alexametrics
30.5 C
Probolinggo
Sunday, 3 July 2022

Cerita Warga Binaan Rutan Bangil Membuat Sabun Cuci Murah

Banyak baju warga binaan Rutan Bangil yang bau. Sementara untuk membeli sabun cuci, banyak yang tidak mampu. Dua fakta ini pun menginspirasi warga binaan setempat untuk membuat sabun cuci sendiri.

IWAN ANDRIK, Bangil, Radar Bromo

Kini Rutan Kelas IIB Bangil punya sabun cuci sendiri. Sabun yang dibuat oleh warga binaan. Ada tiga varian sabun yang diproduksi. Semuanya memiliki fungsi yang berbeda.

Warna hijau untuk mencuci piring. Warna biru untuk mencuci baju. Dan warna putih untuk pengharum dan pelembut.

Pembuatan sabun cuci itu pun punya latar belakang yang unik. Warga binaan sangat membutuhkan sabun cuci. Namun, ternyata tidak semuanya bisa membeli. Harga sabun cuci yang sebenarnya relatif murah, tetap tidak bisa mereka jangkau.

“Ini yang akhirnya menginspirasi kami untuk menciptakan sabun cuci. Karena kebutuhannya tinggi. Sementara kan tidak semua mampu membeli,” ungkap Yunita, staf pelayanan tahanan Rutan Bangil.

Yunita menguraikan, inspirasi itu muncul seiring kendornya produksi tempe di Rutan Bangil. Pandemi Covid-19, membuat kreasi jajanan tempe warga binaan menyusut. Sehingga, ia dan petugas Rutan Bangil lainnya berpikir keras untuk memberdayakan warga binaan.

“Kami gali potensi. Kreasi apa yang tahan banting saat pandemi. Supaya bisa memberi bekal bagi warga binaan nantinya setelah keluar,” imbuhnya saat mendampingi Kepala Rutan Bangil Tristiantoro Adi Wibowo.

Ia pun sharing dengan warga binaan. Sambil mengamati lingkungan sekitar. Di situ, ia melihat banyak pakaian warga binaan. Tidak sedikit yang tergeletak di kamar. Bahkan, ada pula yang sampai bau tidak enak.

“Saya juga sering melihat mereka cuci-cuci pakaian. Dari situ, kami melihat peluang. Kenapa tidak membuat sabun cuci sendiri,” kenangnya.

Bak gayung bersambut. Ada warga binaan setempat yang dulunya pernah memiliki usaha laundry. Dari situ produksi pembuatan sabun cuci pun dimulai.

Yunita mengungkapkan, produksi sabun cuci dimulai pada Maret 2021. Beberapa warga binaan perempuan dilibatkan. Mereka yang membuat. Sementara, Rutan Bangil menyiapkan bahan bakunya.

Ada beberapa bahan baku yang dibutuhkan. Mulai textafon, antibakteri, hingga antinoda dan bahan lainnya. Semuanya dicampur. Sehari, mereka bisa memproduksi tujuh sampai delapan liter sabun cuci.

“Sabun tersebut kemudian dikemas. Memang masih sedikit produksi yang kami lakukan. Tapi, akan terus kami kembangkan,” imbuhnya.

Produk yang dinamai Pas Clean itu, baru dimanfaatkan untuk warga binaan setempat. Tentu saja harus membeli. Karena biaya tersebut untuk pembelian bahan dan pengembangan produksi agar bisa terus bertahan.

Tentu saja, harganya lebih murah daripada produk di pasaran. Untuk sabun cuci piring misalnya. Per botol dengan volume 500 ml, hanya dibandrol Rp 5 ribu sampai Rp 6 ribu. Bandingkan dengan sabun cuci piring pada umumnya. Bisa dihargai Rp 10 ribu per 500 ml.

“Kami memproduksinya di bengkel kreasi Rutan Bangil. Tentu harganya sangat murah dibandingkan produk pabrikan,” tandasnya.

Sejauh ini, produk tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan di dalam rutan. Belum sampai dipasarkan keluar. Maklum, produksinya masih minim. Dan lagi untuk memenuhi kebutuhan warga binaan, masih kurang.

Kepala Rutan Bangil Tristiantoro Adi Wibowo mengungkapkan, kreasi pembuatan sabun cair ini diharapkan bisa menjadi bekal ketika warga binaan keluar tahanan. Mereka bisa mengembangkan usaha dari apa yang mereka dapatkan.

“Ketika mereka keluar tahanan nanti, setidaknya memiliki kemampuan untuk berkreasi. Supaya tidak lagi terjerumus ke jalan yang salah,” terang dia.

Sementara itu, Untari, warga binaan Rutan Bangil mengakui, keterampilan tersebut sangat dibutuhkan. Karena ketika keluar penjara, pasti ia akan kesulitan untuk bekerja seperti sebelumnya. Dari keterampilan itu, ia bisa mengembangkan diri.

“Saya akan kembangkan bisnis laundry. Karena kalau balik ke tempat kerja saya yang dulu akan mustahil,” jelas mantan pegawai bank tersebut. (hn)

Banyak baju warga binaan Rutan Bangil yang bau. Sementara untuk membeli sabun cuci, banyak yang tidak mampu. Dua fakta ini pun menginspirasi warga binaan setempat untuk membuat sabun cuci sendiri.

IWAN ANDRIK, Bangil, Radar Bromo

Kini Rutan Kelas IIB Bangil punya sabun cuci sendiri. Sabun yang dibuat oleh warga binaan. Ada tiga varian sabun yang diproduksi. Semuanya memiliki fungsi yang berbeda.

Warna hijau untuk mencuci piring. Warna biru untuk mencuci baju. Dan warna putih untuk pengharum dan pelembut.

Pembuatan sabun cuci itu pun punya latar belakang yang unik. Warga binaan sangat membutuhkan sabun cuci. Namun, ternyata tidak semuanya bisa membeli. Harga sabun cuci yang sebenarnya relatif murah, tetap tidak bisa mereka jangkau.

“Ini yang akhirnya menginspirasi kami untuk menciptakan sabun cuci. Karena kebutuhannya tinggi. Sementara kan tidak semua mampu membeli,” ungkap Yunita, staf pelayanan tahanan Rutan Bangil.

Yunita menguraikan, inspirasi itu muncul seiring kendornya produksi tempe di Rutan Bangil. Pandemi Covid-19, membuat kreasi jajanan tempe warga binaan menyusut. Sehingga, ia dan petugas Rutan Bangil lainnya berpikir keras untuk memberdayakan warga binaan.

“Kami gali potensi. Kreasi apa yang tahan banting saat pandemi. Supaya bisa memberi bekal bagi warga binaan nantinya setelah keluar,” imbuhnya saat mendampingi Kepala Rutan Bangil Tristiantoro Adi Wibowo.

Ia pun sharing dengan warga binaan. Sambil mengamati lingkungan sekitar. Di situ, ia melihat banyak pakaian warga binaan. Tidak sedikit yang tergeletak di kamar. Bahkan, ada pula yang sampai bau tidak enak.

“Saya juga sering melihat mereka cuci-cuci pakaian. Dari situ, kami melihat peluang. Kenapa tidak membuat sabun cuci sendiri,” kenangnya.

Bak gayung bersambut. Ada warga binaan setempat yang dulunya pernah memiliki usaha laundry. Dari situ produksi pembuatan sabun cuci pun dimulai.

Yunita mengungkapkan, produksi sabun cuci dimulai pada Maret 2021. Beberapa warga binaan perempuan dilibatkan. Mereka yang membuat. Sementara, Rutan Bangil menyiapkan bahan bakunya.

Ada beberapa bahan baku yang dibutuhkan. Mulai textafon, antibakteri, hingga antinoda dan bahan lainnya. Semuanya dicampur. Sehari, mereka bisa memproduksi tujuh sampai delapan liter sabun cuci.

“Sabun tersebut kemudian dikemas. Memang masih sedikit produksi yang kami lakukan. Tapi, akan terus kami kembangkan,” imbuhnya.

Produk yang dinamai Pas Clean itu, baru dimanfaatkan untuk warga binaan setempat. Tentu saja harus membeli. Karena biaya tersebut untuk pembelian bahan dan pengembangan produksi agar bisa terus bertahan.

Tentu saja, harganya lebih murah daripada produk di pasaran. Untuk sabun cuci piring misalnya. Per botol dengan volume 500 ml, hanya dibandrol Rp 5 ribu sampai Rp 6 ribu. Bandingkan dengan sabun cuci piring pada umumnya. Bisa dihargai Rp 10 ribu per 500 ml.

“Kami memproduksinya di bengkel kreasi Rutan Bangil. Tentu harganya sangat murah dibandingkan produk pabrikan,” tandasnya.

Sejauh ini, produk tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan di dalam rutan. Belum sampai dipasarkan keluar. Maklum, produksinya masih minim. Dan lagi untuk memenuhi kebutuhan warga binaan, masih kurang.

Kepala Rutan Bangil Tristiantoro Adi Wibowo mengungkapkan, kreasi pembuatan sabun cair ini diharapkan bisa menjadi bekal ketika warga binaan keluar tahanan. Mereka bisa mengembangkan usaha dari apa yang mereka dapatkan.

“Ketika mereka keluar tahanan nanti, setidaknya memiliki kemampuan untuk berkreasi. Supaya tidak lagi terjerumus ke jalan yang salah,” terang dia.

Sementara itu, Untari, warga binaan Rutan Bangil mengakui, keterampilan tersebut sangat dibutuhkan. Karena ketika keluar penjara, pasti ia akan kesulitan untuk bekerja seperti sebelumnya. Dari keterampilan itu, ia bisa mengembangkan diri.

“Saya akan kembangkan bisnis laundry. Karena kalau balik ke tempat kerja saya yang dulu akan mustahil,” jelas mantan pegawai bank tersebut. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/