Begini Kesibukan Tim TRC Linmas dan Relawan dalam Penanganan Banjir Pasuruan

Banjir yang melanda 14 desa di Kabupaten Pasuruan menuntut kesigapan pemkab dalam proses evakuasi korban. Di situlah kesigapan dari Tim Reaksi Cepat (TRC) Linmas Satpol PP dan relawan dibutuhkan.

———————

Sejumlah pria berseragam hijau sibuk memasukkan belasan nasi bungkus ke dalam tas plastik berwarna merah. Dengan cekatan, nasi bungkus itu dibawa dalam genggaman tangan mereka.

Mereka lantas mengambil perahu karet yang ditambatkan di dekat dapur umum itu. Kedelapan pria itu langsung masuk ke perahu dan mulai mendayung untuk mendistribusikan nasi bungkus ke warga.

Pemandangan ini tampak di balai Desa Sadengrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, kemarin (8/1). Mereka adalah gabungan TRC dan relawan bencana di Kabupaten Pasuruan. Tak tampak keletihan di wajah mereka pagi itu.

“Kami sudah di sini sejak dini hari tadi dan belum pulang. Kami datang usai dihubungi oleh pihak desa bahwa di sini sedang banjir,” ungkap Aan Suryono memulai pembicaraan.

Aan -sapaan akrabnya- adalah salah satu anggota TRC Linmas Satpol PP Kabupaten Pasuruan. Dia bersama ketiga temannya datang ke Desa Sadengrejo pada pukul 02.30. Sebab, ada dua kepala keluarga (KK) yang butuh untuk dievakuasi.

Evakuasi pertama satu orang lanjut usia (lansia) di Dusun Sadeng. Korban menggigil dan dibawa ke Puskesmas Rejoso. Serta satu KK beranggotakan lima orang di Dusun Sadeng. Mereka terjebak banjir setinggi 1,5 meter di dalam rumahnya. KK ini dibawa ke rumah saudaranya di Dusun Bantengan.

Selama proses evakuasi, Aan mengaku tidaklah mudah. Arus yang deras dan tinggi serta kondisi gelap cukup menyulitkan. Namun, pihaknya berhasil mengevakuasi dengan bantuan dari relawan dan melaju dengan hati-hati.

BANTU: Petugas kepolisian mengatur jalan raya yang tergenang air akibat banjir. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

 

“Evakuasi dengan menggunakan perahu karet. Selama di jalan, kami harus hati-hati agar korban tidak jatuh dengan berbekal senter di tangan,” jelasnya.

Aan menjelaskan, tim TRC yang membantu di Sadengrejo ada empat personel. Selain proses evakuasi, mereka bertugas untuk mendistribusikan logistik. Baik makanan maupun obat ke warga. Serta mengamankan rumah selama ditinggal oleh pemilik karena mengungsi.

Mereka akan tetap bertahan di lokasi setempat, hingga banjir surut. Selama belum surut, tim akan terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Pasuruan dan pemdes setempat untuk tanggap bencana di lokasi.

Menurutnya, pihaknya pernah memiliki pengalaman tidak pulang ke rumah lebih dari sehari, pada 2019. Saat itu Linmas diminta membantu evakuasi banjir di Desa Tambakrejo, Kecamatan Kraton dan Desa Kalianyar, Kecamatan Bangil.

“Waktu itu saya dan tim tidak pulang selama tiga hari. Kami menjalaninya secara ikhlas. Tim kami pantang untuk pulang ke rumah sebelum bencana surut,” katanya.

Salah seorang relawan tanggap bencana, Zainul Arifin menjelaskan, relawan memiliki sejumlah tugas. Di antaranya menggali data cuaca di daerah atas. Seperti Kecamatan Puspo, Tosari, Lumbang, dan Kecamatan Tutur. Ini, untuk memprediksi kemungkinan banjir terjadi di daerah bawah.

Hasilnya disampaikan ke tim TRC Linmas maupun BPBD setempat. Jika dari penggalian data ini diketahui ada intensitas hujan yang tinggi, maka relawan akan turun. Mereka akan keliling ke sejumlah desa yang biasa rawan banjir.

“Jika ternyata banjir, maka kami akan merapat. Tentunya dengan mengedepankan sinergitas. Relawan ini terdiri atas berbagai elemen masyarakat mulai ormas maupun komunitas di daerah,” sebutnya.

Zen -sapaan akrabnya- mengaku, ada 15 orang yang diterjunkan di satu lokasi. Ada yang bertugas memberikan informasi dan ada yang berjaga di lokasi setempat. Tentunya dengan sistem sif. Jadi, jika ada yang punya kesibukan lain, bisa digantikan oleh anggota lain.

“Fungsi kami hampir mirip dengan TRC Linmas. Cuma kami lebih fleksibel. Bergantung pada kondisi di lapangan. Kami juga bantu evakuasi dan sebagainya,”ujarnya.

Kepala Satpol PP Kabupaten Pasuruan Bakti Jati Permana menyebut TRC Linmas dibentuk pada 2017. Ada sekitar 20 personel yang dimiliki dengan tiga buah perahu karet yang siap digunakan kapan pun saat dibutuhkan. Linmas ini berfungsi untuk membantu evakuasi masyarakat.

Menurutnya, hal ini tidak hanya sebatas pada penanganan bencana banjir. Namun, juga bencana lainnya. Mulai dari kebakaran atau puting beliung.

Terkait banjir, TRC ini bergerak ke lokasi yang minim personel. Tentunya dengan berkoordinasi pada BPBD dan pihak kecamatan.

“Pada banjir kali ini kami menerjunkan personel ke Desa Kedawung Wetan, Kecamatan Grati dan Desa Sadengrejo, Kecamatan Rejoso. Sebab, di lokasi ini personel untuk membantu warga terdampak kurang,” pungkas Bakti. (riz/hn/fun)