alexametrics
27.2 C
Probolinggo
Sunday, 29 May 2022

Pengalaman 23 Hari Hidup dengan Covid-19, Dimotivasi-Dikirimi Makanan

Keluarga dan pasien Covid-19 jangan dibully. Apalagi dikucilkan. Tapi mereka harus di-support. Baik materi maupun nonmateri. Konon, itu membantu proses penyembuhan.

HA. SUYUTI, Probolinggo

MAS…Saya mau kirim probiotik dan oximeter,” kata Dwi Anggraeni, Kepala SMKN 1 Kota Probolinggo, begitu tahu saya dinyatakan positif Covid-19. Adik kelas waktu SMA dan kuliah ini, juga memberi tips seperti pengalamannya saat melakukan isolasi mandiri.

“Kamar tidur, kamar mandi, alat makan, harus dipisah dengan istri dan anak-anak. Olah raga ringan dan berjemur di terik matahari. Harus istirahat total,” kata Eni –panggilan akrabnya, lewat WhatsApp. Selain itu, masih banyak petuah-petuah yang diberikan kepada saya.

Berbeda lagi dengan tetangga. Saat tahu istri dan anak-anak harus isolasi mandiri, mereka tidak segan-segan membantu. Mulai mengirim makanan sampai membelikan kebutuhan rumah tangga. “Kalau butuh apa-apa hubungi saja, Bu. Ndak apa-apa,” katanya kepada istri saya.

Teman yang jauh, juga sama. Mereka mengirimkan beragam kebutuhan rumah tangga. Mulai sembako, obat-obatan, vitamin dan makanan kaleng. Kadang diantar sendiri, ada juga menggunakan kurir. “Ini rumahnya Bapak Suyut. Saya mau ngantarkan pesanan,” kata si kurir. Saat dibuka, ternyata berisi susu dan buah-buahan.

Pernah suatu pagi, tiba-tiba ada teman datang membawa makanan. Kebetulan belum memasak. “Alhamdulillah….Kok pas mau sarapan, ada yang ngantarkan rawon,” kata istri. Sampai tetangga menelepon menyampaikan kalau ada makanan di pagar rumah. “Saya sampai tidak bisa berkata. Selain doa tulus kami atas semua ini. Terima kasih Ya..Allah,” kata istri meneteskan air mata.

Sementara itu di grup Whatsapp, doa kesembuhan dipanjatkan. Termasuk motivasi . Baik grup sekolah, kuliah, pengajian, organisasi, dan lainnya. Bahkan, teman tenaga kesehatan juga ikut memantau. Tidak hanya saya. Tapi juga keluarga di rumah. “Jika ada keluhan, segera hubungi kami ya,” kata Ketua IDI Kota Probolinggo dr Intan Sudarmadi, Sp.S ., lewat Whatsapp.

Tidak ketinggalan keluarga terdekat juga memberi support. Terutama dalam menyiapkan kebutuhan sehari-hari. “Tanpa dukungan dari keluarga, tetangga dan teman-teman, kami semakin berat menjalani isolasi ini,” ujar istri.

Support luar biasa juga datang dari tempat saya bekerja. Semua kebutuhan selama isolasi di rumah sakit dan rusunawa dipenuhi. “Kalau butuh sesuatu hubungi saya,” kata Iwan Susanto, Manager Pemasaran dan Umum Jawa Pos Radar Bromo ini.

Dukungan ini sangat kami rasakan manfaatnya. Saya pun menjadi tenang saat opname dan isolasi di rusunawa. Saya fokus kepada proses penyembuhan. Tidak khawatir kepada keluarga yang sedang isolasi mandiri di rumah. “Dukungan materi, motivasi, dan doa membuat kami tenang menghadapi ujian ini,” terang istri.

Support semacam itu, menurut dr Intan Sudarmadi, Sp.S ., sangat diperlukan pasien Covid-19. Karena membuat pasien tidak merasa sendiri. Ada yang memperhatikan dan mendoakan. “Jika pasien tenang, secara teori, hormon-hormon untuk sistem imun meningkat. Sehingga harapan pasien bisa lebih cepat sehat,” terang dr Intan, panggilan akrabnya.

Hal yang sama dikatakan oleh salah satu psikolog, Ciplis Tri Handayani, S.Psi. Menurutnya, support sangat penting bagi pasien Covid-19. Mengingat, saat isolasi pasien tidak bisa berinteraksi dengan orang luar. Sehingga, komunikasi sangat terbatas. “Ini sangat berpengaruh pada psikis pasien,” kata Ciplis, panggilan akrabnya.

Namun itu bisa diatasi dengan gadget. Komunikasi bisa tidak terputus. Teman dan keluarga, bisa memberi motivasi. Atau, sekedar menanyakan keadaannya. “Dengan memberi semangat, pasien Covid-19 merasa diperhatikan. Karena, mereka sedang galau, baik secara fisik maupun psikis,” jelas Ciplis, yang juga menjabat Ketua PD Himpaudi Kota Probolinggo.

Tetapi yang lebih utama, lanjut Ciplis, bagaimana memahamkan risiko penyakit Covid-19 kepada pasien. Misalnya, siap tidak dijenguk atau berdiam diri dalam waktu cukup lama. Termasuk, jika mendapat stigma negatif dari masyarakat yang belum paham Covid-19. “Hal ini akan menguatkan pasien bertahan melawan penyakit tersebut,” ulasnya.

Sementara itu, Ketua MUI Kota Probolinggo K.H. Nizar Irsyad menjelaskan, selain berikhtiar dengan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Di saat pandemi seperti saat ini, untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Karena hanya Allah SWT yang bisa membuat orang sakit dan menyembuhkan,” ujar Kiai Nizar.

Sebagai seorang muslim, lanjut Kiai Nizar, harus banyak berdoa kepada Allah SWT. Termasuk mendoakan orang lain yang sedang sakit. “Islam mengajarkan seperti itu. Saat menjenguk orang sakit, kita juga memohonkan kesembuhan kepada Allah SWT,” ujarnya. (Habis)

Keluarga dan pasien Covid-19 jangan dibully. Apalagi dikucilkan. Tapi mereka harus di-support. Baik materi maupun nonmateri. Konon, itu membantu proses penyembuhan.

HA. SUYUTI, Probolinggo

MAS…Saya mau kirim probiotik dan oximeter,” kata Dwi Anggraeni, Kepala SMKN 1 Kota Probolinggo, begitu tahu saya dinyatakan positif Covid-19. Adik kelas waktu SMA dan kuliah ini, juga memberi tips seperti pengalamannya saat melakukan isolasi mandiri.

“Kamar tidur, kamar mandi, alat makan, harus dipisah dengan istri dan anak-anak. Olah raga ringan dan berjemur di terik matahari. Harus istirahat total,” kata Eni –panggilan akrabnya, lewat WhatsApp. Selain itu, masih banyak petuah-petuah yang diberikan kepada saya.

Berbeda lagi dengan tetangga. Saat tahu istri dan anak-anak harus isolasi mandiri, mereka tidak segan-segan membantu. Mulai mengirim makanan sampai membelikan kebutuhan rumah tangga. “Kalau butuh apa-apa hubungi saja, Bu. Ndak apa-apa,” katanya kepada istri saya.

Teman yang jauh, juga sama. Mereka mengirimkan beragam kebutuhan rumah tangga. Mulai sembako, obat-obatan, vitamin dan makanan kaleng. Kadang diantar sendiri, ada juga menggunakan kurir. “Ini rumahnya Bapak Suyut. Saya mau ngantarkan pesanan,” kata si kurir. Saat dibuka, ternyata berisi susu dan buah-buahan.

Pernah suatu pagi, tiba-tiba ada teman datang membawa makanan. Kebetulan belum memasak. “Alhamdulillah….Kok pas mau sarapan, ada yang ngantarkan rawon,” kata istri. Sampai tetangga menelepon menyampaikan kalau ada makanan di pagar rumah. “Saya sampai tidak bisa berkata. Selain doa tulus kami atas semua ini. Terima kasih Ya..Allah,” kata istri meneteskan air mata.

Sementara itu di grup Whatsapp, doa kesembuhan dipanjatkan. Termasuk motivasi . Baik grup sekolah, kuliah, pengajian, organisasi, dan lainnya. Bahkan, teman tenaga kesehatan juga ikut memantau. Tidak hanya saya. Tapi juga keluarga di rumah. “Jika ada keluhan, segera hubungi kami ya,” kata Ketua IDI Kota Probolinggo dr Intan Sudarmadi, Sp.S ., lewat Whatsapp.

Tidak ketinggalan keluarga terdekat juga memberi support. Terutama dalam menyiapkan kebutuhan sehari-hari. “Tanpa dukungan dari keluarga, tetangga dan teman-teman, kami semakin berat menjalani isolasi ini,” ujar istri.

Support luar biasa juga datang dari tempat saya bekerja. Semua kebutuhan selama isolasi di rumah sakit dan rusunawa dipenuhi. “Kalau butuh sesuatu hubungi saya,” kata Iwan Susanto, Manager Pemasaran dan Umum Jawa Pos Radar Bromo ini.

Dukungan ini sangat kami rasakan manfaatnya. Saya pun menjadi tenang saat opname dan isolasi di rusunawa. Saya fokus kepada proses penyembuhan. Tidak khawatir kepada keluarga yang sedang isolasi mandiri di rumah. “Dukungan materi, motivasi, dan doa membuat kami tenang menghadapi ujian ini,” terang istri.

Support semacam itu, menurut dr Intan Sudarmadi, Sp.S ., sangat diperlukan pasien Covid-19. Karena membuat pasien tidak merasa sendiri. Ada yang memperhatikan dan mendoakan. “Jika pasien tenang, secara teori, hormon-hormon untuk sistem imun meningkat. Sehingga harapan pasien bisa lebih cepat sehat,” terang dr Intan, panggilan akrabnya.

Hal yang sama dikatakan oleh salah satu psikolog, Ciplis Tri Handayani, S.Psi. Menurutnya, support sangat penting bagi pasien Covid-19. Mengingat, saat isolasi pasien tidak bisa berinteraksi dengan orang luar. Sehingga, komunikasi sangat terbatas. “Ini sangat berpengaruh pada psikis pasien,” kata Ciplis, panggilan akrabnya.

Namun itu bisa diatasi dengan gadget. Komunikasi bisa tidak terputus. Teman dan keluarga, bisa memberi motivasi. Atau, sekedar menanyakan keadaannya. “Dengan memberi semangat, pasien Covid-19 merasa diperhatikan. Karena, mereka sedang galau, baik secara fisik maupun psikis,” jelas Ciplis, yang juga menjabat Ketua PD Himpaudi Kota Probolinggo.

Tetapi yang lebih utama, lanjut Ciplis, bagaimana memahamkan risiko penyakit Covid-19 kepada pasien. Misalnya, siap tidak dijenguk atau berdiam diri dalam waktu cukup lama. Termasuk, jika mendapat stigma negatif dari masyarakat yang belum paham Covid-19. “Hal ini akan menguatkan pasien bertahan melawan penyakit tersebut,” ulasnya.

Sementara itu, Ketua MUI Kota Probolinggo K.H. Nizar Irsyad menjelaskan, selain berikhtiar dengan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Di saat pandemi seperti saat ini, untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Karena hanya Allah SWT yang bisa membuat orang sakit dan menyembuhkan,” ujar Kiai Nizar.

Sebagai seorang muslim, lanjut Kiai Nizar, harus banyak berdoa kepada Allah SWT. Termasuk mendoakan orang lain yang sedang sakit. “Islam mengajarkan seperti itu. Saat menjenguk orang sakit, kita juga memohonkan kesembuhan kepada Allah SWT,” ujarnya. (Habis)

MOST READ

BERITA TERBARU

/