alexametrics
27.9 C
Probolinggo
Wednesday, 16 June 2021
Desktop_AP_Top Banner

Nestapa Sekeluarga Tinggal di Gubuk, Anak Alami Gizi Buruk

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Hidup itu berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Itulah yang diyakini Solehudin, 33, warga RT 2/RW 1, Dusun Krajan, Desa Randumerak, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Karena itu, meski hidup serba kekurangan di sebuah gubuk, dia masih bersyukur.

AGUS FAIZ MUSLEH, Paiton, Radar Bromo

DI timur Sungai Pancarglagas, Kecamatan Pakuniran, sebuah gubuk berukuran 3,8 x 6 meter berdiri. Tepatnya di RT 2/RW 1, Dusun Krajan, Desa Randumerak, Kecamatan Paiton.

Gubuk itu menggunakan kayu dan bambu sebagai penyanggah, serta dinding anyaman kayu. Praktis, ukurannya seperti sebuah kamar saja. Namun, faktanya gubuk itu ditinggali enam jiwa.

Antara lain sang kepala keluarga Solehudin, 33; istrinya, Ririn Fatmawati, 27; dan anak mereka Muhammad Ashabulkahfi, 6. Lalu, mertuanya, Zainab, 63; Muhammad Arif Wahab, 28, adik Solehudin dan Ifa Wardatul Mahsufah, 19, keponakan Solehudin.

Tinggal di gubuk itu bukan pilihan tentu saja. Keadaan yang memaksa mereka berenam tinggal di sana.

“Sekitar dua bulan yang lalu saya sekeluarga pindah ke gubuk sini. Tanah yang saya tempati ini milik pengairan,” ujar Solehudin dengan nada berat.

Mereka berenam tidur di gubuk itu. Jangan bayangkan bisa tidur nyenyak di kasur yang nyaman.

Di dalam gubuk itu hanya ada tiga lincak dengan ukuran berbeda. Dua lincak dipakai tidur, tidak terlalu lebar ukurannya. Satu lincak dengan ukuran lebih kecil, juga dipakai salat.

“Ya tidur di dalam semua. Saya kadang tidur di dalam, kadang di luar. Kalau di luar tidur di kursi yang ada di depan itu,” ujarnya didampingi istrinya, Ririn.

Ririn menggendong anak mereka Kahfi yang mengalami gizi buruh. Anak itu memang selama ini selalu digendong, meski sebenarnya sudah berusia 6 tahun.

Tentu saja tidak ada ruang tamu, apalagi kamar mandi. Dapur pun tidak ada. Keluarga ini memasak di belakang rumah, di dapur tanpa atap yang ditata seadanya. Dengan menggunakan tungku bata, terlihat alat masak yang masih berserakan.

Solehudin mengaku, gubuk itu dibangun menggunakan uang hasil penjualan rumahnya pada tahun 2014. Rumah lamanya tidak jauh dari gubuk yang ditinggali saat ini. Sekitar 100 meter jaraknya ke arah selatan.

Lelaki itu mengaku terpaksa menjual rumahnya untuk biaya pengobatan anaknya yang sakit. Juga untuk biaya sekolah keponakannya mulai kelas 5 SD hingga saat ini kelas 3 SMA.

“Keponakan saya ini anak dari almarhum Mbak Zubaidah yang meninggal beberapa tahun lalu. Dia tinggal di asrama sekolahnya di Paiton. Hanya pulang Sabtu dan Minggu,” ujarnya.

Akhirnya, Solehudin menjual rumahnya seharga Rp 21 juta. Setelah membayar biaya pengobatan anak dan sekolah keponakannya, sisa uang dipakai membayar utang.

Setelah rumah dijual, pembeli rumah sebenarnya masih memperbolehkan Solehudin dan keluarganya tinggal di rumah itu. Praktis, mereka tinggal di rumah itu selama 7 tahun, meski rumah itu sudah dijual.

Baru dua bulan lalu, pembeli rumah hendak menempati rumah itu. Akhirnya, mereka keluar dari rumah itu dan membangun gubuk seadanya.

Untuk memperbaiki ekonomi keluarganya, hasil dari menjual rumah juga dipakai Solehudin berjualan sepeda motor bekas. Namun, upaya hanyalah ikhtiar manusia untuk mengubah nasib. Usahanya tidak berkembang, bahkan barang dagangannya tidak laku, sehingga kerugian yang didapatkan.

“Hasil penjualan rumah juga dibuat untuk jual beli motor bekas pada 2015. Namun, saat itu tidak ada hasilnya. Kemudian saya berjualan gorengan di sekitar jalan raya pantura. Namun, tetap tidak nutut,” ujarnya.

Setelah gagal dengan beberapa usahanya, pria yang saat ini bekerja sebagai buruh rongsokan di sekitar rumahnya itu sempat mengamen. “Sempat ngamen, karena modal usaha sudah tidak ada. Sedangkan kebutuhan terus ada,” tuturnya.

Sebagai buruh rongsokan, Solehudin mengaku hasilnya lumayan. Sekitar Rp 40–Rp 60 ribu sehari.

“Tapi, itu kalau ada barang untuk diangkut. Jika tidak ada, ya tidak ada pemasukan,” ujarnya.

Sejatinya, di sekitar gubuk kecilnya tinggal juga sebagian kerabatnya. Mulai dari bibi sampai paman, rumahnya dekat dengan gubuknya. Namun, ia lebih memilih tinggal dan hidup berdikari.

“Biar saya tinggal di sini saja. Lebih baik saya hilang harta daripada kehilangan saudara. Kalau numpang di rumah saudara takut ada masalah,” ujarnya.

Meski hidup serbasulit, Solehudin tetap sabar. Dia pun memegang teguh ajaran agama dan prinsip hidup yang diajarkan orang tuanya.

“Cerita dulu, tetua-tetua saya ini orang yang sangat berkecukupan. Roda ini kan berputar. Mungkin, hari ini (saat ini) saya berada di bawah. Ini adalah cobaan dari Allah,” katanya.

Dengan penghasilan yang serba tak jelas, Solehudin pun harus memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Mulai makan, susu anaknya, pengobatan alternatif anaknya, dan biaya sekolah keponakannya.

“Tidak cukup sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Yang terpenting usaha yang didapatkan halal. Perihal kecukupan disyukuri,” ujarnya.

Anaknya, Muhammad Ashabulkahfi, 6, memang selama ini butuh pengobatan. Bukan sakit sebenarnya, namun mengalami gizi buruk.

Kahfi adalah anak keduanya. Kakaknya meninggal, juga karena mengalami gizi buruk.

“Mentok hanya berobat pada puskesmas. Untuk ke rumah sakit tidak ada biaya. Anak saya yang pertama 2 tahun lebih tua dari yang kedua ini. Dia juga gizi buruk dan meninggal,” lanjutnya.

Namun, dia tetap bersyukur. “Alhamdulillah, saat ini tidak musim hujan. Sehingga air tidak merembes dari atap,” ujarnya.

Solehudin pun mengaku sudah mendapat bantuan pemerintah. Dia mendapat Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD). Sementara ibunya, mendapatkan Program Kesejahteraan Sosial (PKH).

“Mendapat Bantuan Rp 300 ribu dari desa, dak tahu namanya apa. Masih sekali pemberiannya,” ujarnya. (hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

Hidup itu berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Itulah yang diyakini Solehudin, 33, warga RT 2/RW 1, Dusun Krajan, Desa Randumerak, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Karena itu, meski hidup serba kekurangan di sebuah gubuk, dia masih bersyukur.

AGUS FAIZ MUSLEH, Paiton, Radar Bromo

DI timur Sungai Pancarglagas, Kecamatan Pakuniran, sebuah gubuk berukuran 3,8 x 6 meter berdiri. Tepatnya di RT 2/RW 1, Dusun Krajan, Desa Randumerak, Kecamatan Paiton.

Mobile_AP_Half Page

Gubuk itu menggunakan kayu dan bambu sebagai penyanggah, serta dinding anyaman kayu. Praktis, ukurannya seperti sebuah kamar saja. Namun, faktanya gubuk itu ditinggali enam jiwa.

Antara lain sang kepala keluarga Solehudin, 33; istrinya, Ririn Fatmawati, 27; dan anak mereka Muhammad Ashabulkahfi, 6. Lalu, mertuanya, Zainab, 63; Muhammad Arif Wahab, 28, adik Solehudin dan Ifa Wardatul Mahsufah, 19, keponakan Solehudin.

Tinggal di gubuk itu bukan pilihan tentu saja. Keadaan yang memaksa mereka berenam tinggal di sana.

“Sekitar dua bulan yang lalu saya sekeluarga pindah ke gubuk sini. Tanah yang saya tempati ini milik pengairan,” ujar Solehudin dengan nada berat.

Mereka berenam tidur di gubuk itu. Jangan bayangkan bisa tidur nyenyak di kasur yang nyaman.

Di dalam gubuk itu hanya ada tiga lincak dengan ukuran berbeda. Dua lincak dipakai tidur, tidak terlalu lebar ukurannya. Satu lincak dengan ukuran lebih kecil, juga dipakai salat.

“Ya tidur di dalam semua. Saya kadang tidur di dalam, kadang di luar. Kalau di luar tidur di kursi yang ada di depan itu,” ujarnya didampingi istrinya, Ririn.

Ririn menggendong anak mereka Kahfi yang mengalami gizi buruh. Anak itu memang selama ini selalu digendong, meski sebenarnya sudah berusia 6 tahun.

Tentu saja tidak ada ruang tamu, apalagi kamar mandi. Dapur pun tidak ada. Keluarga ini memasak di belakang rumah, di dapur tanpa atap yang ditata seadanya. Dengan menggunakan tungku bata, terlihat alat masak yang masih berserakan.

Solehudin mengaku, gubuk itu dibangun menggunakan uang hasil penjualan rumahnya pada tahun 2014. Rumah lamanya tidak jauh dari gubuk yang ditinggali saat ini. Sekitar 100 meter jaraknya ke arah selatan.

Lelaki itu mengaku terpaksa menjual rumahnya untuk biaya pengobatan anaknya yang sakit. Juga untuk biaya sekolah keponakannya mulai kelas 5 SD hingga saat ini kelas 3 SMA.

“Keponakan saya ini anak dari almarhum Mbak Zubaidah yang meninggal beberapa tahun lalu. Dia tinggal di asrama sekolahnya di Paiton. Hanya pulang Sabtu dan Minggu,” ujarnya.

Akhirnya, Solehudin menjual rumahnya seharga Rp 21 juta. Setelah membayar biaya pengobatan anak dan sekolah keponakannya, sisa uang dipakai membayar utang.

Setelah rumah dijual, pembeli rumah sebenarnya masih memperbolehkan Solehudin dan keluarganya tinggal di rumah itu. Praktis, mereka tinggal di rumah itu selama 7 tahun, meski rumah itu sudah dijual.

Baru dua bulan lalu, pembeli rumah hendak menempati rumah itu. Akhirnya, mereka keluar dari rumah itu dan membangun gubuk seadanya.

Untuk memperbaiki ekonomi keluarganya, hasil dari menjual rumah juga dipakai Solehudin berjualan sepeda motor bekas. Namun, upaya hanyalah ikhtiar manusia untuk mengubah nasib. Usahanya tidak berkembang, bahkan barang dagangannya tidak laku, sehingga kerugian yang didapatkan.

“Hasil penjualan rumah juga dibuat untuk jual beli motor bekas pada 2015. Namun, saat itu tidak ada hasilnya. Kemudian saya berjualan gorengan di sekitar jalan raya pantura. Namun, tetap tidak nutut,” ujarnya.

Setelah gagal dengan beberapa usahanya, pria yang saat ini bekerja sebagai buruh rongsokan di sekitar rumahnya itu sempat mengamen. “Sempat ngamen, karena modal usaha sudah tidak ada. Sedangkan kebutuhan terus ada,” tuturnya.

Sebagai buruh rongsokan, Solehudin mengaku hasilnya lumayan. Sekitar Rp 40–Rp 60 ribu sehari.

“Tapi, itu kalau ada barang untuk diangkut. Jika tidak ada, ya tidak ada pemasukan,” ujarnya.

Sejatinya, di sekitar gubuk kecilnya tinggal juga sebagian kerabatnya. Mulai dari bibi sampai paman, rumahnya dekat dengan gubuknya. Namun, ia lebih memilih tinggal dan hidup berdikari.

“Biar saya tinggal di sini saja. Lebih baik saya hilang harta daripada kehilangan saudara. Kalau numpang di rumah saudara takut ada masalah,” ujarnya.

Meski hidup serbasulit, Solehudin tetap sabar. Dia pun memegang teguh ajaran agama dan prinsip hidup yang diajarkan orang tuanya.

“Cerita dulu, tetua-tetua saya ini orang yang sangat berkecukupan. Roda ini kan berputar. Mungkin, hari ini (saat ini) saya berada di bawah. Ini adalah cobaan dari Allah,” katanya.

Dengan penghasilan yang serba tak jelas, Solehudin pun harus memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Mulai makan, susu anaknya, pengobatan alternatif anaknya, dan biaya sekolah keponakannya.

“Tidak cukup sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Yang terpenting usaha yang didapatkan halal. Perihal kecukupan disyukuri,” ujarnya.

Anaknya, Muhammad Ashabulkahfi, 6, memang selama ini butuh pengobatan. Bukan sakit sebenarnya, namun mengalami gizi buruk.

Kahfi adalah anak keduanya. Kakaknya meninggal, juga karena mengalami gizi buruk.

“Mentok hanya berobat pada puskesmas. Untuk ke rumah sakit tidak ada biaya. Anak saya yang pertama 2 tahun lebih tua dari yang kedua ini. Dia juga gizi buruk dan meninggal,” lanjutnya.

Namun, dia tetap bersyukur. “Alhamdulillah, saat ini tidak musim hujan. Sehingga air tidak merembes dari atap,” ujarnya.

Solehudin pun mengaku sudah mendapat bantuan pemerintah. Dia mendapat Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD). Sementara ibunya, mendapatkan Program Kesejahteraan Sosial (PKH).

“Mendapat Bantuan Rp 300 ribu dari desa, dak tahu namanya apa. Masih sekali pemberiannya,” ujarnya. (hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2