alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Cerita Para Pemenang Lomba Logo-Maskot MTQ XXX Jatim

Ahmad Nurohman dan Giant Tahta Pahlawan sama-sama desainer grafis bertangan dingin. Beberapa sayembara desain sudah pernah dimenangkan. Tak heran jika keduanya juga berhasil menjuarai Lomba Logo dan Maskot MTQ XXX Jawa Timur 2023.

MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo

Sejak awal lomba dibuka, Ahmad Nurohman maupun Giant Tahta Pahlawan sudah mengincar gelar juara. Setiap kali mengikuti lomba, rasa optimisme bagi kalangan desainer seperti mereka memang penting. Tetapi, Nurohman boleh dibilang ’kelewatan’. Dia selalu yakin karyanya yang bakal menang dalam setiap sayembara.

”Tapi, kalau akhirnya nggak juara ya anggap saja belum rezeki,” katanya berkelakar.

Namun, saat ditanya motivasinya mengikuti lomba logo MTQ, bapak tiga anak ini menjawab serius. Dia menganggap keikutsertaannya dalam lomba logo kegiatan sekelas MTQ bukan sekadar sayembara. Tujuannya bukan menang atau kalah saja. Tapi, juga sebagai salah satu bentuk syiar. Tentu saja, syiar sesuai keahliannya. Yakni, mendesain logo.

”Semua orang kan punya bidang masing-masing. Kalau qori bisa jadi peserta MTQ lewat suaranya. Kalau seni kaligrafi lewat kemahirannya menggunakan kuas. Nah, saya ikut lomba logo ini juga saya anggap syiar melalui visualisasi desain,” beber Nurohman.

Meski belajar desain secara otodidak, Nurohman sudah beberapa kali memenangkan sayembara logo. Yang cukup bergengsi yakni saat menjuarai logo ulang tahun hubungan bilateral Indonesia-Jerman ke-70, belum lama ini.

Sedangkan untuk lomba desain logo MTQ memang baru kali pertama ini diikuti. Meski Nurohman sudah menyimpan keinginannya sejak lama.

Ahmad Nurohman dan Giant Tahta Pahlawan sama-sama desainer grafis bertangan dingin. Beberapa sayembara desain sudah pernah dimenangkan. Tak heran jika keduanya juga berhasil menjuarai Lomba Logo dan Maskot MTQ XXX Jawa Timur 2023.

MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo

Sejak awal lomba dibuka, Ahmad Nurohman maupun Giant Tahta Pahlawan sudah mengincar gelar juara. Setiap kali mengikuti lomba, rasa optimisme bagi kalangan desainer seperti mereka memang penting. Tetapi, Nurohman boleh dibilang ’kelewatan’. Dia selalu yakin karyanya yang bakal menang dalam setiap sayembara.

”Tapi, kalau akhirnya nggak juara ya anggap saja belum rezeki,” katanya berkelakar.

Namun, saat ditanya motivasinya mengikuti lomba logo MTQ, bapak tiga anak ini menjawab serius. Dia menganggap keikutsertaannya dalam lomba logo kegiatan sekelas MTQ bukan sekadar sayembara. Tujuannya bukan menang atau kalah saja. Tapi, juga sebagai salah satu bentuk syiar. Tentu saja, syiar sesuai keahliannya. Yakni, mendesain logo.

”Semua orang kan punya bidang masing-masing. Kalau qori bisa jadi peserta MTQ lewat suaranya. Kalau seni kaligrafi lewat kemahirannya menggunakan kuas. Nah, saya ikut lomba logo ini juga saya anggap syiar melalui visualisasi desain,” beber Nurohman.

Meski belajar desain secara otodidak, Nurohman sudah beberapa kali memenangkan sayembara logo. Yang cukup bergengsi yakni saat menjuarai logo ulang tahun hubungan bilateral Indonesia-Jerman ke-70, belum lama ini.

Sedangkan untuk lomba desain logo MTQ memang baru kali pertama ini diikuti. Meski Nurohman sudah menyimpan keinginannya sejak lama.

MOST READ

BERITA TERBARU

/