Belasan Pesilat Cilik Kota Pasuruan Ini Menang Kejurnas Pelajar ke V di Solo

Usia belia bukan berarti tak bisa berbuat apa-apa. Belasan pesilat cilik asal Kota Pasuruan telah membuktikannya. Akhir Desember 2019, tiga pesilat membawa pulang medali emas dalam kejuaraan nasional. Belasan lainnya menjadi juara dua dan tiga.

——————–

Puluhan pesilat cilik duduk bersila mengelilingi matras. Peluh mereka bercucuran. Seragam yang dikenakan sudah lusuh. Sedikit kecokelatan karena debu. Maklum, Minggu (5/1) pagi itu mereka baru saja latihan bersama di halaman SDN Bangilan.

Pandangan mereka tertuju pada arah yang sama. Gerakan demi gerakan yang diperagakan oleh M Nizam Ismail. Beberapa teknik pukulan disertai tendangan cukup keras dilepaskan. Serangan kian gencar berbekal golok serta toya maupun tongkat panjang yang terbuat dari rotan.

Bocah yang masih berusia 9 tahun itu ialah salah satu pesilat yang baru saja meraih medali emas. Ia menjadi juara satu di kelas seni tunggal putra Kejurnas Nasional Pencak Silat Pelajar ke-V yang digelar di Solo, Jawa Tengah, akhir Desember 2019 lalu.

Nizam memang sedari kecil menaruh minat terhadap olahraga bela diri tersebut. “Bergabung di Perisai Diri sejak kelas 1. Dulu sering dengar cerita dari teman-teman. Lantas tertarik ikut untuk bela diri,” tutur siswa kelas 4 di SDN Bangilan itu.

Dimata pelatihnya, Nizam memang anak yang gigih. Kepiawaian dalam menerapkan jurus kemudian membuat Nizam dipilih sebagai pesilat seni. Tidak hanya melulu soal teknik. Tapi juga penjiwaan, power, dan ketangkasan. Meski begitu, bukan berarti dia tak bisa bertarung.

“Untuk yang fokus seni tetap bisa bertanding, tapi tidak sebaliknya. Yang petarung belum tentu bisa dalam seni,” ungkap Pelatih Kelatnas Perisai Diri Kota Pasuruan A Kohar Muzakkar Mustofa.

Nizam sendiri tak sekali mengikuti kejuaraan. Di tingkat kota, sedikitnya sudah dua kali ia menyandang gelar juara. Sebelum menjadi juara di Kejurnas Solo, Nizam juga berhasil merebut juara di Kejurnas yang digelar di Malang. “Saya hanya ingin membanggakan orang tua melalui prestasi yang saya raih,” ujar pemilik sabuk merah itu.

LIHAI: Aksi M Nizam Ismail saat memeragakan seni pencak silat sembari membawa senjata. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Selain Nizam, dua siswa kelas 6 SDN Tapaan 1 juga menjadi juara 1. Mereka ialah M Agha Arsyad dan Febrilyansyah Erri Bagus Pamungkas. Keduanya belum genap setahun bergabung dengan Kelatnas Perisai Diri. Namun, mereka sudah berani mengikuti kejuaraan di kelas tanding.

Hasilnya, tentu tak mengecewakan. Agha berhasil mengalahkan lawannya dari Banten. Sedangkan Febri menang atas lawannya yang berasal dari Bali. Raut wajah gembira nyaris tak surut dimuka dua bocah berusia 11 tahun itu. Kedua bibirnya membentuk rongga elips ketika mengingat perjuangannya di partai final.

“Kalau perasaan gugup itu sudah pasti ada. Tapi, saya terus berdoa untuk menata mental sebelum tanding,” kata Agha.

Keraguan juga sempat terungkap dari pihak sekolah dimana Agha belajar. “Sempat diragukan karena memang Agha masih baru, namun saya kasih penjelasan proges dia selama latihan dan saya yakin kalau bisa juara,” tukas Kohar.

Agha juga terkenang pesan ibunya ketika kali pertama meminta izin untuk ikut latihan silat. Sekitar 10 bulan yang lalu. “Langsung diizinkan, tapi ibu pesan harus dijalani dengan serius,” tambahnya.

Ingatan itu pula yang terngiang dibenak Agha. Sepersekian detik kala ia merasa kesulitan mengalahkan lawan. “Saya lebih banyak memberi tendangan. Itulah kemudian bisa menang,” ungkapnya.

“Kalau saya lebih sering bermain dengan bantingan,” seloroh Febri menimpali ucapan temannya. Febri sendiri sebenarnya sudah akrab dengan olahraga bela diri sejak usianya masih dini. Betapa tidak, ia dibesarkan di lingkungan keluarga yang juga aktif di dunia tersebut.

“Ayah dan ibu ikut karate. Makanya ketika saya bilang mau ikut silat mereka sangat mendukung,” bebernya.

Di sisi lain, Kohar mengaku bangga atas prestasi anak didiknya saat ini. Prestasi yang berhasil diraih di Solo itu memang patut ia syukuri. Kohar sendiri hanya menargetkan 10 atletnya yang pulang sebagai juara. Namun, dari 20 atlet yang bertanding, 14 di antaranya pulang membawa medali.

Di kelas yang berbeda-beda, tiga atlet menjadi juara 2. Kemudian delapan atlet lainnya menjadi juara 3. “Kalau target kami sebagai pelatih dengan membawa 20 atlet setidaknya separonya yang menjadi juara. Alhamdulillah, ternyata lebih dari itu,” katanya.

Kepada semua atletnya, Kohar berlaku sama. Bahkan, ia punya cara tersendiri untuk bisa menakar potensi setiap atlet. Khususnya yang baru bergabung latihan. Biasanya, Kohar mengujinya dengan menerapkan teknik yang tingkatannya lebih tinggi.

“Dengan begitu, saya bisa mengukur potensi dan mental anak. Sekaligus bisa menyiapkan mereka nantinya dalam kejuaraan. Apakah diarahkan ke seni atau tanding,” pungkasnya. (tom/fun)