alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Sunday, 14 August 2022

Pohon Luh dan Asal Usul Desa Lumbang yang Berawal dari Tiga Sumber Air

SUMBER air identik dengan kehidupan. Di mana ada air, di situ ada kehidupan. Demikian juga Kecamatan Lumbang yang dikenal memiliki air terjun dan sejumlah sumber air dengan debit yang besar. Warga percaya, semua sumber air di Lumbang berasal dari tiga sumber air. Yaitu, sumber air di bawah pohon Luh yang ada di sumber air Tirto Ageng saat ini.

Sejarah Kecamatan Lumbang dimulai di zaman Kerajaan Singasari. Saat itu, beberapa mpu di zaman pemerintahan raja pertama Singasari, Ken Arok yang bergelar Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi melarikan diri dari Singasari.

Di antaranya, Mpu Nameng Joyo, Mpu Baridin, dan Mpu Mubit Sri Murni atau Eyang Putri Mubit Sri Murni. Mereka adalah para mpu yang tidak menyukai pemerintahan Ken Arok. Terutama setelah Ken Arok membunuh Mpu Gandring.

JERNIH: Masyarakat bermain di sumber air Tirto Ageng Lumbang. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Mereka kemudian sampai di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo dan menetap di sana. Saat itu, Lumbang tidak seperti saat ini yang ramai dengan permukiman. Lumbang di zaman Kerajaan Singasari masih berupa hutan belantara lebat. Beragam jenis pohon hutan tumbuh di sana. Termasuk pohon Luh.

“Eyang Putri ini dayang (perempuan) pertama di Lumbang. Jadi satu-satunya saat itu,” terang Asmun, 50, ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Lumbang.

SUMBER air identik dengan kehidupan. Di mana ada air, di situ ada kehidupan. Demikian juga Kecamatan Lumbang yang dikenal memiliki air terjun dan sejumlah sumber air dengan debit yang besar. Warga percaya, semua sumber air di Lumbang berasal dari tiga sumber air. Yaitu, sumber air di bawah pohon Luh yang ada di sumber air Tirto Ageng saat ini.

Sejarah Kecamatan Lumbang dimulai di zaman Kerajaan Singasari. Saat itu, beberapa mpu di zaman pemerintahan raja pertama Singasari, Ken Arok yang bergelar Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi melarikan diri dari Singasari.

Di antaranya, Mpu Nameng Joyo, Mpu Baridin, dan Mpu Mubit Sri Murni atau Eyang Putri Mubit Sri Murni. Mereka adalah para mpu yang tidak menyukai pemerintahan Ken Arok. Terutama setelah Ken Arok membunuh Mpu Gandring.

JERNIH: Masyarakat bermain di sumber air Tirto Ageng Lumbang. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Mereka kemudian sampai di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo dan menetap di sana. Saat itu, Lumbang tidak seperti saat ini yang ramai dengan permukiman. Lumbang di zaman Kerajaan Singasari masih berupa hutan belantara lebat. Beragam jenis pohon hutan tumbuh di sana. Termasuk pohon Luh.

“Eyang Putri ini dayang (perempuan) pertama di Lumbang. Jadi satu-satunya saat itu,” terang Asmun, 50, ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Lumbang.

MOST READ

BERITA TERBARU

/