alexametrics
26C
Probolinggo
Friday, 23 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Bu Guru Anis Hidayatie, Aktif Menulis setelah Ditinggal Suami

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Sempat meninggalkan dunia tulis menulis, Anis Hidayatie, 49, kembali aktif menulis sejak 2018. Aktivitasnya itu bahkan telah berhasil membuatnya menulis 15 buku. Tidak melulu soal cerita cinta, tapi juga sebagai sarana dakwah.

————-

ANIS Hidayatie sudah akrab dengan dunia menulis sejak ia masih kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Malang. Saat itu, ia menjadi reporter majalah di kampusnya.

Namun setelah lulus kuliah, aktivitas menulis sempat ditinggalkannya. Saat itu, dia fokus menjadi guru dan mengurus kedua anaknya.

Takdir kemudian membuat ia harus kehilangan suaminya pada 2018. Kondisi ini sempat membuatnya terpukul dan bersedih. Salah satu sahabat karibnya pun memberinya saran agar ia menulis lagi untuk melupakan kedukaan yang dialami.

“Kamu dulu kan pemred majalah kampus, reporter. Menulislah lagi agar dukamu terobati,” begitu saran temannya.

Anis pun menuruti saran tersebut. Akhirnya, ia kembali menulis usai vakum selama 20 tahun sejak menikah pada 1997.

Namun, Anis tidak langsung menulis isu yang berat. Dia mengawali dengan mengunggah tulisan ringan di akun facebook miliknya. Hal itu dia lakukan setiap hari.

Anis Hidayatie bersama Gus Amma’ ketua pcnu kota pasuruan menunjukkan buku karyanya “Gara gara Menjerat Gus Dur”. (Foto: Dok. Pribadi)

“Ternyata banyak yang suka dengan tulisan saya,” ungkap wanita 49 tahun asal Bangil, Kabupaten Pasuruan, itu.

Anis pun terus saja menulis. Tiap hari. Hingga akhirnya, seorang penulis kenalannya menyarankan agar ia menulis di platform. Tujuannya, agar Anis bisa berhubungan dengan sesama penulis.

Anis pun mencoba menulis serial cerita di platform, Plukme. Seperti kisah cinta guru dan murid. Agar lebih menarik, cerita itu diramu dengan cerita konyol dan koplak. Ternyata banyak yang suka, bahkan beberapa penulis mengikuti jejaknya di Plukme.

Tak lama kemudian, pembaca serial ini meminta agar karya tulisannya dibukukan. Hingga terbitlah novel antologi pertama berjudul Asmara di Negeri Somplak; Salikah; dan Tentang Cinta dan Ruang Sunyi pada 2018.

“Awalnya karya saya diterbitkan di penerbit indie. Sebab kalau indie, saya sudah tahu tentang seluk beluk menerbitkan buku di sana. Asal sudah dalam bentuk naskah, kirim ke penerbit dan bisa dibukukan,” jelas Guru Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Pujon ini.

Dari sini, ia melihat karyanya diminati pembaca. Mulai muridnya, teman sesama guru, penulis, hingga komunitas.

Maka, sejak saat itu ia semakin keranjingan menulis dan membukukannya. Tujuannya tidak lain agar jejak tulisannya tetap ada dan tercatat.

Lalu tahun lalu, ia bertemu dengan editor penerbit mayor yakni Elex Media Komputindo. Editor itu menyarankan agar karyanya juga dipublikasikan di penerbit tersebut.

Ia lantas mengumpulkan naskah dan editing yang memakan waktu selama setahun. Mulai tahun 2020 hingga diterbitkan pada 2021.

Saat itu, dia langsung mengirim lima karya tulis miliknya untuk diterbitkan. Dan semuanya akhirnya diterbitkan. Antara lain, Eksotisme Semare, Komunitas, Puisi Antologi Cinta, dan Komunitas-Komunitas di Pasuruan yang dicetak pada 2021.

Karya miliknya ini beragam mulai dari kumpulan cerpen, novel, hingga kumpulan puisi. Namun, semua karya ini memiliki kesamaan. Yakni, tidak ada cerita percintaan picisan layaknya novel roman.

Meskipun tokohnya jatuh cinta, namun ia selalu menyelipkan pesan dan nilai agama di dalamnya. Sehingga, bisa sekaligus berdakwah pada pembaca.

“Mulai saya aktif mencetak karya saya pada 2018 hingga saat ini, ada 15 buku. Tiga di antaranya terbit di Elex Media Komputindo. Tema yang saya angkat beragam. Cuma intinya selalu ada nilai-nilai Islami di dalamnya,” sebut ibu dua anak ini.

Wanita yang kesehariannya tinggal di Desa Ngroto, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, ini menyebut siapapun bisa menjadi penulis. Entah guru, dokter, atau ibu rumah tangga. Dan apapun bisa menjadi bahan tulisan.

Yang terpenting, mereka harus suka membaca, belajar dan sering bergaul dengan penulis. Andai ditolak oleh penerbit pun, jadikan sebagai guru dan pengalaman yang berharga.

“Tulis saja apa yang ada di otak dan hati. Bukukan karya setelah mendapat koreksi dari mereka yang berpengalaman. Jangan malu bertanya, jangan malas belajar, dan terus menulis untuk memperbanyak jam terbang,” sebutnya. (riz/hn/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

Sempat meninggalkan dunia tulis menulis, Anis Hidayatie, 49, kembali aktif menulis sejak 2018. Aktivitasnya itu bahkan telah berhasil membuatnya menulis 15 buku. Tidak melulu soal cerita cinta, tapi juga sebagai sarana dakwah.

————-

ANIS Hidayatie sudah akrab dengan dunia menulis sejak ia masih kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Malang. Saat itu, ia menjadi reporter majalah di kampusnya.

Mobile_AP_Half Page

Namun setelah lulus kuliah, aktivitas menulis sempat ditinggalkannya. Saat itu, dia fokus menjadi guru dan mengurus kedua anaknya.

Takdir kemudian membuat ia harus kehilangan suaminya pada 2018. Kondisi ini sempat membuatnya terpukul dan bersedih. Salah satu sahabat karibnya pun memberinya saran agar ia menulis lagi untuk melupakan kedukaan yang dialami.

“Kamu dulu kan pemred majalah kampus, reporter. Menulislah lagi agar dukamu terobati,” begitu saran temannya.

Anis pun menuruti saran tersebut. Akhirnya, ia kembali menulis usai vakum selama 20 tahun sejak menikah pada 1997.

Namun, Anis tidak langsung menulis isu yang berat. Dia mengawali dengan mengunggah tulisan ringan di akun facebook miliknya. Hal itu dia lakukan setiap hari.

Anis Hidayatie bersama Gus Amma’ ketua pcnu kota pasuruan menunjukkan buku karyanya “Gara gara Menjerat Gus Dur”. (Foto: Dok. Pribadi)

“Ternyata banyak yang suka dengan tulisan saya,” ungkap wanita 49 tahun asal Bangil, Kabupaten Pasuruan, itu.

Anis pun terus saja menulis. Tiap hari. Hingga akhirnya, seorang penulis kenalannya menyarankan agar ia menulis di platform. Tujuannya, agar Anis bisa berhubungan dengan sesama penulis.

Anis pun mencoba menulis serial cerita di platform, Plukme. Seperti kisah cinta guru dan murid. Agar lebih menarik, cerita itu diramu dengan cerita konyol dan koplak. Ternyata banyak yang suka, bahkan beberapa penulis mengikuti jejaknya di Plukme.

Tak lama kemudian, pembaca serial ini meminta agar karya tulisannya dibukukan. Hingga terbitlah novel antologi pertama berjudul Asmara di Negeri Somplak; Salikah; dan Tentang Cinta dan Ruang Sunyi pada 2018.

“Awalnya karya saya diterbitkan di penerbit indie. Sebab kalau indie, saya sudah tahu tentang seluk beluk menerbitkan buku di sana. Asal sudah dalam bentuk naskah, kirim ke penerbit dan bisa dibukukan,” jelas Guru Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Pujon ini.

Dari sini, ia melihat karyanya diminati pembaca. Mulai muridnya, teman sesama guru, penulis, hingga komunitas.

Maka, sejak saat itu ia semakin keranjingan menulis dan membukukannya. Tujuannya tidak lain agar jejak tulisannya tetap ada dan tercatat.

Lalu tahun lalu, ia bertemu dengan editor penerbit mayor yakni Elex Media Komputindo. Editor itu menyarankan agar karyanya juga dipublikasikan di penerbit tersebut.

Ia lantas mengumpulkan naskah dan editing yang memakan waktu selama setahun. Mulai tahun 2020 hingga diterbitkan pada 2021.

Saat itu, dia langsung mengirim lima karya tulis miliknya untuk diterbitkan. Dan semuanya akhirnya diterbitkan. Antara lain, Eksotisme Semare, Komunitas, Puisi Antologi Cinta, dan Komunitas-Komunitas di Pasuruan yang dicetak pada 2021.

Karya miliknya ini beragam mulai dari kumpulan cerpen, novel, hingga kumpulan puisi. Namun, semua karya ini memiliki kesamaan. Yakni, tidak ada cerita percintaan picisan layaknya novel roman.

Meskipun tokohnya jatuh cinta, namun ia selalu menyelipkan pesan dan nilai agama di dalamnya. Sehingga, bisa sekaligus berdakwah pada pembaca.

“Mulai saya aktif mencetak karya saya pada 2018 hingga saat ini, ada 15 buku. Tiga di antaranya terbit di Elex Media Komputindo. Tema yang saya angkat beragam. Cuma intinya selalu ada nilai-nilai Islami di dalamnya,” sebut ibu dua anak ini.

Wanita yang kesehariannya tinggal di Desa Ngroto, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, ini menyebut siapapun bisa menjadi penulis. Entah guru, dokter, atau ibu rumah tangga. Dan apapun bisa menjadi bahan tulisan.

Yang terpenting, mereka harus suka membaca, belajar dan sering bergaul dengan penulis. Andai ditolak oleh penerbit pun, jadikan sebagai guru dan pengalaman yang berharga.

“Tulis saja apa yang ada di otak dan hati. Bukukan karya setelah mendapat koreksi dari mereka yang berpengalaman. Jangan malu bertanya, jangan malas belajar, dan terus menulis untuk memperbanyak jam terbang,” sebutnya. (riz/hn/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2