alexametrics
26C
Probolinggo
Friday, 23 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Sparko, Olahraga Ala Militer yang Peminatnya Bermunculan di Pasuruan

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Spartan Komando. Itulah singkatan Sparko. Olahraga ala prajurit militer ini, sudah merambah di Pasuruan. Olahraga ini benar-benar-benar menguras energi.

—————–

LANGIT hampir gelap. Puluhan anak muda, laki-laki dan perempuan, sudah bermandikan keringat. Peluh membasahi di dahi. Mengalir di sela pelipis mata hingga ke ujung dagu. Sebagian jatuh ke tanah. Baju yang mereka pakai, basah kuyup karenanya. Sebagian terlihat lelah. Namun tidak sedikit yang masih bersemangat.

Kurang dari 45 menit waktu Magrib, puluhan anak muda masih itu menuntaskan latihan. Mereka sudah melampaui lebih dari 15 repetisi gerakan.

Ada 30 repetisi gerakan dalam latihan di Stadion Untung Suropati, sore itu. Muhammad Ichwan membaginya dalam dua set program latihan. Sebagai coach, dialah yang memandu puluhan anak muda itu berlatih.

Beragam gerakan yang diperagakan. Misalnya, Spiderman Push Up, Russian Twist, Bicycle Crunch, Tiger Push Up dan banyak lagi jenis gerakan lain. Gerakan-gerakan semacam itu menjadi menu utama mereka setiap kali latihan. Terkadang, Ichwan juga mengutak-atik variasi gerakan agar tak bosan.

Salah satu menu gerakan sore itu yakni Butterfly. Membayangkan namanya, memang terkesan sweet. Tapi jangan terkecoh. Karena jika dipraktikkan, justru gerakan itu akan membuat sweat alias berkeringat. Gerakannya diawali dengan posisi tubuh telentang. Kemudian melipat kedua kaki ke arah paha dalam. Bagian lutut hampir bertemu dengan dada yang juga bergerak naik. Gerakan itu diulang-ulang hingga 20 kali.

SEHAT: Penggemar sparko saat berlatih. Sebagian besar peminat olahraga ini, mengaku njarem di badan hingga kepala pusing, saat pertama berlatih. (Foto: M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Bagaimana, sudah berkeringat?

Selama latihan, anak-anak Sparko memang tak menggunakan alat apapun. ”Karena memang hanya memanfaatkan beban badan kita sendiri untuk melatih fisik,” kata Ichwan.

Meski begitu, mereka yang berlatih tidak dipaksa harus mengulang gerakan sebanyak 20 kali, sesuai instruksi Ichwan. Sebab kalau dipaksa, bisa-bisa cidera. Sebelum latihan, Ichwan juga mewanti-wanti agar tak memaksakan diri. ”Karena yang bisa mengukur kemampuan itu kan diri kita sendiri. Jadi kalau sudah terasa lelah, istirahat,” jelasnya.

Sparko sejatinya diprakarsai seorang perwira TNI AD. Namanya Letkol Inf Eka Wira Dharmawan. Meski pendirinya seorang prajurit militer, Sparko bisa diikuti oleh siapa saja. Sedari awal, Sparko memang dibentuk untuk mengajak masyarakat menjaga pola hidup sehat melalui olahraga teratur.

Buktinya, Ichwan yang berprofesi sebagai tour guide, bisa menjadi coach. Tiga kali dalam sepekan, dia melatih sedikitnya 213 anak muda yang tergabung dalam Sparko Pasuruan. Ichwan tidak begitu saja dipilih sebagai coach. Dia punya cerita panjang sebelum tubuhnya kini kekar dan berotot.

Cerita itulah yang membuatnya lebih sering dipanggil Ceking. Julukan yang mengarah pada ejekan. Pria 28 tahun itu mengakui, sejak masih SMA, dia memang kerap jadi sasaran bully. Sama siapa lagi kalau bukan oleh teman sekolahnya. Tubuhnya yang kurus kerempeng membuatnya jadi bahan olok-olok kala itu.

”Tapi saya tidak ada rasa marah dikatai. Memang postur saya dulunya begitu. Pantas saja kalau dijuluki Ceking,” kelakar Ichwan.

Dia tak membayangkan, jika dulu teman-temannya tak menjulukinya dengan panggilan Ceking. ”Mungkin saya tetap kurus pendek ya,” katanya. Semua itu justru menjadikan Ichwan tergerak untuk berolahraga. ”Itu saya anggap motivasi,” bebernya.

Semakin giat berlatih, dia lantas sering mengikuti gerakan-gerakan yang diajarkan Letkol Inf Eka Wira. ”Lalu ada teman yang usul, mending ikut latihan Sparko disini. Tapi perlu izin dulu kan, saya mikirnya bang Eka orang sibuk,” ujar pria asal Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan.

Tetapi ia akhirnya bisa berkomunikasi dengan Eka Wira, meski sebatas lewat media sosial. Tepatnya pada 2019 lalu. Dari sana, Ichwan mendalami variasi gerakan Sparko. Termasuk teknik warming up dan stretching yang benar. Setahun kemudian, sekitar Agustus 2020, Ichwan mengantongi sertifikat coach Sparko.

”Waktu awal-awal, yang ikut cuma 35 atau 40 orang. Mereka lalu ngajak teman-temannya gabung, akhirnya sekarang jumlahnya 213 peserta,” kata Ichwan.

Menurutnya, di awal latihan memang akan terasa pegal. ”Njaremi itu pasti. Karena setelah latihan ototnya itu mulai membentuk. Makanya latihannya jeda sehari istirahat,” katanya.

Membentuk tubuh ideal, kata Ichwan, memang perlu ketekunan berlatih. Serta menjaga pola makan dan istirahat teratur. Jika semua itu diterapkan, hasil latihan sudah bisa terlihat dalam dua bulan. ”Sekarang ada dua peserta kami yang baru lolos pendidikan militer, TNI AD dan AL,” tandasnya.

M Zainul Fanani juga mengaku banyak keluhan saat kali pertama ikut latihan Sparko, sebulan lalu. ”Badan njaremi, pusing, terutama saat latihan lebih sering dehidrasi,” katanya. Tapi semua itu hanya sebentar. Remaja yang akrab disapa Ifan itu sangat menikmati olahraga barunya.

”Dulu sering fitness. Tapi sekarang sudah terbiasa ikut gerakan di Sparko,” kata pelajar kelas 3 SMK itu. (tom/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

Spartan Komando. Itulah singkatan Sparko. Olahraga ala prajurit militer ini, sudah merambah di Pasuruan. Olahraga ini benar-benar-benar menguras energi.

—————–

LANGIT hampir gelap. Puluhan anak muda, laki-laki dan perempuan, sudah bermandikan keringat. Peluh membasahi di dahi. Mengalir di sela pelipis mata hingga ke ujung dagu. Sebagian jatuh ke tanah. Baju yang mereka pakai, basah kuyup karenanya. Sebagian terlihat lelah. Namun tidak sedikit yang masih bersemangat.

Mobile_AP_Half Page

Kurang dari 45 menit waktu Magrib, puluhan anak muda masih itu menuntaskan latihan. Mereka sudah melampaui lebih dari 15 repetisi gerakan.

Ada 30 repetisi gerakan dalam latihan di Stadion Untung Suropati, sore itu. Muhammad Ichwan membaginya dalam dua set program latihan. Sebagai coach, dialah yang memandu puluhan anak muda itu berlatih.

Beragam gerakan yang diperagakan. Misalnya, Spiderman Push Up, Russian Twist, Bicycle Crunch, Tiger Push Up dan banyak lagi jenis gerakan lain. Gerakan-gerakan semacam itu menjadi menu utama mereka setiap kali latihan. Terkadang, Ichwan juga mengutak-atik variasi gerakan agar tak bosan.

Salah satu menu gerakan sore itu yakni Butterfly. Membayangkan namanya, memang terkesan sweet. Tapi jangan terkecoh. Karena jika dipraktikkan, justru gerakan itu akan membuat sweat alias berkeringat. Gerakannya diawali dengan posisi tubuh telentang. Kemudian melipat kedua kaki ke arah paha dalam. Bagian lutut hampir bertemu dengan dada yang juga bergerak naik. Gerakan itu diulang-ulang hingga 20 kali.

SEHAT: Penggemar sparko saat berlatih. Sebagian besar peminat olahraga ini, mengaku njarem di badan hingga kepala pusing, saat pertama berlatih. (Foto: M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Bagaimana, sudah berkeringat?

Selama latihan, anak-anak Sparko memang tak menggunakan alat apapun. ”Karena memang hanya memanfaatkan beban badan kita sendiri untuk melatih fisik,” kata Ichwan.

Meski begitu, mereka yang berlatih tidak dipaksa harus mengulang gerakan sebanyak 20 kali, sesuai instruksi Ichwan. Sebab kalau dipaksa, bisa-bisa cidera. Sebelum latihan, Ichwan juga mewanti-wanti agar tak memaksakan diri. ”Karena yang bisa mengukur kemampuan itu kan diri kita sendiri. Jadi kalau sudah terasa lelah, istirahat,” jelasnya.

Sparko sejatinya diprakarsai seorang perwira TNI AD. Namanya Letkol Inf Eka Wira Dharmawan. Meski pendirinya seorang prajurit militer, Sparko bisa diikuti oleh siapa saja. Sedari awal, Sparko memang dibentuk untuk mengajak masyarakat menjaga pola hidup sehat melalui olahraga teratur.

Buktinya, Ichwan yang berprofesi sebagai tour guide, bisa menjadi coach. Tiga kali dalam sepekan, dia melatih sedikitnya 213 anak muda yang tergabung dalam Sparko Pasuruan. Ichwan tidak begitu saja dipilih sebagai coach. Dia punya cerita panjang sebelum tubuhnya kini kekar dan berotot.

Cerita itulah yang membuatnya lebih sering dipanggil Ceking. Julukan yang mengarah pada ejekan. Pria 28 tahun itu mengakui, sejak masih SMA, dia memang kerap jadi sasaran bully. Sama siapa lagi kalau bukan oleh teman sekolahnya. Tubuhnya yang kurus kerempeng membuatnya jadi bahan olok-olok kala itu.

”Tapi saya tidak ada rasa marah dikatai. Memang postur saya dulunya begitu. Pantas saja kalau dijuluki Ceking,” kelakar Ichwan.

Dia tak membayangkan, jika dulu teman-temannya tak menjulukinya dengan panggilan Ceking. ”Mungkin saya tetap kurus pendek ya,” katanya. Semua itu justru menjadikan Ichwan tergerak untuk berolahraga. ”Itu saya anggap motivasi,” bebernya.

Semakin giat berlatih, dia lantas sering mengikuti gerakan-gerakan yang diajarkan Letkol Inf Eka Wira. ”Lalu ada teman yang usul, mending ikut latihan Sparko disini. Tapi perlu izin dulu kan, saya mikirnya bang Eka orang sibuk,” ujar pria asal Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan.

Tetapi ia akhirnya bisa berkomunikasi dengan Eka Wira, meski sebatas lewat media sosial. Tepatnya pada 2019 lalu. Dari sana, Ichwan mendalami variasi gerakan Sparko. Termasuk teknik warming up dan stretching yang benar. Setahun kemudian, sekitar Agustus 2020, Ichwan mengantongi sertifikat coach Sparko.

”Waktu awal-awal, yang ikut cuma 35 atau 40 orang. Mereka lalu ngajak teman-temannya gabung, akhirnya sekarang jumlahnya 213 peserta,” kata Ichwan.

Menurutnya, di awal latihan memang akan terasa pegal. ”Njaremi itu pasti. Karena setelah latihan ototnya itu mulai membentuk. Makanya latihannya jeda sehari istirahat,” katanya.

Membentuk tubuh ideal, kata Ichwan, memang perlu ketekunan berlatih. Serta menjaga pola makan dan istirahat teratur. Jika semua itu diterapkan, hasil latihan sudah bisa terlihat dalam dua bulan. ”Sekarang ada dua peserta kami yang baru lolos pendidikan militer, TNI AD dan AL,” tandasnya.

M Zainul Fanani juga mengaku banyak keluhan saat kali pertama ikut latihan Sparko, sebulan lalu. ”Badan njaremi, pusing, terutama saat latihan lebih sering dehidrasi,” katanya. Tapi semua itu hanya sebentar. Remaja yang akrab disapa Ifan itu sangat menikmati olahraga barunya.

”Dulu sering fitness. Tapi sekarang sudah terbiasa ikut gerakan di Sparko,” kata pelajar kelas 3 SMK itu. (tom/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2