alexametrics
26.4 C
Probolinggo
Tuesday, 17 May 2022

Hakim Pengadilan Agama Pasuruan Ini Juga Atlet Gantole Nasional Lho

Olahraga dirgantara (ordirga) tidak hanya rumit. Tetapi juga memicu adrenalin dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Namun, Abdul Mustopa sudah akrab dengan ordirga. Hakim Pengadilan Agama (PA) Pasuruan itu bahkan menorehkan prestasi di kancah internasional.

—————–

DITEMUI Jawa Pos Radar Bromo di sela-sela jam istirahat, Abdul Mustopa mengisahkan awal mula dirinya mengenal olahraga dirgantara. Kesenangannya berolahraga ekstrem memang sudah tumbuh sejak muda.

“Saya terbiasa ikut olahraga selam, mendaki, balap BMX. Memang suka yang memicu adrenalin,” kata Mustopa.

Sejak tahun 2000, ia bergabung dalam cabang olahraga paralayang. Di masa itu, atlet yang ingin bergabung dengan olahraga dirgantara harus melalui seleksi yang ketat. Layaknya seleksi seorang pilot.

Dan Mustopa merupakan salah satu dari dua orang kalangan sipil yang mengikuti seleksi itu. Peserta seleksi lainnya merupakan anggota TNI AU yang berminat menjadi pilot.

GEMAR: Abdul Mustopa memang akrab dengan olahraga dirgantara. (Dok. Pribadi)

“Jadi, dulu kalau mau latihan paralayang syaratnya ketat untuk bisa terbang, ada ujiannya. Saya dan teman saya ikut ujian bareng beberapa perwira yang mau jadi pilot,” ungkapnya.

Alhasil, Mustopa pun lolos ujian itu dengan baik. Dia akhirnya diperbolehkan mengikuti latihan paralayang. Dengan modal itu, Mustopa sebenarnya punya peluang mendaftar di TNI AU. Namun, ia memilih mengabdikan diri di Mahkamah Agung sejak 2011.

Enam tahun lamanya menjadi atlet paralayang, Mustopa beberapa kali meraih prestasi di level nasional. Selepas itu, ia memutuskan untuk pindah ke cabang olahraga gantole. Dia ingin memberi kesempatan atlet-atlet yang lebih mudah di olahraga paralayang. “Dan saya ingin mencari tantangan baru di gantole,” bebernya.

HAKIM: Sehari-hari Abdul Mustopa yang juga berprofesi sebagai hakim PA Pasuruan. (Foto M Busthomi)

Menurutnya, dua jenis olahraga itu tak jauh berbeda. Ia pun bisa cepat beradaptasi. Terbukti, Mustopa membawa pulang medali emas pada ajang Pra PON yang digelar di Bandung tahun 2007. Sedangkan pada PON 2008 di Kalimantan, ia harus puas dengan medali perunggu.

Hingga saat ini, pria kelahiran Bangkalan itu masih memegang rekor nasional setelah menang dalam Telomoyo Cup 2018 di Landasan Sraten, Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Dia mencoba peruntungan di kancah internasional dengan mengikuti Forbes Flatlands Championship 2020 di Australia.

“Itu kejuaraan terakhir yang saya ikuti sebelum semuanya ditunda akibat pandemi. Di sana saya juara tiga, di bawah Jerman dan Jepang,” ungkapnya.

Sepulang dari Australia, Mustopa sebenarnya bersiap menyambut beberapa kejuaraan. Seperti PON Papua hingga kejuaraan internasional di Brazil. Namun, semua itu tertunda setelah Covid-19 merebak.“Untuk persiapan kejuaraan butuh waktu tiga bulan untuk latihan,” katanya.

Latihan fisik harus dilakukan setiap hari. Meskipun porsi latihannya tak begitu berat. Tetapi untuk latihan di udara, ia biasa melakukannya dua kali dalam sepekan. Yakni ketika libur bekerja. Sebab, sehari-harinya ia juga harus memusatkan konsentrasi terhadap perkara-perkara di Pengadilan Agama (PA) Pasuruan.

“Dan lagi kalau latihan tiap hari akan menguras tenaga dan pikiran. Nggak baik juga, makanya dua kali dalam seminggu itu sudah ideal untuk latihan terbang,” ucapnya.

Dalam olahraga gantole, kunci utama yang dipegang Mustopa ialah konsentrasi. Sebab, ia terbang dengan layang gantung tanpa mesin. Sehingga diperlukan konsentrasi tinggi untuk mengendalikan layang gantung itu.

“Harus lihai mencari ketinggian, membaca situasi dan paham arah angin. Jangan sampai melawan angin karena beban kita akan berat,” terang dia.

Mustopa mengakui, profesi yang ia jalani memang jauh berbeda dengan hobinya berolahraga. Tetapi dua hal itu harus tetap berjalan beriringan. Tanpa mengganggu satu sama lain.

“Jadi harus bisa mengimbangi antara kepentingan lembaga dengan kejuaraan,” katanya. (tom/fun)

Olahraga dirgantara (ordirga) tidak hanya rumit. Tetapi juga memicu adrenalin dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Namun, Abdul Mustopa sudah akrab dengan ordirga. Hakim Pengadilan Agama (PA) Pasuruan itu bahkan menorehkan prestasi di kancah internasional.

—————–

DITEMUI Jawa Pos Radar Bromo di sela-sela jam istirahat, Abdul Mustopa mengisahkan awal mula dirinya mengenal olahraga dirgantara. Kesenangannya berolahraga ekstrem memang sudah tumbuh sejak muda.

“Saya terbiasa ikut olahraga selam, mendaki, balap BMX. Memang suka yang memicu adrenalin,” kata Mustopa.

Sejak tahun 2000, ia bergabung dalam cabang olahraga paralayang. Di masa itu, atlet yang ingin bergabung dengan olahraga dirgantara harus melalui seleksi yang ketat. Layaknya seleksi seorang pilot.

Dan Mustopa merupakan salah satu dari dua orang kalangan sipil yang mengikuti seleksi itu. Peserta seleksi lainnya merupakan anggota TNI AU yang berminat menjadi pilot.

GEMAR: Abdul Mustopa memang akrab dengan olahraga dirgantara. (Dok. Pribadi)

“Jadi, dulu kalau mau latihan paralayang syaratnya ketat untuk bisa terbang, ada ujiannya. Saya dan teman saya ikut ujian bareng beberapa perwira yang mau jadi pilot,” ungkapnya.

Alhasil, Mustopa pun lolos ujian itu dengan baik. Dia akhirnya diperbolehkan mengikuti latihan paralayang. Dengan modal itu, Mustopa sebenarnya punya peluang mendaftar di TNI AU. Namun, ia memilih mengabdikan diri di Mahkamah Agung sejak 2011.

Enam tahun lamanya menjadi atlet paralayang, Mustopa beberapa kali meraih prestasi di level nasional. Selepas itu, ia memutuskan untuk pindah ke cabang olahraga gantole. Dia ingin memberi kesempatan atlet-atlet yang lebih mudah di olahraga paralayang. “Dan saya ingin mencari tantangan baru di gantole,” bebernya.

HAKIM: Sehari-hari Abdul Mustopa yang juga berprofesi sebagai hakim PA Pasuruan. (Foto M Busthomi)

Menurutnya, dua jenis olahraga itu tak jauh berbeda. Ia pun bisa cepat beradaptasi. Terbukti, Mustopa membawa pulang medali emas pada ajang Pra PON yang digelar di Bandung tahun 2007. Sedangkan pada PON 2008 di Kalimantan, ia harus puas dengan medali perunggu.

Hingga saat ini, pria kelahiran Bangkalan itu masih memegang rekor nasional setelah menang dalam Telomoyo Cup 2018 di Landasan Sraten, Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Dia mencoba peruntungan di kancah internasional dengan mengikuti Forbes Flatlands Championship 2020 di Australia.

“Itu kejuaraan terakhir yang saya ikuti sebelum semuanya ditunda akibat pandemi. Di sana saya juara tiga, di bawah Jerman dan Jepang,” ungkapnya.

Sepulang dari Australia, Mustopa sebenarnya bersiap menyambut beberapa kejuaraan. Seperti PON Papua hingga kejuaraan internasional di Brazil. Namun, semua itu tertunda setelah Covid-19 merebak.“Untuk persiapan kejuaraan butuh waktu tiga bulan untuk latihan,” katanya.

Latihan fisik harus dilakukan setiap hari. Meskipun porsi latihannya tak begitu berat. Tetapi untuk latihan di udara, ia biasa melakukannya dua kali dalam sepekan. Yakni ketika libur bekerja. Sebab, sehari-harinya ia juga harus memusatkan konsentrasi terhadap perkara-perkara di Pengadilan Agama (PA) Pasuruan.

“Dan lagi kalau latihan tiap hari akan menguras tenaga dan pikiran. Nggak baik juga, makanya dua kali dalam seminggu itu sudah ideal untuk latihan terbang,” ucapnya.

Dalam olahraga gantole, kunci utama yang dipegang Mustopa ialah konsentrasi. Sebab, ia terbang dengan layang gantung tanpa mesin. Sehingga diperlukan konsentrasi tinggi untuk mengendalikan layang gantung itu.

“Harus lihai mencari ketinggian, membaca situasi dan paham arah angin. Jangan sampai melawan angin karena beban kita akan berat,” terang dia.

Mustopa mengakui, profesi yang ia jalani memang jauh berbeda dengan hobinya berolahraga. Tetapi dua hal itu harus tetap berjalan beriringan. Tanpa mengganggu satu sama lain.

“Jadi harus bisa mengimbangi antara kepentingan lembaga dengan kejuaraan,” katanya. (tom/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/