alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Thursday, 11 August 2022

CJH asal Kab Probolinggo Ini Justru Lega Pemberangkatan Haji Ditunda

Tidak semua calon jamaah haji (CJH) yang batal berangkat di Kabupaten Probolinggo, merasa kecewa atau sedih. Di antara 765 CJH yang gagal berangkat, ada juga mereka yang justru lega atas pembatalan pemberangkatan jamaah haji oleh Pemerintah Indonesia itu. Salah satunya Rosidah, 54.

AGUS FAIZ MUSLEH, Probolinggo, Radar Bromo

Siaran Televisi pada Selasa (2/6) malam itu benar-benar membuat lega Rosidah, 54, warga RT 4/RW 1 Dusun Lumbang, Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Keputusan pemerintah menunda pemberangkatan jamaah haji tahun ini, baginya adalah keputusan tepat. Sebab, Rosidah sedang fokus memulihkan Muhammad Sugeng, 61, suaminya yang sedang sakit.

Ya, tahun ini Rosidah menjadi salah satu CJH Kabupaten Probolinggo yang seharusnya berangkat berhaji ke Makkah. Dia akan berangkat bersama suaminya, pensiunan polisi yang terakhir kali bertugas di Polsek Krejengan.

Namun, saat ini suaminya sedang sakit. Sehingga, membuatnya tidak dapat beraktivitas seperti biasa. Karena itu, Rosidah pun fokus merawat suaminya.

Rosidah sendiri selalu kepikiran suaminya yang sakit. Dia khawatir, suaminya itu tidak bisa menjalankan ibadah haji dengan khusyuk.

“Sebelumnya sempat kepikiran dengan Bapak (suami, Red) yang sakit. Takut ibadahnya tidak khusyuk lantaran penyakit yang dideritanya. Namun, pembatalan pemberangkatan jamaah haji itu membuat saya lega. Jadi, bisa berikhtiar memulihkan bapak sembari menunggu pemberangkatan tahun depan,” ujarnya saat ditemui Kamis (4/6) di rumahnya.

Bagi Rosidah, pembatalan itu merupakah takdir Allah yang tidak pernah disangka sebelumnya. Bahkan, tidak bisa dinalar. Dia yakin, ada hikmah luar biasa di balik semua itu. Baik bagi dirinya, maupun bagi CJH yang lain.

Rosidah bercerita, anak pertamanya yang bekerja di Jepang sangat ingin mengantarkan dirinya berhaji. “Kalau tahun 2020 berangkatnya, berarti Adik (anaknya, Red) tidak bisa melihat ibu berangkat,” ujarnya menirukan anak pertamanya.

Rencananya, anaknya itu akan pulang ke Indonesia pada 2021. Dengan tertundanya pemberangkatan haji itu, maka anaknya yang pertama bisa mengantarnya berangkat. Selain itu, anak bungsunya yang sedang menuntut ilmu di sebuah pesantren di Malang tahun ini sudah menginjak kelas tiga SMP.

Di sisi lain, Rosidah khawatir rumahnya tidak ada yang menunggu apabila berangkat tahun ini. Sebab, semua anaknya tidak di Pajarakan. Anak pertamanya di Jepang. Anak keduanya sudah menikah dan ikut suaminya. Dan anak ketiganya sekolah di Malang. Sementara tahun depan, semua anaknya bisa pulang ke Pajarakan.

“Semua jalan Allah mengandung hikmah. Terutama bagi saya. Tahun depan anak-anak di sini semua. Sungguh Allah yang maha menakdirkan,” ujarnya.

Rosidah pun berharap tahun depan dirinya bersama suami dapat berangkat berhaji dengan hati ikhlas tanpa khawatir apapun. Walaupun sebenarnya menurutnya, andai berangkat tahun ini, dirinya sudah siap. Sebab, dia juga akan membadalkan haji orang tua dan kedua mertuanya. Selain itu, juga berkurban di Makkah.

Hal serupa dirasakan pasangan suami istri Sumarto, 52 dan Kumaidatil Azizah, 44. CJH warga RT 9/RW 3 Desa Sumurdalam, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, ini menerima pembatalan itu dengan ikhlas dan lapang dada. Bagi keduanya, semua itu sudah menjadi jalan Allah.

“Jadi persiapan bisa terus diperkuat. Sehingga, saat sampai di Makkah ibadah dapat dengan leluasa dan tidak tergesa-gesa,” tutur Sumarto.

Walaupun sebenarnya, Sumarto dan istrinya sudah melakukan berbagai persiapan. Seperti olahraga untuk memperkuat fisik dan mental, serta persiapan finansial sebagai bekal saat berangkat nanti.

“Bagi kami, penundaan ini sangat tepat. Tahun depan saat tidak ada lagi virus korona, jamaah haji dapat bebas beribadah tanpa ada ketakutan. Dan insyaallah menuju haji yang mabrur,” ujar Sumarto yang mendaftar haji pada 2011. (hn)

Tidak semua calon jamaah haji (CJH) yang batal berangkat di Kabupaten Probolinggo, merasa kecewa atau sedih. Di antara 765 CJH yang gagal berangkat, ada juga mereka yang justru lega atas pembatalan pemberangkatan jamaah haji oleh Pemerintah Indonesia itu. Salah satunya Rosidah, 54.

AGUS FAIZ MUSLEH, Probolinggo, Radar Bromo

Siaran Televisi pada Selasa (2/6) malam itu benar-benar membuat lega Rosidah, 54, warga RT 4/RW 1 Dusun Lumbang, Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Keputusan pemerintah menunda pemberangkatan jamaah haji tahun ini, baginya adalah keputusan tepat. Sebab, Rosidah sedang fokus memulihkan Muhammad Sugeng, 61, suaminya yang sedang sakit.

Ya, tahun ini Rosidah menjadi salah satu CJH Kabupaten Probolinggo yang seharusnya berangkat berhaji ke Makkah. Dia akan berangkat bersama suaminya, pensiunan polisi yang terakhir kali bertugas di Polsek Krejengan.

Namun, saat ini suaminya sedang sakit. Sehingga, membuatnya tidak dapat beraktivitas seperti biasa. Karena itu, Rosidah pun fokus merawat suaminya.

Rosidah sendiri selalu kepikiran suaminya yang sakit. Dia khawatir, suaminya itu tidak bisa menjalankan ibadah haji dengan khusyuk.

“Sebelumnya sempat kepikiran dengan Bapak (suami, Red) yang sakit. Takut ibadahnya tidak khusyuk lantaran penyakit yang dideritanya. Namun, pembatalan pemberangkatan jamaah haji itu membuat saya lega. Jadi, bisa berikhtiar memulihkan bapak sembari menunggu pemberangkatan tahun depan,” ujarnya saat ditemui Kamis (4/6) di rumahnya.

Bagi Rosidah, pembatalan itu merupakah takdir Allah yang tidak pernah disangka sebelumnya. Bahkan, tidak bisa dinalar. Dia yakin, ada hikmah luar biasa di balik semua itu. Baik bagi dirinya, maupun bagi CJH yang lain.

Rosidah bercerita, anak pertamanya yang bekerja di Jepang sangat ingin mengantarkan dirinya berhaji. “Kalau tahun 2020 berangkatnya, berarti Adik (anaknya, Red) tidak bisa melihat ibu berangkat,” ujarnya menirukan anak pertamanya.

Rencananya, anaknya itu akan pulang ke Indonesia pada 2021. Dengan tertundanya pemberangkatan haji itu, maka anaknya yang pertama bisa mengantarnya berangkat. Selain itu, anak bungsunya yang sedang menuntut ilmu di sebuah pesantren di Malang tahun ini sudah menginjak kelas tiga SMP.

Di sisi lain, Rosidah khawatir rumahnya tidak ada yang menunggu apabila berangkat tahun ini. Sebab, semua anaknya tidak di Pajarakan. Anak pertamanya di Jepang. Anak keduanya sudah menikah dan ikut suaminya. Dan anak ketiganya sekolah di Malang. Sementara tahun depan, semua anaknya bisa pulang ke Pajarakan.

“Semua jalan Allah mengandung hikmah. Terutama bagi saya. Tahun depan anak-anak di sini semua. Sungguh Allah yang maha menakdirkan,” ujarnya.

Rosidah pun berharap tahun depan dirinya bersama suami dapat berangkat berhaji dengan hati ikhlas tanpa khawatir apapun. Walaupun sebenarnya menurutnya, andai berangkat tahun ini, dirinya sudah siap. Sebab, dia juga akan membadalkan haji orang tua dan kedua mertuanya. Selain itu, juga berkurban di Makkah.

Hal serupa dirasakan pasangan suami istri Sumarto, 52 dan Kumaidatil Azizah, 44. CJH warga RT 9/RW 3 Desa Sumurdalam, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, ini menerima pembatalan itu dengan ikhlas dan lapang dada. Bagi keduanya, semua itu sudah menjadi jalan Allah.

“Jadi persiapan bisa terus diperkuat. Sehingga, saat sampai di Makkah ibadah dapat dengan leluasa dan tidak tergesa-gesa,” tutur Sumarto.

Walaupun sebenarnya, Sumarto dan istrinya sudah melakukan berbagai persiapan. Seperti olahraga untuk memperkuat fisik dan mental, serta persiapan finansial sebagai bekal saat berangkat nanti.

“Bagi kami, penundaan ini sangat tepat. Tahun depan saat tidak ada lagi virus korona, jamaah haji dapat bebas beribadah tanpa ada ketakutan. Dan insyaallah menuju haji yang mabrur,” ujar Sumarto yang mendaftar haji pada 2011. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/