alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Thursday, 11 August 2022

Melihat Pameran Seni Gambar di Gedung Serbaguna Yonzipur 10 Pasuruan

Makin tingginya kegiatan seni dan pameran di Pasuruan, membuat Galeri Nasional mengadakan pameran seni drawing di Kota Pasuruan. Banyaknya seniman drawing di Pasuruan, bahkan membuat Galeri Nasional memberikan julukan Pasuruan sebagai Kota Drawing.

——————

Puluhan karya seni lukis dengan teknik gambar atau drawing dipajang di Gedung Serbaguna Yonzipur 10, Jalan Balai Kota, Kota Pasuruan. Meskipun semua lukisan memakai teknik drawing, namun warnanya tidak hanya hitam putih.

Ada yang berwarna, ada yang dua dimensi, juga multidimensi. Bahkan, ada juga perpaduan dengan media lain, seperti kayu, kertas, sampai jam dinding.

Pameran seni memang makin menggeliat dalam beberapa tahun terakhir di Pasuruan. Bahkan, dalam minggu ini ada tiga pameran seni yang diadakan di Kota Pasuruan. Salah satu yang besar adalah Pameran Seni Gambar “Merandai Tanda-tanda Zaman” di Yonzipur 10, Kota Pasuruan.

Pameran ini digelar oleh Galeri Nasional. Sebuah lembaga budaya negara di bawah Direktorat Jendral Kebudayaan Kemendikbud.

Pameran ini dibuka pada Selasa (3/12) malam dan berlangsung sampai 8 Desember. Pameran diikuti 47 perupa dengan 46 karya seni gambar. Ada yang karya kolaborasi, dua sampai tiga dimensi.

Total, perupa dari Pasuruan ada 29 orang. Dan lainnya dari berbagai kota di Indonesia. Mulai Banyumas, Pati, Jogjakarta, Surabaya, Gresik, Mojokerto, Batu, Malang, Lamongan, dan Tulungagung.

Achmad Rosidi, kurator pameran mengatakan, Merandai adalah mempelajari tanda-tanda. Seniman besar Indonesia, Raden Saleh pernah juga memberikan tanda zaman di tahun 1828 dengan lukisan Banteng melawan Singa.

“Dan saat ini, seniman lewat teknik drawing juga menafsirkan tema terkait tanda zaman saat ini,” terangnya.

Pameran ini tergolong istimewa. Sebab, Pasuruan dipilih sebagai lokasi oleh Galeri Nasional. Pertimbangannya, Galeri Nasional melihat antusias seniman Kota dan Kabupaten Pasuruan yang sangat aktif dalam kegiatan seni.

Bahkan, embrio dan gairah seni sudah muncul pada tahun 2004 di Pasuruan. Saat itu seniman-seniman Pasuruan banyak terlibat dalam pameran di dalam negeri dan luar negeri. Termasuk rutin mengadakan pameran di Pasuruan sendiri.

Wahyu Nugroho, seniman drawing Pasuruan yang mengikuti pameran ini mengatakan, teknik drawing adalah teknik melukis yang paling mudah dan murah bagi pemula. “Dari drawing, kita ajarkan bahwa menggambar itu mudah dan murah. Sehingga, anak muda banyak yang tertarik belajar. Dari situ kita beri wadah, salah satunya lewat pameran seperti ini,” terangnya.

Achmad Rosidi menjelaskan, persiapan pameran ini mencapai satu bulan. Sebelumnya, ada 90 karya yang mendaftar. Dan akhirnya dipilih 46 karya untuk pameran.

Karya-karya yang ditampilkan sangat bervariasi. Salah satu yang menarik adalah karya Afreshawenny, seniman asal Kota Pasuruan yang juga guru seni di SMKN 2 Pasuruan. Dia menampilkan karya Topeng-Topeng Dalam Renungan. Sebuah karya tiga dimensi dengan media campuran bahan dasar spon eva dan tissue yang dijadikan topeng-topeng wajah dan kertas. Topeng disimbolkan sebagai perwujudan dasar wajah manusia yang bisa mewakili keseluruhan tubuh secara utuh.

“Maka Topeng-Topeng Dalam Renungan adalah salah satu perwujudan pertapaan manusia menuju penyadaran diri,” jelasnya.

Pustanto, kepala Galeri Nasional Indonesia mengatakan, Galeri Nasional Indonesia sengaja menggelar pameran dengan menampilkan karya-karya seni gambar yang sebagian besar merupakan karya para perupa Pasuruan. Sebab, para perupa Pasuruan memiliki kekuatan dalam seni gambar.

“Karya-karya seni gambar para perupa Kota Pasuruan dalam pameran ini ditampilkan bersama karya-karya seni gambar para perupa dari wilayah lain yang telah memiliki karakter khas dan kuat. Kolaborasi para perupa dengan kekuatan seni gambar ini diharapkan dapat menyuguhkan sebuah pameran seni gambar yang berkualitas,” ungkapnya.

Bahkan, dalam pembukaan pameran, Galeri Nasional Indonesia memberikan julukan pada Pasuruan sebagai Kota Drawing. Sebab, banyak seniman drawing yang aktif berkarya dan memiliki pengaruh dalam seni drawing di Indonesia.

Salah satu tokoh drawing Pasuruan yang cukup berpengaruh adalah Wahyu Nugroho dan Garis Edelweiss. Selain produktivitas karya drawing yang tinggi, mereka mempengaruhi seniman Pasuruan sampai nasional melalui karya masing-masing.

Achmad Rosidi berharap pameran ini tidak hanya memberikan wawasan kepada masyarakat tentang seni di Pasuruan. Banyaknya seniman drawing dengan jumlah lebih dari 90 seniman, diharapkan bisa menjadi aset. Bahkan, menjadi ikon dan bisa dijadikan event rutin tahunan bagi pemerintah daerah. (eka/hn/fun)

Makin tingginya kegiatan seni dan pameran di Pasuruan, membuat Galeri Nasional mengadakan pameran seni drawing di Kota Pasuruan. Banyaknya seniman drawing di Pasuruan, bahkan membuat Galeri Nasional memberikan julukan Pasuruan sebagai Kota Drawing.

——————

Puluhan karya seni lukis dengan teknik gambar atau drawing dipajang di Gedung Serbaguna Yonzipur 10, Jalan Balai Kota, Kota Pasuruan. Meskipun semua lukisan memakai teknik drawing, namun warnanya tidak hanya hitam putih.

Ada yang berwarna, ada yang dua dimensi, juga multidimensi. Bahkan, ada juga perpaduan dengan media lain, seperti kayu, kertas, sampai jam dinding.

Pameran seni memang makin menggeliat dalam beberapa tahun terakhir di Pasuruan. Bahkan, dalam minggu ini ada tiga pameran seni yang diadakan di Kota Pasuruan. Salah satu yang besar adalah Pameran Seni Gambar “Merandai Tanda-tanda Zaman” di Yonzipur 10, Kota Pasuruan.

Pameran ini digelar oleh Galeri Nasional. Sebuah lembaga budaya negara di bawah Direktorat Jendral Kebudayaan Kemendikbud.

Pameran ini dibuka pada Selasa (3/12) malam dan berlangsung sampai 8 Desember. Pameran diikuti 47 perupa dengan 46 karya seni gambar. Ada yang karya kolaborasi, dua sampai tiga dimensi.

Total, perupa dari Pasuruan ada 29 orang. Dan lainnya dari berbagai kota di Indonesia. Mulai Banyumas, Pati, Jogjakarta, Surabaya, Gresik, Mojokerto, Batu, Malang, Lamongan, dan Tulungagung.

Achmad Rosidi, kurator pameran mengatakan, Merandai adalah mempelajari tanda-tanda. Seniman besar Indonesia, Raden Saleh pernah juga memberikan tanda zaman di tahun 1828 dengan lukisan Banteng melawan Singa.

“Dan saat ini, seniman lewat teknik drawing juga menafsirkan tema terkait tanda zaman saat ini,” terangnya.

Pameran ini tergolong istimewa. Sebab, Pasuruan dipilih sebagai lokasi oleh Galeri Nasional. Pertimbangannya, Galeri Nasional melihat antusias seniman Kota dan Kabupaten Pasuruan yang sangat aktif dalam kegiatan seni.

Bahkan, embrio dan gairah seni sudah muncul pada tahun 2004 di Pasuruan. Saat itu seniman-seniman Pasuruan banyak terlibat dalam pameran di dalam negeri dan luar negeri. Termasuk rutin mengadakan pameran di Pasuruan sendiri.

Wahyu Nugroho, seniman drawing Pasuruan yang mengikuti pameran ini mengatakan, teknik drawing adalah teknik melukis yang paling mudah dan murah bagi pemula. “Dari drawing, kita ajarkan bahwa menggambar itu mudah dan murah. Sehingga, anak muda banyak yang tertarik belajar. Dari situ kita beri wadah, salah satunya lewat pameran seperti ini,” terangnya.

Achmad Rosidi menjelaskan, persiapan pameran ini mencapai satu bulan. Sebelumnya, ada 90 karya yang mendaftar. Dan akhirnya dipilih 46 karya untuk pameran.

Karya-karya yang ditampilkan sangat bervariasi. Salah satu yang menarik adalah karya Afreshawenny, seniman asal Kota Pasuruan yang juga guru seni di SMKN 2 Pasuruan. Dia menampilkan karya Topeng-Topeng Dalam Renungan. Sebuah karya tiga dimensi dengan media campuran bahan dasar spon eva dan tissue yang dijadikan topeng-topeng wajah dan kertas. Topeng disimbolkan sebagai perwujudan dasar wajah manusia yang bisa mewakili keseluruhan tubuh secara utuh.

“Maka Topeng-Topeng Dalam Renungan adalah salah satu perwujudan pertapaan manusia menuju penyadaran diri,” jelasnya.

Pustanto, kepala Galeri Nasional Indonesia mengatakan, Galeri Nasional Indonesia sengaja menggelar pameran dengan menampilkan karya-karya seni gambar yang sebagian besar merupakan karya para perupa Pasuruan. Sebab, para perupa Pasuruan memiliki kekuatan dalam seni gambar.

“Karya-karya seni gambar para perupa Kota Pasuruan dalam pameran ini ditampilkan bersama karya-karya seni gambar para perupa dari wilayah lain yang telah memiliki karakter khas dan kuat. Kolaborasi para perupa dengan kekuatan seni gambar ini diharapkan dapat menyuguhkan sebuah pameran seni gambar yang berkualitas,” ungkapnya.

Bahkan, dalam pembukaan pameran, Galeri Nasional Indonesia memberikan julukan pada Pasuruan sebagai Kota Drawing. Sebab, banyak seniman drawing yang aktif berkarya dan memiliki pengaruh dalam seni drawing di Indonesia.

Salah satu tokoh drawing Pasuruan yang cukup berpengaruh adalah Wahyu Nugroho dan Garis Edelweiss. Selain produktivitas karya drawing yang tinggi, mereka mempengaruhi seniman Pasuruan sampai nasional melalui karya masing-masing.

Achmad Rosidi berharap pameran ini tidak hanya memberikan wawasan kepada masyarakat tentang seni di Pasuruan. Banyaknya seniman drawing dengan jumlah lebih dari 90 seniman, diharapkan bisa menjadi aset. Bahkan, menjadi ikon dan bisa dijadikan event rutin tahunan bagi pemerintah daerah. (eka/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/