alexametrics
25.9 C
Probolinggo
Friday, 28 January 2022

Guru Tak Tetap di SMKN 1 Bangil Ini Banyak Merancang Aplikasi

KEAHLIAN Muhammad Sobirin, 30, dalam merancang aplikasi mendatangkan banyak keuntungan. Bukan hanya menambah banyak teman dan membantu banyak lembaga. Berkat aplikasi yang dibuatnya pula, Guru Tidak Tetap (GTT) di SMKN 1 Bangil ini memperoleh banyak pundi-pundi uang.

Deretan nama siswa muncul ketika e-screening Covid-19 dibukanya. Dari situ, muncul deteksi dini siswa-siswa yang masuk risiko tinggi.

Begitu data muncul, pihak sekolah akan memberikan konfirmasi. Apakah siswa tersebut boleh masuk sekolah atau harus pulang lantaran kondisinya tidak dalam keadaan fit.

“Dari aplikasi ini, nantinya akan diketahui mana siswa yang masuk risiko tinggi dan mana yang tidak. Dan dari situ pula bisa diputuskan apakah siswa tersebut boleh tatap muka atau lebih baik pulang ke rumah,” kata M. Sobirin saat ditemui di SMKN 1 Bangil, Kamis (6/1).

Menurut Sobirin, aplikasi tersebut merupakan salah satu karyanya. Mirip aplikasi PeduliLindungi milik pemerintah. Namun, aplikasi itu lebih dulu dirancangnya sebelum aplikasi PeduliLindungi dirilis. Bahkan, aplikasi e-screening sudah dipakai sebelum aplikasi PeduliLindungi marak diberlakukan saat ini.

“Aplikasi ini merupakan screening Covid-19 secara digital. Selain SMKN 1 Bangil, aplikasi ini sempat mau dipakai salah satu kecamatan. Tapi, belum terealisasi,” bebernya.

Guru asal Lajuk, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, itu mengaku, bukan hanya e-screening aplikasi yang dirancangnya. Ada puluhan aplikasi lain yang sudah dibuat. Tidak hanya yang berhubungan dengan lembaga pendidikan, seperti ujian online. Tetapi, juga game dan aplikasi lain.

KEAHLIAN Muhammad Sobirin, 30, dalam merancang aplikasi mendatangkan banyak keuntungan. Bukan hanya menambah banyak teman dan membantu banyak lembaga. Berkat aplikasi yang dibuatnya pula, Guru Tidak Tetap (GTT) di SMKN 1 Bangil ini memperoleh banyak pundi-pundi uang.

Deretan nama siswa muncul ketika e-screening Covid-19 dibukanya. Dari situ, muncul deteksi dini siswa-siswa yang masuk risiko tinggi.

Begitu data muncul, pihak sekolah akan memberikan konfirmasi. Apakah siswa tersebut boleh masuk sekolah atau harus pulang lantaran kondisinya tidak dalam keadaan fit.

“Dari aplikasi ini, nantinya akan diketahui mana siswa yang masuk risiko tinggi dan mana yang tidak. Dan dari situ pula bisa diputuskan apakah siswa tersebut boleh tatap muka atau lebih baik pulang ke rumah,” kata M. Sobirin saat ditemui di SMKN 1 Bangil, Kamis (6/1).

Menurut Sobirin, aplikasi tersebut merupakan salah satu karyanya. Mirip aplikasi PeduliLindungi milik pemerintah. Namun, aplikasi itu lebih dulu dirancangnya sebelum aplikasi PeduliLindungi dirilis. Bahkan, aplikasi e-screening sudah dipakai sebelum aplikasi PeduliLindungi marak diberlakukan saat ini.

“Aplikasi ini merupakan screening Covid-19 secara digital. Selain SMKN 1 Bangil, aplikasi ini sempat mau dipakai salah satu kecamatan. Tapi, belum terealisasi,” bebernya.

Guru asal Lajuk, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, itu mengaku, bukan hanya e-screening aplikasi yang dirancangnya. Ada puluhan aplikasi lain yang sudah dibuat. Tidak hanya yang berhubungan dengan lembaga pendidikan, seperti ujian online. Tetapi, juga game dan aplikasi lain.

MOST READ

BERITA TERBARU