alexametrics
27.1 C
Probolinggo
Tuesday, 28 June 2022

Sucipto Buat Kaki Palsu karena Menyadari Sulit-Mahalnya Kaki Palsu

Menjadi tuna daksa dengan kehilangan kaki kirinya 16 tahun lalu, tak membuat Sucipto patah semangat. Mengetahui mahalnya kaki palsu bagi sesama, Sucipto tergerak menjadi produsen prosthetic leg dan banyak program bantuan yang diberikan kepada sesama penyandang tuna daksa.

—————–

NAMA Sucipto tak asing lagi bagi sesama penderita difabel di Kabupaten Pasuruan. Kiprahnya memberikan semangat kepada warga difabel sangat tinggi di National Paralympic Committe (NPC) Kabupaten Pasuruan. Bahkan tercatat di tahun 2020, Cipto, panggilannya didapuk sebagai ketua NPC Kabupaten Pasuruan.

Bapak satu anak ini mengatakan, sudah lebih dari 16 tahun dirinya menyandang tuna daksa. Pada 2004, Cipto tak bisa menghindar dari kecelakaan yang membuatnya harus kehilangan kaki kanannya. Kecelakaan motor dengan truk itu mengubah hidupnya.

“Dulu pilih amputasi agar lebih cepat sembuh. Namun, perasaan saya saat itu tidak sampai down. Karena saya cukup lama kenal dengan teman-teman difabel dan saat saya sakit mereka banyak memberi support,” terangnya.

Awalnya, untuk bisa beraktivitas Cipto menggunakan kruk atau tongkat jalan. Namun 3 bulan kemudian, Cipto mulai mencoba menggunakan prosthetic leg atau kaki palsu yang dipesannya dari Mojokerto.

“Saat itu pesan ke Mojokerto dan harganya lumayan mahal. Saya berpikir harga itu sulit terjangkau oleh teman-teman difabel,” ujar pria 49 tahun ini.

TUNA DAKSA: Sucipto sejatinya juga pernah kehilangan kaki. (Foto istimewa)

Akhirnya, secara otodidak Cipto mulai belajar membuat kaki palsu. Dengan trial and error, Cipto berhasil membuat kaki palsu yang menurutnya nyaman dan aman dipakai penderita tuna daksa kaki.

“Jadi saya buat, terus saya pakai sendiri sampai merasa paling nyaman. Baru kemudian saya tawarkan juga ke rekan-rekan yang membutuhkan,” terangnya.

Bahan dasar pembuatannya beragam. Seperti karbon atau fiber. Namun, biasanya bahan dasar dari fiber yang lebih terjangkau. Saat ini, Cipto bisa membuat satu kaki palsu dalam waktu tiga hari.

“Jadi tergantung kondisi kakinya. Kalau di bawah lutut pembuatannya tiga hari selesai. Namun kalau di atas lutut bisa 4-5 hari,” terang pria yang berdomisili di Candiwates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan ini.

Untuk membuat kaki palsu menurutnya, juga melihat kondisi calon pemakai. Karena sejarah menjadi tuna daksa memang bermacam-macam. Ada yang cacat sejak lahir. Ada juga yang kesulitan berjalan dan langsung lancar memakai kaki palsu.

“Untuk yang memakai kaki palsu buatan saya, beragam usianya. Ada yang dua tahun. Untuk usia yang tua biasanya sangat tergangung kondisi fisiknya. Kalau cukup lemah mungkin lebih aman memakai kursi roda dibandingkan kaki palsu. Jadi memang situasional,” terangnya.

Sementara itu, pemesan kaki palsu yang diterima Cipto berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain Pasuruan, juga ada dari Kalimantan sampai Medan. Sebab, kaki palsu sangat dibutuhkan tuna daksa.

Di sisi lain menurutnya, saat ini cukup banyak donatur yang memberikan bantuan kepada penyandang disabilitas. Para donatur ini biasanya memberikan bantuan pada komunitas untuk pembuatan kaki palsu.

Cipto sendiri membuat program “Bantuan Kaki Palsu” sejak tahun 2013. Program ini mencari donatur dari anggota komunitas disabilitas agar bisa memiliki kaki palsu.

Sebagai aktivis di NPC Kabupaten Pasuruan sejak 2010, Cipto juga mendukung rekan-rekan sesama penyandang disabilitas. Bahkan, kalau ada yang baru menjadi tuna daksa juga diberi dukungan agar tidak down.

“Saya kasih motivasi juga gar bisa menjadi atlet paralympic. Sehingga tidak sampai down dan tetap bersemangat,” terangnya.

Sebagai pembuat kaki palsu, Cipto sering merasakan kesan haru. Utamanya saat kaki palsu dipakai penyandang tuna daksa yang sebelumnya kesulitan berjalan dan mengandalkan tongkat jalan.

“Ada rasa haru, terutama kalau bisa memberikan rasa percaya diri kembali kepada rekan-rekan sesama penyandang tuna daksa. Di mana mereka bisa berjalan normal kembali dengan kaki palsu,” ujarnya.

Untuk harga kaki palsu beragam, tergantung situasi penyandang. Juga tergantung jenis material, ukuran, panjang dan sebagainya. Namun, harapannya dengan kaki palsu buatannya bisa menumbuhkan rasa percaya diri kembali. Dan penyandang tuna daksa bisa beraktivitas normal lagi layaknya teman-teman yang lain. (eka/fun)

Menjadi tuna daksa dengan kehilangan kaki kirinya 16 tahun lalu, tak membuat Sucipto patah semangat. Mengetahui mahalnya kaki palsu bagi sesama, Sucipto tergerak menjadi produsen prosthetic leg dan banyak program bantuan yang diberikan kepada sesama penyandang tuna daksa.

—————–

NAMA Sucipto tak asing lagi bagi sesama penderita difabel di Kabupaten Pasuruan. Kiprahnya memberikan semangat kepada warga difabel sangat tinggi di National Paralympic Committe (NPC) Kabupaten Pasuruan. Bahkan tercatat di tahun 2020, Cipto, panggilannya didapuk sebagai ketua NPC Kabupaten Pasuruan.

Bapak satu anak ini mengatakan, sudah lebih dari 16 tahun dirinya menyandang tuna daksa. Pada 2004, Cipto tak bisa menghindar dari kecelakaan yang membuatnya harus kehilangan kaki kanannya. Kecelakaan motor dengan truk itu mengubah hidupnya.

“Dulu pilih amputasi agar lebih cepat sembuh. Namun, perasaan saya saat itu tidak sampai down. Karena saya cukup lama kenal dengan teman-teman difabel dan saat saya sakit mereka banyak memberi support,” terangnya.

Awalnya, untuk bisa beraktivitas Cipto menggunakan kruk atau tongkat jalan. Namun 3 bulan kemudian, Cipto mulai mencoba menggunakan prosthetic leg atau kaki palsu yang dipesannya dari Mojokerto.

“Saat itu pesan ke Mojokerto dan harganya lumayan mahal. Saya berpikir harga itu sulit terjangkau oleh teman-teman difabel,” ujar pria 49 tahun ini.

TUNA DAKSA: Sucipto sejatinya juga pernah kehilangan kaki. (Foto istimewa)

Akhirnya, secara otodidak Cipto mulai belajar membuat kaki palsu. Dengan trial and error, Cipto berhasil membuat kaki palsu yang menurutnya nyaman dan aman dipakai penderita tuna daksa kaki.

“Jadi saya buat, terus saya pakai sendiri sampai merasa paling nyaman. Baru kemudian saya tawarkan juga ke rekan-rekan yang membutuhkan,” terangnya.

Bahan dasar pembuatannya beragam. Seperti karbon atau fiber. Namun, biasanya bahan dasar dari fiber yang lebih terjangkau. Saat ini, Cipto bisa membuat satu kaki palsu dalam waktu tiga hari.

“Jadi tergantung kondisi kakinya. Kalau di bawah lutut pembuatannya tiga hari selesai. Namun kalau di atas lutut bisa 4-5 hari,” terang pria yang berdomisili di Candiwates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan ini.

Untuk membuat kaki palsu menurutnya, juga melihat kondisi calon pemakai. Karena sejarah menjadi tuna daksa memang bermacam-macam. Ada yang cacat sejak lahir. Ada juga yang kesulitan berjalan dan langsung lancar memakai kaki palsu.

“Untuk yang memakai kaki palsu buatan saya, beragam usianya. Ada yang dua tahun. Untuk usia yang tua biasanya sangat tergangung kondisi fisiknya. Kalau cukup lemah mungkin lebih aman memakai kursi roda dibandingkan kaki palsu. Jadi memang situasional,” terangnya.

Sementara itu, pemesan kaki palsu yang diterima Cipto berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain Pasuruan, juga ada dari Kalimantan sampai Medan. Sebab, kaki palsu sangat dibutuhkan tuna daksa.

Di sisi lain menurutnya, saat ini cukup banyak donatur yang memberikan bantuan kepada penyandang disabilitas. Para donatur ini biasanya memberikan bantuan pada komunitas untuk pembuatan kaki palsu.

Cipto sendiri membuat program “Bantuan Kaki Palsu” sejak tahun 2013. Program ini mencari donatur dari anggota komunitas disabilitas agar bisa memiliki kaki palsu.

Sebagai aktivis di NPC Kabupaten Pasuruan sejak 2010, Cipto juga mendukung rekan-rekan sesama penyandang disabilitas. Bahkan, kalau ada yang baru menjadi tuna daksa juga diberi dukungan agar tidak down.

“Saya kasih motivasi juga gar bisa menjadi atlet paralympic. Sehingga tidak sampai down dan tetap bersemangat,” terangnya.

Sebagai pembuat kaki palsu, Cipto sering merasakan kesan haru. Utamanya saat kaki palsu dipakai penyandang tuna daksa yang sebelumnya kesulitan berjalan dan mengandalkan tongkat jalan.

“Ada rasa haru, terutama kalau bisa memberikan rasa percaya diri kembali kepada rekan-rekan sesama penyandang tuna daksa. Di mana mereka bisa berjalan normal kembali dengan kaki palsu,” ujarnya.

Untuk harga kaki palsu beragam, tergantung situasi penyandang. Juga tergantung jenis material, ukuran, panjang dan sebagainya. Namun, harapannya dengan kaki palsu buatannya bisa menumbuhkan rasa percaya diri kembali. Dan penyandang tuna daksa bisa beraktivitas normal lagi layaknya teman-teman yang lain. (eka/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/