alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Saturday, 2 July 2022

Ummi Rizqiatur Rodhiah Sejak Kelas 2 MTs Sudah Mengajar Alquran

Usia Ummi Rizqiatur Rodhiah masih 19 tahun. Walau terbilang masih belia, dia sudah menghafalkan 1.114 surat di dalam ayat suci Alquran. Setelah menjadi hafiz, dara yang akrab disapa Dhiah itu ingin punya pondok pesantren.

————-

LALU-lalang anak kecil berpeci, terlihat girang di sebuah Taman Pendidikan Quran (TPQ) dan rumah Abdul Halim. Tak jarang para bocah berlari kecil dan senda gurau di lokasi pendidikan non-formal yang diasuh ustaz Suryadi Maksum dan ustazah Tutik rodlyah.

Lembaga pendidikan yang berada di Desa Bucor Wetan, Pakuniran tersebut, terbesit cita-cita untuk dijadikan pesantren oleh sang buah hati dari pengasuh.

Rizqiatur Rodhiah, putri pertama dari dua bersaudara, anak dari pengasuh, sudah menuntaskan hafalan 30 juz Alquran tersebut.

Rizqiatur Rodhiah sudah menuntaskan 30 juz Alquran pada pertengahan 2019 di pesantren Daarul Quran Takhassus, Banyuwangi. Ponpes tersebut merupakan cabang pembibitan penghafal Alquran (PPPA) Daarul Qur’an Takhassus yang berpusat di Jakarta.

“Setelah ini ingin rasanya meneruskan perjuangan ayah. Mengembangkan TPQ dan Rumah Tahfidz menjadi pesantren,” ujar remaja 19 tahun.

LULUS: Terlihat Rizqiatur (tengah) saat prosesi wisuda Alquran di PPPA Darul Quran Takhassus pusat bersama Ustad Yusuf Mansur selaku pendiri PPPA Darul Quran Takhassus. (Foto: Istimewa)

Menjadi hafizah adalah satu dari sekian pilihan dalam hidup Dhiah. Sejak lulus di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Syafi’iyah bucor Wetan, Dhiah melanjutkan sekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) pondok pesantren Islamiyah Syafi’iyah Paiton. Di sana bakat menghafal Alquran, mulai terlihat. Terbukti sejak kelas 2 MTS ia sudah menjadi ustazah dan mengajar Alquran.

“Mengajarnya tartil Alquran. Ada yang sejajar dengan saya kelasnya dan ada yang di atas saya seperti Madrasah Aliyah (MA),” ujarnya dengan rasa antusias menceritakan kehidupannya semasa mondok di Paiton.

Di akhir akhir masa pendidikannya, ia memberikan pilihan kepada orang tuanya terhadap kelanjutan pendidikannya. Dua pilihan diberikan yaitu antara melanjutkan ke pendidikan formal yang tidak usah ada kegiatan pondok, atau mondok di pesantren salaf yang tidak ada kegiatan pendidikan formalnya. Pilihan itu disebutnya agar dapat fokus saat melangsungkan menimba ilmu.

“Awalnya hendak dipondokkan di Salafiyah, Bangil. Ternyata pada saat itu pendaftarannya sudah ditutup,” ujarnya sembari tersenyum menghadap ke arah ayahnya yang yang sedang duduk di sampingnya.

Berbagai referensi pondok pesantren sudah dikantongi oleh ayah Dhiah. Sampai pada anjuran seorang teman, yang merekomendasikan untuk mau mondokkan anaknya di pesantren Darul Quran, Banyuwangi.

“Setelah usai ujian nasional, saya bingung mau melanjutkan ke mana. Ternyata melalui teman ayah, saya direkomendasikan untuk mondok di Darul Quran. Pertamanya mau di pusat, hanya saja karena jauh maka mondok di cabangnya yaitu Banyuwangi,” ujarnya.

Tidak semua anak dapat mondok di pesantren Darul Quran. Sebab menurut Dhiah, anak yang hendak masuk pesantren tersebut harus terlebih dahulu diuji. Mulai dari tes bacaan Alquran dan tes IQ.

“Selesai tes ternyata diterima di Jakarta atau di pusat. Namun ya tadi karena terlalu jauh, makanya mondok di cabang (Banyuwangi, Red) saja,” ujarnya.

Tahun 2017 akhir, Dhiah mulai menghafal di Pesantren Daarul Qur’an Banyuwangi. Sama seperti para hafiz lainnya, rasa jenuh juga menghampiri saat melakukan proses penghafalan. Setiap hari Ia melakukan penyetoran hafalan sebanyak 4 kali 2 lembar Alquran.

“Dibaca dulu semuanya hingga lancar tidak ada yang salah, baru dihafalin sepotong-sepotong. Hingga sampai setengah dan akhirnya hafal,” ujarnya perempuan yang suka menulis tersebut.

Sebelum dan sesudah salat dhuha di pagi hari, adalah waktu kesukaannya untuk menghafal. Selain masih fresh, pikiran juga masih dalam keadaan tenang. Dalam proses menghafal, dia tak suka jika keadaan situasi sepi. “Jika sepi, malah saya gampang melamun. Sehingga pikiran kemana-mana. Paling tidak saat menghafal ada teman di samping, agar tidak sepi,” ujarnya.

Saat jenuh menghinggapi, Dhiah menyebut, motivasi terbesarnya dalam mendorong penuntasan hafalan Alquran tidak lain adalah kedua orang tua dan teman-teman yang ada di Pesantren Daarul Qur’an. “Kalau sudah malas, saya ingat orang tua. Selain itu juga melihat teman. Masa teman bisa, saya tidak bisa. Dari sanalah semangat kembali muncul untuk menuntaskan hafalan,” ujarnya.

Saat ini dirinya juga sedang membantu ayahnya dalam mendidik santri di rumahnya. Sejatinya ia masih ada di masa pengabdian. Dhiah mestinya ditugaskan di daerah Medan untuk memberi pelajaran Alquran di sana.

“Mungkin setelah lebaran ini kembali lagi ke Medan, sebab masih kurang 2 bulan pengabdiannya. Sementara ini masih membantu ayah dan ibu di lembaga,” ujarnya.

Dengan menjadi hafiz Auran, banyak wali santri yang mulai semangat untuk juga menjadikan anaknya sebagai penghafal Auran. Utamanya dari santri-santri yang mengemban ilmu di lembaga TPQ milik ayah dhiah.

“Niat kami selaku orang tua memang ingin memiliki penerus, karena di sini juga ada lembaga. Dan Alhamdulillah cita-cita anak juga selaras dengan cita-cita orang tuanya, yaitu terus ingin memajukan lembaga,” ujar Suryadi Maksum dengan nampak mata berkaca-kaca.

Ayah dari 2 orang anak tersebut menuturkan, potensi Dhiah sudah terlihat sejak ia masih kecil. Saat usianya masih 10 tahun, Dhiah membaca Alquran sudah sangat lancar. Mungkin karena metode-metode yang digunakan oleh dirinya dan istri, sebagai ustaz pertama yang mengajarinya dinilai bagus.

“Yang mengajar itu keseringan ibunya. Kelas 4 MI sudah lancar. Dari sanalah potensi membaca Alqurannya coba kami asah. Alhamdulillah bisa sampai menjadi hafiz 30 juz,” ujarnya. (agus faiz musleh/fun)

Usia Ummi Rizqiatur Rodhiah masih 19 tahun. Walau terbilang masih belia, dia sudah menghafalkan 1.114 surat di dalam ayat suci Alquran. Setelah menjadi hafiz, dara yang akrab disapa Dhiah itu ingin punya pondok pesantren.

————-

LALU-lalang anak kecil berpeci, terlihat girang di sebuah Taman Pendidikan Quran (TPQ) dan rumah Abdul Halim. Tak jarang para bocah berlari kecil dan senda gurau di lokasi pendidikan non-formal yang diasuh ustaz Suryadi Maksum dan ustazah Tutik rodlyah.

Lembaga pendidikan yang berada di Desa Bucor Wetan, Pakuniran tersebut, terbesit cita-cita untuk dijadikan pesantren oleh sang buah hati dari pengasuh.

Rizqiatur Rodhiah, putri pertama dari dua bersaudara, anak dari pengasuh, sudah menuntaskan hafalan 30 juz Alquran tersebut.

Rizqiatur Rodhiah sudah menuntaskan 30 juz Alquran pada pertengahan 2019 di pesantren Daarul Quran Takhassus, Banyuwangi. Ponpes tersebut merupakan cabang pembibitan penghafal Alquran (PPPA) Daarul Qur’an Takhassus yang berpusat di Jakarta.

“Setelah ini ingin rasanya meneruskan perjuangan ayah. Mengembangkan TPQ dan Rumah Tahfidz menjadi pesantren,” ujar remaja 19 tahun.

LULUS: Terlihat Rizqiatur (tengah) saat prosesi wisuda Alquran di PPPA Darul Quran Takhassus pusat bersama Ustad Yusuf Mansur selaku pendiri PPPA Darul Quran Takhassus. (Foto: Istimewa)

Menjadi hafizah adalah satu dari sekian pilihan dalam hidup Dhiah. Sejak lulus di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Syafi’iyah bucor Wetan, Dhiah melanjutkan sekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) pondok pesantren Islamiyah Syafi’iyah Paiton. Di sana bakat menghafal Alquran, mulai terlihat. Terbukti sejak kelas 2 MTS ia sudah menjadi ustazah dan mengajar Alquran.

“Mengajarnya tartil Alquran. Ada yang sejajar dengan saya kelasnya dan ada yang di atas saya seperti Madrasah Aliyah (MA),” ujarnya dengan rasa antusias menceritakan kehidupannya semasa mondok di Paiton.

Di akhir akhir masa pendidikannya, ia memberikan pilihan kepada orang tuanya terhadap kelanjutan pendidikannya. Dua pilihan diberikan yaitu antara melanjutkan ke pendidikan formal yang tidak usah ada kegiatan pondok, atau mondok di pesantren salaf yang tidak ada kegiatan pendidikan formalnya. Pilihan itu disebutnya agar dapat fokus saat melangsungkan menimba ilmu.

“Awalnya hendak dipondokkan di Salafiyah, Bangil. Ternyata pada saat itu pendaftarannya sudah ditutup,” ujarnya sembari tersenyum menghadap ke arah ayahnya yang yang sedang duduk di sampingnya.

Berbagai referensi pondok pesantren sudah dikantongi oleh ayah Dhiah. Sampai pada anjuran seorang teman, yang merekomendasikan untuk mau mondokkan anaknya di pesantren Darul Quran, Banyuwangi.

“Setelah usai ujian nasional, saya bingung mau melanjutkan ke mana. Ternyata melalui teman ayah, saya direkomendasikan untuk mondok di Darul Quran. Pertamanya mau di pusat, hanya saja karena jauh maka mondok di cabangnya yaitu Banyuwangi,” ujarnya.

Tidak semua anak dapat mondok di pesantren Darul Quran. Sebab menurut Dhiah, anak yang hendak masuk pesantren tersebut harus terlebih dahulu diuji. Mulai dari tes bacaan Alquran dan tes IQ.

“Selesai tes ternyata diterima di Jakarta atau di pusat. Namun ya tadi karena terlalu jauh, makanya mondok di cabang (Banyuwangi, Red) saja,” ujarnya.

Tahun 2017 akhir, Dhiah mulai menghafal di Pesantren Daarul Qur’an Banyuwangi. Sama seperti para hafiz lainnya, rasa jenuh juga menghampiri saat melakukan proses penghafalan. Setiap hari Ia melakukan penyetoran hafalan sebanyak 4 kali 2 lembar Alquran.

“Dibaca dulu semuanya hingga lancar tidak ada yang salah, baru dihafalin sepotong-sepotong. Hingga sampai setengah dan akhirnya hafal,” ujarnya perempuan yang suka menulis tersebut.

Sebelum dan sesudah salat dhuha di pagi hari, adalah waktu kesukaannya untuk menghafal. Selain masih fresh, pikiran juga masih dalam keadaan tenang. Dalam proses menghafal, dia tak suka jika keadaan situasi sepi. “Jika sepi, malah saya gampang melamun. Sehingga pikiran kemana-mana. Paling tidak saat menghafal ada teman di samping, agar tidak sepi,” ujarnya.

Saat jenuh menghinggapi, Dhiah menyebut, motivasi terbesarnya dalam mendorong penuntasan hafalan Alquran tidak lain adalah kedua orang tua dan teman-teman yang ada di Pesantren Daarul Qur’an. “Kalau sudah malas, saya ingat orang tua. Selain itu juga melihat teman. Masa teman bisa, saya tidak bisa. Dari sanalah semangat kembali muncul untuk menuntaskan hafalan,” ujarnya.

Saat ini dirinya juga sedang membantu ayahnya dalam mendidik santri di rumahnya. Sejatinya ia masih ada di masa pengabdian. Dhiah mestinya ditugaskan di daerah Medan untuk memberi pelajaran Alquran di sana.

“Mungkin setelah lebaran ini kembali lagi ke Medan, sebab masih kurang 2 bulan pengabdiannya. Sementara ini masih membantu ayah dan ibu di lembaga,” ujarnya.

Dengan menjadi hafiz Auran, banyak wali santri yang mulai semangat untuk juga menjadikan anaknya sebagai penghafal Auran. Utamanya dari santri-santri yang mengemban ilmu di lembaga TPQ milik ayah dhiah.

“Niat kami selaku orang tua memang ingin memiliki penerus, karena di sini juga ada lembaga. Dan Alhamdulillah cita-cita anak juga selaras dengan cita-cita orang tuanya, yaitu terus ingin memajukan lembaga,” ujar Suryadi Maksum dengan nampak mata berkaca-kaca.

Ayah dari 2 orang anak tersebut menuturkan, potensi Dhiah sudah terlihat sejak ia masih kecil. Saat usianya masih 10 tahun, Dhiah membaca Alquran sudah sangat lancar. Mungkin karena metode-metode yang digunakan oleh dirinya dan istri, sebagai ustaz pertama yang mengajarinya dinilai bagus.

“Yang mengajar itu keseringan ibunya. Kelas 4 MI sudah lancar. Dari sanalah potensi membaca Alqurannya coba kami asah. Alhamdulillah bisa sampai menjadi hafiz 30 juz,” ujarnya. (agus faiz musleh/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/