alexametrics
26.9 C
Probolinggo
Monday, 23 May 2022

Dioprak saat PPKM Darurat, Pembeli Kabur, Dandim Bayar

LONJAKAN kasus Covid-19 yang terjadi belakangan ini belum terkendali. Pemerintah akhirnya menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. Beragam cerita terungkap selama PPKM darurat meski baru tiga hari diterapkan. Mulai dari pejabat yang harus membayar kopi milik warga yang kabur saat razia jam malam. Hingga warga yang jadi “korban” penyemprotan disinfektan ketika makan di warung.

Tepat pukul 21.30. Jalan Panglima Sudirman sudah lengang. Petugas gabungan sudah menyekat pengendara dari dua ujung jalan. Rombongan pejabat Forkopimda berangkat dari Pendopo Surga-Surgi. Malam itu adalah hari pertama diterapkannya PPKM darurat. Para pejabat itu sudah siap melakukan inspeksi mendadak.

Kawasan Pelabuhan Pasuruan menjadi sasaran pertama. Ditengah remang cahaya lampu, puluhan warga tengah nongkrong di sepanjang tepi sungai gembong. Mereka asyik menikmati secangkir kopi di tengah cengkeraman angin malam.

Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf yang memimpin sidak itu meminta warga untuk pulang. Tidak berlama-lama di luar rumah. Agar tidak menimbulkan kerumunan. “Mas-mas adik-adik, ayo segera pulang. Situasinya masih dalam pandemi. Kita harus sadari bersama, ayo kita cegah penyebaran Covid-19 ini bersama-sama,” kata Gus Ipul –sapaan Saifullah Yusuf.

Tak menunggu lama, warga yang duduk di sisi timur sungai gembong beranjak dari tempat duduknya. Mereka mengendarai motornya masing-masing. Meninggalkan tempat itu. Para pejabat itu sempat merasa lega warga sudah patuh. Namun mereka dibuat kecele. Segerombolan pemuda yang dikira hendak pulang ternyata hanya berpindah tempat.

EMOSI: Joko yang emosi karena makanannya terkena disinfektan. (Foto: Screenshot)

Mereka memang keluar dari kawasan pelabuhan. Namun kemudian singgah di sisi barat sungai gembong. Dan memesan kopi lagi. Kondisi ini membuat Kapolres Pasuruan Kota AKBP Arman geregetan. Beberapa kali dia berteriak meminta warga pulang tak digubris. Dia lalu mengambil megafon.

“Itu yang nongkrong-nongkrong segera bubar! Pemilik warungnya kalau bandel tangkep bawa ke kantor,” teriak Arman.

Mendengar perintah Arman, beberapa personel gabungan Polri, TNI, dan Satpol PP langsung membubarkan kerumunan warga yang nongkrong di pinggir pelabuhan. Mereka lari tunggang langgang menuju kendaraannya. Dan tancap gas begitu saja. Para pejabat itu kemudian mendatangi pemilik warung agar segera menutup lapaknya. Namun, pembubaran kerumunan yang dilakukan petugas ternyata membuat sekumpulan pemuda tadi tak sempat membayar kopi.

“Jadi ketika rombongan patroli ini datang, lari semua. Nggak ada yang bayar. Yang punya warung kan bingung karena pembelinya kabur. Akhirnya yang bayar Pak Dandim,” kata Gus Ipul usai melepas puluhan santri dari rumah karantina kemarin.

Dandim 0819/Pasuruan Letkol Inf Nyarman hanya terkekeh mendengar cerita itu jadi bahan candaan. Dia mengaku tak tega dengan pemilik warung yang kopinya ditinggal kabur pembeli. Saat itu, Nyarman langsung merogoh saku dan mengeluarkan uang untuk membayar semua makan dan minum para warga yang diobrak untuk meninggalkan warung.

“Saat itu banyak yang tidak bayar. Kasihan sama pemilik warung akhirnya Pak Dandim yang bayari,” kata Gus Ipul.

Tidak hanya pembubaran kerumunan warga. Setiap hari, Pemkot Pasuruan juga mewajibkan disinfektasi kawasan secara menyeluh. Tujuannya memang baik. Untuk membasmi Covid-19 yang kemungkinan bersarang di permukaan benda-benda. Entah itu yang ada di lingkungan permukiman, tempat umum maupun perkantoran.

Namun kegiatan disinfektasi itu menuai keluhan. Karena dianggap mengganggu. Betapa tidak, penyemprotan disinfektan menggunakan mobil pemadam kebakaran itu seolah tak memperhatikan situasi sekitar. Sepanjang laju mobil pemadam kebakaran, cairan itu terus disemburkan.

Sejumlah warga yang tengah menyantap makan siang di sebuah warung semburat tak karuan. Karena mereka terkena semprotan disinfektan. Tak terkecuali makanannya. Joko Listyono adalah salah satu orang yang mengalami insiden yang terjadi, Minggu (4/7) lalu. Siang itu, Joko baru saja ngegym. Sebelum pulang, dia berhenti di sebuah warung yang ada di Wironini untuk makan siang.

“Saya lagi enak-enaknya makan, tiba-tiba dari arah selatan (ada mobil) langsung disemprot, byoorrr,” kata Joko.

Terang saja, hal itu membuat piring nasinya “berkuah” disinfektan. Dia tak sendirian di warung itu. Ada beberapa orang lain yang juga sedang makan. Sekitar empat orang. Semuanya semburat setelah disemprot disinfektan. Dengan spontan Joko meneriaki petugas penyemprot disinfektan yang bertengger di atas mobil pemadam kebakaran. Rupanya deru mobil yang cukup keras membuat mereka tak mendengar teriakan Joko.

“Setelah itu kan mobilnya putar balik di pertigaan Jalan Erlangga lalu kembali menyemprot disinfektan di sisi timur jalan,” kata Joko.

Saat mobil itu melintas, Joko lantas meminta petugas berhenti dan menegurnya. Dia meminta petugas agar lebih hati-hati ketika melakukan kegiatan disinfektasi. Agar kejadian yang dialami tak terulang kepada orang lain. Joko berharap, penyemprotan disinfektan itu tidak serta-merta dilakukan tanpa pemberitahuan.

“Paling tidak harus ada petugas yang di depan, ngasih tahu warga kalau mau ada penyemprotan. Mestinya kan lihat situasi dulu. Ada orang makan. Kasihan juga yang punya warung, ada jajan-jajan juga kena disinfektan,” ujarnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Pasuruan Samsul Hadi membenarkan adanya kejadian itu. Dia memastikan persoalan itu sudah diselesaikan. “Sudah diselesaikan kemarin. Saat itu juga sudah ada Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Petugas sudah minta maaf atas kejadian kemarin,” kata Samsul.

Dia menyebut, disinfektasi memang dilakukan setiap hari. Akan tetapi, kegiatan itu tidak dilakukan secara mendadak. Sudah ada koordinasi sebelumnya. Terlebih dengan camat dan lurah. Supaya masyarakatnya juga diberitahu jika akan dilakukan disinfektasi. Atas kejadian tersebut, Samsul mengaku sudah mengevaluasinya. Petugas yang di lapangan juga diminta berhati-hati.

“Jadi sebenarnya sudah kami koordinasikan dengan camat dan lurah jadwal penyemprotan itu, agar diinformasikan ke masyarakat. Jangan sampai kita nyemprot, ada yang komplain. Kalau perlu juga petugas yang melakukan penyemprotan didampingi oleh Pak RT dan Pak RW,” sebut Samsul. (tom/fun)

LONJAKAN kasus Covid-19 yang terjadi belakangan ini belum terkendali. Pemerintah akhirnya menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. Beragam cerita terungkap selama PPKM darurat meski baru tiga hari diterapkan. Mulai dari pejabat yang harus membayar kopi milik warga yang kabur saat razia jam malam. Hingga warga yang jadi “korban” penyemprotan disinfektan ketika makan di warung.

Tepat pukul 21.30. Jalan Panglima Sudirman sudah lengang. Petugas gabungan sudah menyekat pengendara dari dua ujung jalan. Rombongan pejabat Forkopimda berangkat dari Pendopo Surga-Surgi. Malam itu adalah hari pertama diterapkannya PPKM darurat. Para pejabat itu sudah siap melakukan inspeksi mendadak.

Kawasan Pelabuhan Pasuruan menjadi sasaran pertama. Ditengah remang cahaya lampu, puluhan warga tengah nongkrong di sepanjang tepi sungai gembong. Mereka asyik menikmati secangkir kopi di tengah cengkeraman angin malam.

Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf yang memimpin sidak itu meminta warga untuk pulang. Tidak berlama-lama di luar rumah. Agar tidak menimbulkan kerumunan. “Mas-mas adik-adik, ayo segera pulang. Situasinya masih dalam pandemi. Kita harus sadari bersama, ayo kita cegah penyebaran Covid-19 ini bersama-sama,” kata Gus Ipul –sapaan Saifullah Yusuf.

Tak menunggu lama, warga yang duduk di sisi timur sungai gembong beranjak dari tempat duduknya. Mereka mengendarai motornya masing-masing. Meninggalkan tempat itu. Para pejabat itu sempat merasa lega warga sudah patuh. Namun mereka dibuat kecele. Segerombolan pemuda yang dikira hendak pulang ternyata hanya berpindah tempat.

EMOSI: Joko yang emosi karena makanannya terkena disinfektan. (Foto: Screenshot)

Mereka memang keluar dari kawasan pelabuhan. Namun kemudian singgah di sisi barat sungai gembong. Dan memesan kopi lagi. Kondisi ini membuat Kapolres Pasuruan Kota AKBP Arman geregetan. Beberapa kali dia berteriak meminta warga pulang tak digubris. Dia lalu mengambil megafon.

“Itu yang nongkrong-nongkrong segera bubar! Pemilik warungnya kalau bandel tangkep bawa ke kantor,” teriak Arman.

Mendengar perintah Arman, beberapa personel gabungan Polri, TNI, dan Satpol PP langsung membubarkan kerumunan warga yang nongkrong di pinggir pelabuhan. Mereka lari tunggang langgang menuju kendaraannya. Dan tancap gas begitu saja. Para pejabat itu kemudian mendatangi pemilik warung agar segera menutup lapaknya. Namun, pembubaran kerumunan yang dilakukan petugas ternyata membuat sekumpulan pemuda tadi tak sempat membayar kopi.

“Jadi ketika rombongan patroli ini datang, lari semua. Nggak ada yang bayar. Yang punya warung kan bingung karena pembelinya kabur. Akhirnya yang bayar Pak Dandim,” kata Gus Ipul usai melepas puluhan santri dari rumah karantina kemarin.

Dandim 0819/Pasuruan Letkol Inf Nyarman hanya terkekeh mendengar cerita itu jadi bahan candaan. Dia mengaku tak tega dengan pemilik warung yang kopinya ditinggal kabur pembeli. Saat itu, Nyarman langsung merogoh saku dan mengeluarkan uang untuk membayar semua makan dan minum para warga yang diobrak untuk meninggalkan warung.

“Saat itu banyak yang tidak bayar. Kasihan sama pemilik warung akhirnya Pak Dandim yang bayari,” kata Gus Ipul.

Tidak hanya pembubaran kerumunan warga. Setiap hari, Pemkot Pasuruan juga mewajibkan disinfektasi kawasan secara menyeluh. Tujuannya memang baik. Untuk membasmi Covid-19 yang kemungkinan bersarang di permukaan benda-benda. Entah itu yang ada di lingkungan permukiman, tempat umum maupun perkantoran.

Namun kegiatan disinfektasi itu menuai keluhan. Karena dianggap mengganggu. Betapa tidak, penyemprotan disinfektan menggunakan mobil pemadam kebakaran itu seolah tak memperhatikan situasi sekitar. Sepanjang laju mobil pemadam kebakaran, cairan itu terus disemburkan.

Sejumlah warga yang tengah menyantap makan siang di sebuah warung semburat tak karuan. Karena mereka terkena semprotan disinfektan. Tak terkecuali makanannya. Joko Listyono adalah salah satu orang yang mengalami insiden yang terjadi, Minggu (4/7) lalu. Siang itu, Joko baru saja ngegym. Sebelum pulang, dia berhenti di sebuah warung yang ada di Wironini untuk makan siang.

“Saya lagi enak-enaknya makan, tiba-tiba dari arah selatan (ada mobil) langsung disemprot, byoorrr,” kata Joko.

Terang saja, hal itu membuat piring nasinya “berkuah” disinfektan. Dia tak sendirian di warung itu. Ada beberapa orang lain yang juga sedang makan. Sekitar empat orang. Semuanya semburat setelah disemprot disinfektan. Dengan spontan Joko meneriaki petugas penyemprot disinfektan yang bertengger di atas mobil pemadam kebakaran. Rupanya deru mobil yang cukup keras membuat mereka tak mendengar teriakan Joko.

“Setelah itu kan mobilnya putar balik di pertigaan Jalan Erlangga lalu kembali menyemprot disinfektan di sisi timur jalan,” kata Joko.

Saat mobil itu melintas, Joko lantas meminta petugas berhenti dan menegurnya. Dia meminta petugas agar lebih hati-hati ketika melakukan kegiatan disinfektasi. Agar kejadian yang dialami tak terulang kepada orang lain. Joko berharap, penyemprotan disinfektan itu tidak serta-merta dilakukan tanpa pemberitahuan.

“Paling tidak harus ada petugas yang di depan, ngasih tahu warga kalau mau ada penyemprotan. Mestinya kan lihat situasi dulu. Ada orang makan. Kasihan juga yang punya warung, ada jajan-jajan juga kena disinfektan,” ujarnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Pasuruan Samsul Hadi membenarkan adanya kejadian itu. Dia memastikan persoalan itu sudah diselesaikan. “Sudah diselesaikan kemarin. Saat itu juga sudah ada Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Petugas sudah minta maaf atas kejadian kemarin,” kata Samsul.

Dia menyebut, disinfektasi memang dilakukan setiap hari. Akan tetapi, kegiatan itu tidak dilakukan secara mendadak. Sudah ada koordinasi sebelumnya. Terlebih dengan camat dan lurah. Supaya masyarakatnya juga diberitahu jika akan dilakukan disinfektasi. Atas kejadian tersebut, Samsul mengaku sudah mengevaluasinya. Petugas yang di lapangan juga diminta berhati-hati.

“Jadi sebenarnya sudah kami koordinasikan dengan camat dan lurah jadwal penyemprotan itu, agar diinformasikan ke masyarakat. Jangan sampai kita nyemprot, ada yang komplain. Kalau perlu juga petugas yang melakukan penyemprotan didampingi oleh Pak RT dan Pak RW,” sebut Samsul. (tom/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/