alexametrics
26.9 C
Probolinggo
Monday, 23 May 2022

Gus Zuber Ponpes Darul Hikayat, Rangkul Alumni dengan Silaturahmi

Sebagai generasi penerus pesantren, Gus Ahmad Zuber, harus siap ketika kehilangan figur sang ayah. Tanggung jawabnya untuk meneruskan perjuangan orang tuanya kini tertumpu padanya.

 

 

SOSOK Kiai Muchtar Shiddiq, pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Darul Hikayat Bantaran, Kabupaten Probolinggo, benar-benar menjadi tokoh sentral di pesantrennya. Ketika figur ini meninggal pada Maret 2021, generasinya harus benar-benar kerja keras.

Seperti dirasakan oleh Gus Ahmad Zuber. Pria berusia 40 tahun ini kini harus meneruskan perjuangan sesepuhnya. Mempertahankan dan memperjuangkan pesantren tetap berkhidmah kepada umat.

Kini, tampuk kepemimpinan Pesantren Darul Hikayat memang sudah berada di tangannya bersama sejumlah saudaranya. Namun, kata Guz Zuber, ketokohan Kiai Muchtar masih sangat melekat di benak masyarakat. Terutama bagi para alumnus.

Karenanya, setelah Abahnya meninggal, Gus Zuber mengaku bersama dengan tujuh saudaranya harus beradaptasi dan berjuang lebih keras. Terutama ketika hendak menggunakan pola yang lebih modern dibandingkan dengan sebelumnya.

“Saya ada tujuh bersaudara. Tetapi, yang diberikan tanggung jawab tidak semua. Sebab, masih ada yang sekolah atau kuliah. Hanya beberapa dari tujuh orang anak Abah. Saya diberi peran dan tanggung jawab mengelola MTs atau Yayasan. Kalau PAUD dan TK-nya ada saudara yang lain. Namun, untuk ponpesnya dilakukan bersama-sama,” jelasnya.

Ada banyak tantangan yang harus dihadapi dalam mengamban amanat sebagai pengasuh. “Dulu orang melihat Aba, jadi anak-anak warga, alumni, serta kerabat lain masuk sini semua tanpa harus buka semacam pendaftaran. Sekarang figurnya sudah tidak ada,” terangnya.

Sebagai generasi penerus pesantren, Gus Ahmad Zuber, harus siap ketika kehilangan figur sang ayah. Tanggung jawabnya untuk meneruskan perjuangan orang tuanya kini tertumpu padanya.

 

 

SOSOK Kiai Muchtar Shiddiq, pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Darul Hikayat Bantaran, Kabupaten Probolinggo, benar-benar menjadi tokoh sentral di pesantrennya. Ketika figur ini meninggal pada Maret 2021, generasinya harus benar-benar kerja keras.

Seperti dirasakan oleh Gus Ahmad Zuber. Pria berusia 40 tahun ini kini harus meneruskan perjuangan sesepuhnya. Mempertahankan dan memperjuangkan pesantren tetap berkhidmah kepada umat.

Kini, tampuk kepemimpinan Pesantren Darul Hikayat memang sudah berada di tangannya bersama sejumlah saudaranya. Namun, kata Guz Zuber, ketokohan Kiai Muchtar masih sangat melekat di benak masyarakat. Terutama bagi para alumnus.

Karenanya, setelah Abahnya meninggal, Gus Zuber mengaku bersama dengan tujuh saudaranya harus beradaptasi dan berjuang lebih keras. Terutama ketika hendak menggunakan pola yang lebih modern dibandingkan dengan sebelumnya.

“Saya ada tujuh bersaudara. Tetapi, yang diberikan tanggung jawab tidak semua. Sebab, masih ada yang sekolah atau kuliah. Hanya beberapa dari tujuh orang anak Abah. Saya diberi peran dan tanggung jawab mengelola MTs atau Yayasan. Kalau PAUD dan TK-nya ada saudara yang lain. Namun, untuk ponpesnya dilakukan bersama-sama,” jelasnya.

Ada banyak tantangan yang harus dihadapi dalam mengamban amanat sebagai pengasuh. “Dulu orang melihat Aba, jadi anak-anak warga, alumni, serta kerabat lain masuk sini semua tanpa harus buka semacam pendaftaran. Sekarang figurnya sudah tidak ada,” terangnya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/