut bicara kalau itu demi kepentingan masyarakat. Mulai DPRD, ulama, dan tokoh-tokoh,” bebernya.

Sementara itu, adik Gus Ipul, Irsyad Yusuf juga mengaku bahwa komunikasinya dengan Wali Kota Pasuruan kini lebih cair. Tentu saja, hubungan keluarga diantara keduanya membuat dua kepala daerah itu jauh lebih akrab. Komunikasi yang terjalin, sudah tentu bukan lagi dalam tataran normatif. Tapi memang selayaknya kakak dan adik.

Gus Irsyad –sapaan Irsyad Yusuf menyatakan, ada kalanya ia dan Gus Ipul membahas persoalan daerah secara serius. Terkadang, juga diselingi guyonan. Tapi bukan guyonan yang sekadar mengocok perut. Irsyad menyebut, guyonan yang kerap ia lontarkan kepada sang kakak, justru bernada motivasi.

Kadang tak gudo. Yo opo kota kok gak WTP-WTP? (Kadang saya goda. Gimana kota kok nggak meraih WTP?),” kata Irsyad.

Kalimat itu semata untuk memotivasi kakaknya di awal pemerintahan ini. Dia sendiri, paham betul jika Gus Ipul kini tengah berkonsentrasi penuh agar Kota Pasuruan bisa kembali meraih predikat WTP dari BPK RI. Sebab dua tahun terakhir, Kota Pasuruan mendapat penilaian WDP.

Soal lain, juga sama. Begitu Irsyad tahu kakaknya tengah berencana menjadikan gedung eks mal Poncol sebagai mal pelayanan publik dan sentra UMKM, dia pun berseloroh. “Saya pernah juga tanya, kate diapakno poncol iku Mas? (Mau diapakan poncol itu Mas?) Dan beliau sangat bersemangat, bahwa itu akan dibuat lebih bagus lagi kedepannya,” jelasnya.

Dari Gus Ipul pula, Irsyad mengaku banyak belajar. “Kami saling memotivasi, saling memberi masukan,” terang Irsyad. Politisi PKB itu sudah dua periode menjabat sebagai Bupati Pasuruan. Tak dipungkiri, sebelum Gus Ipul jadi Wali Kota, dia sudah menjalin hubungan dengan beberapa Wali Kota sebelumnya.

“Sebenarnya sama saja. Cuma sekarang koordinasi antara kabupaten dan kota lebih enak. Baik soal penanganan banjir, terutama di beberapa wilayah perbatasan. Komunikasi formal dan informal,” bebernya.

Untuk komunikasi informal, Irsyad dan Gus Ipul biasanya ngobrol lewat telepon. Namun, jika pembicaraan yang dibahas perlu tatap muka, dia memilih untuk menemui kakaknya. “Kalau memang perlu, ya saya datang ke rumah dinas wali kota. Sebaliknya, mas Saiful juga kadang-kadang ke pendopo,” kata pria asal Purwosari, Kabupaten Pasuruan itu.

Irsyad juga merasa terpacu, dengan konsep pembangunan yang kini tengah digagas kakaknya. Misalnya terkait revitalisasi kawasan Alun-alun Kota Pasuruan. Gus Ipul memang berencana menjadikan kawasan itu sebagai pusat wisata religi terintegrasi. Makam KH Abdul Hamid menjadi daya tarik wisata religi itu. Selain menata kawasan, juga akan ada pusat perdagangan yang digadang-gadang mampu mendongkrak ekonomi kota.

“Salah satu konsentrasi Gus Ipul setelah dilantik kan menata alun-alun. Saya terpacu juga, lha ini pendopo saya kan di wilayah kota,” katanya.

Letak Pendopo Kabupaten Pasuruan yang juga berada di kawasan alun-alun, membuat Irsyad harus berbenah. Contohnya gapura pendopo. “Itu paling nggak saya harus menata. Kalau beliau punya konsep kota Madinah ya saya harus mengikuti,” ujar Irsyad. (tom/fun)

 

Mobile_AP_Rectangle 1

Kabupaten dan Kota Pasuruan kini dipimpin Yusuf bersaudara. Irsyad Yusuf menjadi Bupati Pasuruan. Sedangkan kakaknya, Saifullah Yusuf menjabat sebagai Wali Kota Pasuruan. Komunikasi dua kepala daerah itu kini lebih cair. Keduanya saling memotivasi, saling memberi masukan.

 

GUS Ipul sama sekali tak merasa canggung lantaran luas wilayah yang dipimpinnya jauh lebih kecil ketimbang wilayah yang dipimpin adiknya. Baginya, hal itu tidak menjadi persoalan substantif.

Mobile_AP_Half Page

“Saya merasa terhormat ya telah diberi mandat untuk melakukan perubahan di Kota Pasuruan,” katanya.

Sejak awal, Gus Ipul bahkan sudah meyakinkan diri. Bahwa kehadirannya di Kota Pasuruan semata-mata untuk mengabdi. Dia juga punya keinginan kuat untuk membawa perubahan bagi Kota Pasuruan menjadi lebih maju. “Kami ingin mengajak warga kota untuk mengejar ketertinggalan,” ujarnya.

Baginya, luas wilayah yang dipimpin bukan yang utama. Keputusannya untuk maju dalam kontestasi politik Kota Pasuruan, lantaran dorongan para kiai. Dia menganggap, hal itu sebagai panggilan untuk “pulang kampung”. Tentu saja dia harus menyingsingkan lengan. Menyelesaikan setumpuk persoalan di kota yang meliputi empat kecamatan ini.

“Amanah itu nggak memandang luas wilayah. Dimanapun, kalau kita diberi amanah ya harus dijalankan sepenuh hati dan sungguh-sungguh,” jelasnya.

Meski kini ia dan adiknya telah berduet sebagai kepala daerah di Pasuruan, Gus Ipul menegaskan bahwa norma-norma dalam tata kelola pemerintahan tetap berjalan semestinya. Hanya saja, dia mengaku memang perlu menjalin komunikasi yang baik dengan daerah-daerah tetangga. Terutama daerah perbatasan. “Yang juga penting itu membangun komunikasi untuk bersinergi,” katanya.

Komunikasi antar daerah menjadi kunci utama untuk menyelesaikan persoalan bersama. Misalnya, banjir. Bencana yang selama ini kerap melanda wilayah Pasuruan. Juga di perbatasan Kota dengan Kabupaten Pasuruan.

Gus Ipul juga mengakui, hubungan antarkepala daerah yang juga memiliki ikatan darah seperti dirinya dengan Bupati Pasuruan bakal lebih cair. Tidak hanya komunikasi formal saja. Melainkan juga informal dapat dengan mudah dilakukan.

“Tentu tidak hanya saya berdua ya. Stakeholder lain juga ikut bicara kalau itu demi kepentingan masyarakat. Mulai DPRD, ulama, dan tokoh-tokoh,” bebernya.

Sementara itu, adik Gus Ipul, Irsyad Yusuf juga mengaku bahwa komunikasinya dengan Wali Kota Pasuruan kini lebih cair. Tentu saja, hubungan keluarga diantara keduanya membuat dua kepala daerah itu jauh lebih akrab. Komunikasi yang terjalin, sudah tentu bukan lagi dalam tataran normatif. Tapi memang selayaknya kakak dan adik.

Gus Irsyad –sapaan Irsyad Yusuf menyatakan, ada kalanya ia dan Gus Ipul membahas persoalan daerah secara serius. Terkadang, juga diselingi guyonan. Tapi bukan guyonan yang sekadar mengocok perut. Irsyad menyebut, guyonan yang kerap ia lontarkan kepada sang kakak, justru bernada motivasi.

Kadang tak gudo. Yo opo kota kok gak WTP-WTP? (Kadang saya goda. Gimana kota kok nggak meraih WTP?),” kata Irsyad.

Kalimat itu semata untuk memotivasi kakaknya di awal pemerintahan ini. Dia sendiri, paham betul jika Gus Ipul kini tengah berkonsentrasi penuh agar Kota Pasuruan bisa kembali meraih predikat WTP dari BPK RI. Sebab dua tahun terakhir, Kota Pasuruan mendapat penilaian WDP.

Soal lain, juga sama. Begitu Irsyad tahu kakaknya tengah berencana menjadikan gedung eks mal Poncol sebagai mal pelayanan publik dan sentra UMKM, dia pun berseloroh. “Saya pernah juga tanya, kate diapakno poncol iku Mas? (Mau diapakan poncol itu Mas?) Dan beliau sangat bersemangat, bahwa itu akan dibuat lebih bagus lagi kedepannya,” jelasnya.

Dari Gus Ipul pula, Irsyad mengaku banyak belajar. “Kami saling memotivasi, saling memberi masukan,” terang Irsyad. Politisi PKB itu sudah dua periode menjabat sebagai Bupati Pasuruan. Tak dipungkiri, sebelum Gus Ipul jadi Wali Kota, dia sudah menjalin hubungan dengan beberapa Wali Kota sebelumnya.

“Sebenarnya sama saja. Cuma sekarang koordinasi antara kabupaten dan kota lebih enak. Baik soal penanganan banjir, terutama di beberapa wilayah perbatasan. Komunikasi formal dan informal,” bebernya.

Untuk komunikasi informal, Irsyad dan Gus Ipul biasanya ngobrol lewat telepon. Namun, jika pembicaraan yang dibahas perlu tatap muka, dia memilih untuk menemui kakaknya. “Kalau memang perlu, ya saya datang ke rumah dinas wali kota. Sebaliknya, mas Saiful juga kadang-kadang ke pendopo,” kata pria asal Purwosari, Kabupaten Pasuruan itu.

Irsyad juga merasa terpacu, dengan konsep pembangunan yang kini tengah digagas kakaknya. Misalnya terkait revitalisasi kawasan Alun-alun Kota Pasuruan. Gus Ipul memang berencana menjadikan kawasan itu sebagai pusat wisata religi terintegrasi. Makam KH Abdul Hamid menjadi daya tarik wisata religi itu. Selain menata kawasan, juga akan ada pusat perdagangan yang digadang-gadang mampu mendongkrak ekonomi kota.

“Salah satu konsentrasi Gus Ipul setelah dilantik kan menata alun-alun. Saya terpacu juga, lha ini pendopo saya kan di wilayah kota,” katanya.

Letak Pendopo Kabupaten Pasuruan yang juga berada di kawasan alun-alun, membuat Irsyad harus berbenah. Contohnya gapura pendopo. “Itu paling nggak saya harus menata. Kalau beliau punya konsep kota Madinah ya saya harus mengikuti,” ujar Irsyad. (tom/fun)

 

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2