alexametrics
26.5 C
Probolinggo
Saturday, 21 May 2022

Inilah Komunitas Pelukis Situs Sejarah di Gunung Penanggungan

Mengenalkan situs sejarah tidak melulu dengan tulisan. Bisa juga melalui lukisan. Itulah yang dilakukan para anggota komunitas Pawitra Art Project. Melalui lukisan, mereka mengenalkan ratusan candi yang ada di kawasan Gunung Penanggungan.

————-

ADA ratusan candi Pra-Majapahit yang berada di Gunung Penanggungan. Candi-candi itu tersebar mulai kaki gunung sampai mendekati puncak. Namun, tidak banyak masyarakat yang mengetahuinya. Minimnya informasi, hingga minimnya minat baca menjadi faktornya.

Hal inilah yang kemudian memicu keprihatinan Agung Prabowo dan rekan-rekannya di Pawitra Art Project. Mereka ingin ikut serta melestarikan dan memperkenalkan situs-situs sejarah di Gunung Penanggungan tersebut.

Tentu dengan cara berbeda. Tidak dengan tulisan. Melainkan dengan lukisan, sesuai latar belakang mereka.

“Banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa di kawasan Gunung Penanggungan ada banyak candi. Bahkan, warga sekitar Pasuruan dan Mojokerto pun kurang mengetahuinya,” kata Agung.

Maka, sejak 2017, ia dan rekan-rekannya yang tergabung dalam Pawitra Art Project membuat karya lukis bertajuk situs-situs yang ada di kawasan Gunung Penanggungan. Saat itu di awal tahun 2017, mereka mulai mengeksplorasi Gunung Penanggungan.

PENUH PERJUANGAN: Tim Pawitra Art Project harus mendaki. Mereka rela naik ke gunung demi bisa mencari objek hingga kemudian membuat karya lukisan. (Foto: Istimewa)

Banyak lukisan yang sudah mereka buat. Seperti Candi Sumber Tetek, Candi Wayang, Candi Putri, dan puluhan candi lainnya.

Pawitra Art Project sebelumnya merupakan komunitas yang bergerak di bidang seni rupa secara umum. Awalnya, komunitas itu bernama Pawitra yang dibentuk pada tahun 2016. Anggotanya saat itu ada tiga orang. Semuanya bergelut di dunia seni rupa aliran kontemporer.

Menurut Agung, Pawitra sendiri diambil dari nama kuno Gunung Penanggungan berdasarkan situs Cungrang. Pawitra sempat vakum beberapa bulan.

Hingga akhirnya “dibangkitkan” lagi pada awal 2017. Saat itulah mereka beralih mengeksplorasi Gunung Penanggungan. Perubahan nama pun dilakukan. Tidak sekadar komunitas Pawitra, tetapi ditambah dengan Art Project.

Konsep tersebut dipilih, salah satunya untuk lebih mengenalkan situs-situs yang ada di Penanggungan kepada masyarakat dan pelajar. Kebetulan, para anggota Pawitra Art Project merupakan pendidik. Dari delapan orang anggota yang bergabung, lima di antaranya adalah guru seni rupa.

“Jumlah anggota kami sekarang ada delapan. Selain saya, ada Anggi Heru, Medik, Achmad Toriq, Nofi Sucipto, Toni Ja’far, Yunizar Mursyidi, dan Dien Kuda. Rata-rata adalah guru seni rupa,” ungkap guru SMPN 3 Gempol ini.

Di samping itu, hobi mendaki juga menjadi alasan. Sebagian besar anggota Pawitra Art Project memang hobi mendaki. Untuk mengeksplorasi Penanggungan dalam sebuah lukisan, memang tidak bisa hanya berangan-angan.

Ia dan timnya tak jarang harus mendaki. Dari situ, mereka bisa melihat situs-situs yang ada. Mereka merekamnya dengan memori di kepala. Selanjutnya, baru mengeksplorasi sesuai imajinasi di otak masing-masing.

“Kami menuangkan inspirasi setelah mendaki. Apa yang kami lihat dan kami rasakan, itulah yang kami tuangkan. Selama pendakian yang sudah kami lakukan beberapa kali, Alhamdulillah tidak ada kendala apapun,” bebernya.

Anggota Pawitra Art Project, M. Medik mengungkapkan, banyak hal yang diperolehnya ketika mengekplorasi Penanggungan. Salah satunya, ia bisa membuktikan apa yang sudah dibacanya di buku sejarah.

Candi-candi yang selama ini hanya ada di angan-angannya, bisa dilihatnya dengan mata. Selanjutnya, ia pun bisa melukiskannya dengan imajinasi yang ada.

“Jadi, saya bisa membuktikan kalau candi-candi yang saya baca di buku ternyata ada di Penangunggan,” tandasnya.

Anggota Pawitra Art Project lainnya, Toni Ja’far mengungkapkan, ekplorasi Gunung Penanggungan juga ditujukan untuk mengenalkan sejarah kepada pelajar. Pihaknya pun bisa melestarikan sejarah yang ada di Penanggungan melalui seni rupa.

“Dengan cara ini (melukiskan situs, Red), tentu pelajar akan lebih tertarik untuk memahami dan mempelajari sejarah,” sambungnya.

Toni menguraikan, timnya memang lebih fokus pada kawasan Penanggungan. Hal itu dikarenakan nama tim mereka yang memang tak lepas dari Penanggungan, Pawitra. (one/hn/fun)

Mengenalkan situs sejarah tidak melulu dengan tulisan. Bisa juga melalui lukisan. Itulah yang dilakukan para anggota komunitas Pawitra Art Project. Melalui lukisan, mereka mengenalkan ratusan candi yang ada di kawasan Gunung Penanggungan.

————-

ADA ratusan candi Pra-Majapahit yang berada di Gunung Penanggungan. Candi-candi itu tersebar mulai kaki gunung sampai mendekati puncak. Namun, tidak banyak masyarakat yang mengetahuinya. Minimnya informasi, hingga minimnya minat baca menjadi faktornya.

Hal inilah yang kemudian memicu keprihatinan Agung Prabowo dan rekan-rekannya di Pawitra Art Project. Mereka ingin ikut serta melestarikan dan memperkenalkan situs-situs sejarah di Gunung Penanggungan tersebut.

Tentu dengan cara berbeda. Tidak dengan tulisan. Melainkan dengan lukisan, sesuai latar belakang mereka.

“Banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa di kawasan Gunung Penanggungan ada banyak candi. Bahkan, warga sekitar Pasuruan dan Mojokerto pun kurang mengetahuinya,” kata Agung.

Maka, sejak 2017, ia dan rekan-rekannya yang tergabung dalam Pawitra Art Project membuat karya lukis bertajuk situs-situs yang ada di kawasan Gunung Penanggungan. Saat itu di awal tahun 2017, mereka mulai mengeksplorasi Gunung Penanggungan.

PENUH PERJUANGAN: Tim Pawitra Art Project harus mendaki. Mereka rela naik ke gunung demi bisa mencari objek hingga kemudian membuat karya lukisan. (Foto: Istimewa)

Banyak lukisan yang sudah mereka buat. Seperti Candi Sumber Tetek, Candi Wayang, Candi Putri, dan puluhan candi lainnya.

Pawitra Art Project sebelumnya merupakan komunitas yang bergerak di bidang seni rupa secara umum. Awalnya, komunitas itu bernama Pawitra yang dibentuk pada tahun 2016. Anggotanya saat itu ada tiga orang. Semuanya bergelut di dunia seni rupa aliran kontemporer.

Menurut Agung, Pawitra sendiri diambil dari nama kuno Gunung Penanggungan berdasarkan situs Cungrang. Pawitra sempat vakum beberapa bulan.

Hingga akhirnya “dibangkitkan” lagi pada awal 2017. Saat itulah mereka beralih mengeksplorasi Gunung Penanggungan. Perubahan nama pun dilakukan. Tidak sekadar komunitas Pawitra, tetapi ditambah dengan Art Project.

Konsep tersebut dipilih, salah satunya untuk lebih mengenalkan situs-situs yang ada di Penanggungan kepada masyarakat dan pelajar. Kebetulan, para anggota Pawitra Art Project merupakan pendidik. Dari delapan orang anggota yang bergabung, lima di antaranya adalah guru seni rupa.

“Jumlah anggota kami sekarang ada delapan. Selain saya, ada Anggi Heru, Medik, Achmad Toriq, Nofi Sucipto, Toni Ja’far, Yunizar Mursyidi, dan Dien Kuda. Rata-rata adalah guru seni rupa,” ungkap guru SMPN 3 Gempol ini.

Di samping itu, hobi mendaki juga menjadi alasan. Sebagian besar anggota Pawitra Art Project memang hobi mendaki. Untuk mengeksplorasi Penanggungan dalam sebuah lukisan, memang tidak bisa hanya berangan-angan.

Ia dan timnya tak jarang harus mendaki. Dari situ, mereka bisa melihat situs-situs yang ada. Mereka merekamnya dengan memori di kepala. Selanjutnya, baru mengeksplorasi sesuai imajinasi di otak masing-masing.

“Kami menuangkan inspirasi setelah mendaki. Apa yang kami lihat dan kami rasakan, itulah yang kami tuangkan. Selama pendakian yang sudah kami lakukan beberapa kali, Alhamdulillah tidak ada kendala apapun,” bebernya.

Anggota Pawitra Art Project, M. Medik mengungkapkan, banyak hal yang diperolehnya ketika mengekplorasi Penanggungan. Salah satunya, ia bisa membuktikan apa yang sudah dibacanya di buku sejarah.

Candi-candi yang selama ini hanya ada di angan-angannya, bisa dilihatnya dengan mata. Selanjutnya, ia pun bisa melukiskannya dengan imajinasi yang ada.

“Jadi, saya bisa membuktikan kalau candi-candi yang saya baca di buku ternyata ada di Penangunggan,” tandasnya.

Anggota Pawitra Art Project lainnya, Toni Ja’far mengungkapkan, ekplorasi Gunung Penanggungan juga ditujukan untuk mengenalkan sejarah kepada pelajar. Pihaknya pun bisa melestarikan sejarah yang ada di Penanggungan melalui seni rupa.

“Dengan cara ini (melukiskan situs, Red), tentu pelajar akan lebih tertarik untuk memahami dan mempelajari sejarah,” sambungnya.

Toni menguraikan, timnya memang lebih fokus pada kawasan Penanggungan. Hal itu dikarenakan nama tim mereka yang memang tak lepas dari Penanggungan, Pawitra. (one/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/