alexametrics
28 C
Probolinggo
Monday, 17 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Kesibukan Relawan Atur Lalin saat Jembatan Kedungasem Diperbaiki

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Perbaikan jembatan Kedungasem di Wonoasih, Kota Probolinggo, membuat jembatan tersebut ditutup total. Jalan Amir Hamzah pun jadi satu-satunya jalan alternatif bagi warga yang akan menuju ke selatan, namun enggan memutar jauh. Warga sekitar pun berinisiatif berjaga 24 jam di dua titik rawan.

—————–

SEJAK tiga hari lalu suasana Jalan Amir Hamzah di Kelurahan Kedungasem, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, mendadak berubah. Jalan itu lebih ramai dari biasanya.

Kalau biasanya sepi, kini Jalan Amir Hamzah dipenuhi lalu lalang kendaraan yang melintas. Mulai sepeda motor, sepeda kayuh, sampai mobil. Melintasi di jalan dengan lebar kurang lebih hanya 3 meter itu.

Sejak jembatan Kedungasem di Wonoasih diperbaiki, Jalan Amir Hamzah memang menjadi jalan alternatif bagi kendaraan yang biasa melintas di jembatan nasional itu. Namun, jenis kendaraan yang melintas dibatasi sejak dari pertigaan SMPN 4.

Kendaraan berukuran besar seperti truk, bus, dan kontainer, tidak boleh masuk ke arah jembatan kedungasem. Sementara jenis pikap berukuran sedang bisa masuk dengan melewati jalan alternatif. Yaitu, Jalan Amir Hamzah.

“Kalau pikap masih bisa lewat jalan alternatif. Tapi nanti dari perlintasan kereta harus ke barat. Di sana nanti tembus ke Kelurahan kedunggaleng. Dari sana bisa masuk ke arah Leces,” ujar Rukim, 45, salah satu warga Kedungasem.

Meski jadi jalan alternatif, Jalan Amir Hamzah ibaratnya hanya jadi jalur perantara saja. Dari Jalan Amir Hamzah, selanjutnya arah kendaraan dipecah lagi.

Ada yang ke arah barat, khususnya kendaraan roda empat. Kemudian melewati perlintasan kereta, lalu ke Kedunggaleng dan tembus ke Jorongan. Bisa juga ke Leces.

Lalu, ada yang ke arah timur, khusus untuk kendaraan roda dua. Melewati jembatan gantung Kali Bungor. Kemudian tembus ke Jalan KH Hasan Genggong. Bisa juga ke Jorongan.

Jembatan gantung itu sendiri lebarnya hanya 1 meter. Karena itu, jembatan ini hanya bisa dilewati satu sepeda motor saja.

Karena kondisi itu, warga setempat pun berinisiatif berjaga di dua titik rawan. Ada yang berjaga di dekat jembatan gantung atau di timur Jalan Amir Hamzah. Seperti yang dilakukam Rukim dan sejumlah temannya, sejak tiga hari lalu.

Dia bertugas mengatur lalu lintas motor yang melewati jembatan. “Kalau tidak dijaga yang terjadi malah bisa tumpuk atau tabrakan dari arah barat dan timur. Kalau ada yang jaga, kami bisa memberi tahu sisi mana dulu yang bisa menyeberang, supaya tidak tumpuk,” terangnya.

Di sisi timur itu, ada 5-6 warga Kedungasem yang berjaga. Sedangkan di sisi barat Jalan Amir Hamzah, lebih banyak warga yang berjaga. Sekitar 6-10 orang.

Jumlah di sisi barat lebih banyak untuk membantu melihat kondisi dan memantau jalur kereta. Petugas yang berjaga pun tidak dibayar. Namun, menyiapkan tempat bagi warga yang akan membantu seikhlasnya.

“Kami tidak meminta bayaran kepada warga yang melintas. Tapi ya kalau mau memberikan seikhlasnya, monggo,” ujar Rukim.

Tidak hanya satu jam atau dua jam. Warga berjaga di dua titik itu selama 24 jam.

“Kami berjaga 24 jam. Sebab, pukul 12 malam masih ada yang lewat. Makanya kami berjaga gantian. Sekarang ini sudah hari ketiga berjaga. “Alhamdulillah, selama ini tidak ada kejadian seperti kecelakaan,” tambahnya.

Beberapa warga yang melintas di jembatan gantung merasa sangat terbantu dengan adanya warga yang menjaga jembatan. Seperti yang disampaikan Nurul Huda, 35, karyawan bank swasta asal Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo.

“Bersyukur ada warga yang berjaga di sekitar jembatan. Kalau waktu normal kadang saya lewat sini memang harus gantian. Tapi sekarang jadi jalan alternatif pasti lebih ramai dari kondisi biasa,” katanya.

Kalau tidak ada yang berjaga, menurutnya, jelas kendaraan bisa berebut. Malah bisa menimbulkan macet.

Huda sendiri biasanya lebih sering pulang melewati Jalan KH Hasan Genggong menuju ke Leces. Namun karena ada perbaikan jembatan, dia pun memilih alternatif sebagai jalan terdekat. Yaitu Jalan Amir Hamzah kemudian dilanjut lewat Jembatan Kali Bungor.

Tidak jauh dari lokasi jembatan gantung terdapat beberapa warga tengah mengupas cabai busuk yang telah kering. Mereka tampak bersiap untuk pulang dari proses mengupas cabai kering itu.

Nunung, 45, mengaku tidak mempermasalahkan banyaknya kendaraan yang masuk di lingkungan kampungnya. Mengingat jalan ini adalah jalan alternatif saat perbaikan Jembatan Kedungasem.

“Kalau tidak lewat sini, malah kasihan yang naik motor atau mobil. Harus mutar jauh lewat SMPN 4. Lewat sini ndak masalah, karena memang kondisinya darurat,” ujarnya.

Memang ada siswa-siswi TPQ di sekitar tempat itu. Namun, mereka rata-rata diantar dan jemput orang tuanya. Sehingga, keamanannya terjaga.

Menurut Nunung, jalan yang dilalui Jembatan Kali Bungor ini tembus ke lapangan Kedungasem. Dari lapangan tersebut bisa mengikuti jalan paving tembus ke Jalan KH Hasan Genggong.

“Dari sana bisa langsung ke Leces. Kalau yang masuk ke timur itu tembus ke Kedunggaleng. Itu untuk mobil kecil bisa lewat,” terangnya.

Harian ini mencoba melewati Jalan Amir Hamzah yang digunakan untuk jalan alternatif bagi mobil. Lebar jalan tersebut sekitar 3 meter dan masuk ke lingkungan permukiman penduduk. Jalan tersebut berakhir ke jalan Prof Hamka dekat batas Kota Probolinggo. (put/hn/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

Perbaikan jembatan Kedungasem di Wonoasih, Kota Probolinggo, membuat jembatan tersebut ditutup total. Jalan Amir Hamzah pun jadi satu-satunya jalan alternatif bagi warga yang akan menuju ke selatan, namun enggan memutar jauh. Warga sekitar pun berinisiatif berjaga 24 jam di dua titik rawan.

—————–

SEJAK tiga hari lalu suasana Jalan Amir Hamzah di Kelurahan Kedungasem, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, mendadak berubah. Jalan itu lebih ramai dari biasanya.

Mobile_AP_Half Page

Kalau biasanya sepi, kini Jalan Amir Hamzah dipenuhi lalu lalang kendaraan yang melintas. Mulai sepeda motor, sepeda kayuh, sampai mobil. Melintasi di jalan dengan lebar kurang lebih hanya 3 meter itu.

Sejak jembatan Kedungasem di Wonoasih diperbaiki, Jalan Amir Hamzah memang menjadi jalan alternatif bagi kendaraan yang biasa melintas di jembatan nasional itu. Namun, jenis kendaraan yang melintas dibatasi sejak dari pertigaan SMPN 4.

Kendaraan berukuran besar seperti truk, bus, dan kontainer, tidak boleh masuk ke arah jembatan kedungasem. Sementara jenis pikap berukuran sedang bisa masuk dengan melewati jalan alternatif. Yaitu, Jalan Amir Hamzah.

“Kalau pikap masih bisa lewat jalan alternatif. Tapi nanti dari perlintasan kereta harus ke barat. Di sana nanti tembus ke Kelurahan kedunggaleng. Dari sana bisa masuk ke arah Leces,” ujar Rukim, 45, salah satu warga Kedungasem.

Meski jadi jalan alternatif, Jalan Amir Hamzah ibaratnya hanya jadi jalur perantara saja. Dari Jalan Amir Hamzah, selanjutnya arah kendaraan dipecah lagi.

Ada yang ke arah barat, khususnya kendaraan roda empat. Kemudian melewati perlintasan kereta, lalu ke Kedunggaleng dan tembus ke Jorongan. Bisa juga ke Leces.

Lalu, ada yang ke arah timur, khusus untuk kendaraan roda dua. Melewati jembatan gantung Kali Bungor. Kemudian tembus ke Jalan KH Hasan Genggong. Bisa juga ke Jorongan.

Jembatan gantung itu sendiri lebarnya hanya 1 meter. Karena itu, jembatan ini hanya bisa dilewati satu sepeda motor saja.

Karena kondisi itu, warga setempat pun berinisiatif berjaga di dua titik rawan. Ada yang berjaga di dekat jembatan gantung atau di timur Jalan Amir Hamzah. Seperti yang dilakukam Rukim dan sejumlah temannya, sejak tiga hari lalu.

Dia bertugas mengatur lalu lintas motor yang melewati jembatan. “Kalau tidak dijaga yang terjadi malah bisa tumpuk atau tabrakan dari arah barat dan timur. Kalau ada yang jaga, kami bisa memberi tahu sisi mana dulu yang bisa menyeberang, supaya tidak tumpuk,” terangnya.

Di sisi timur itu, ada 5-6 warga Kedungasem yang berjaga. Sedangkan di sisi barat Jalan Amir Hamzah, lebih banyak warga yang berjaga. Sekitar 6-10 orang.

Jumlah di sisi barat lebih banyak untuk membantu melihat kondisi dan memantau jalur kereta. Petugas yang berjaga pun tidak dibayar. Namun, menyiapkan tempat bagi warga yang akan membantu seikhlasnya.

“Kami tidak meminta bayaran kepada warga yang melintas. Tapi ya kalau mau memberikan seikhlasnya, monggo,” ujar Rukim.

Tidak hanya satu jam atau dua jam. Warga berjaga di dua titik itu selama 24 jam.

“Kami berjaga 24 jam. Sebab, pukul 12 malam masih ada yang lewat. Makanya kami berjaga gantian. Sekarang ini sudah hari ketiga berjaga. “Alhamdulillah, selama ini tidak ada kejadian seperti kecelakaan,” tambahnya.

Beberapa warga yang melintas di jembatan gantung merasa sangat terbantu dengan adanya warga yang menjaga jembatan. Seperti yang disampaikan Nurul Huda, 35, karyawan bank swasta asal Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo.

“Bersyukur ada warga yang berjaga di sekitar jembatan. Kalau waktu normal kadang saya lewat sini memang harus gantian. Tapi sekarang jadi jalan alternatif pasti lebih ramai dari kondisi biasa,” katanya.

Kalau tidak ada yang berjaga, menurutnya, jelas kendaraan bisa berebut. Malah bisa menimbulkan macet.

Huda sendiri biasanya lebih sering pulang melewati Jalan KH Hasan Genggong menuju ke Leces. Namun karena ada perbaikan jembatan, dia pun memilih alternatif sebagai jalan terdekat. Yaitu Jalan Amir Hamzah kemudian dilanjut lewat Jembatan Kali Bungor.

Tidak jauh dari lokasi jembatan gantung terdapat beberapa warga tengah mengupas cabai busuk yang telah kering. Mereka tampak bersiap untuk pulang dari proses mengupas cabai kering itu.

Nunung, 45, mengaku tidak mempermasalahkan banyaknya kendaraan yang masuk di lingkungan kampungnya. Mengingat jalan ini adalah jalan alternatif saat perbaikan Jembatan Kedungasem.

“Kalau tidak lewat sini, malah kasihan yang naik motor atau mobil. Harus mutar jauh lewat SMPN 4. Lewat sini ndak masalah, karena memang kondisinya darurat,” ujarnya.

Memang ada siswa-siswi TPQ di sekitar tempat itu. Namun, mereka rata-rata diantar dan jemput orang tuanya. Sehingga, keamanannya terjaga.

Menurut Nunung, jalan yang dilalui Jembatan Kali Bungor ini tembus ke lapangan Kedungasem. Dari lapangan tersebut bisa mengikuti jalan paving tembus ke Jalan KH Hasan Genggong.

“Dari sana bisa langsung ke Leces. Kalau yang masuk ke timur itu tembus ke Kedunggaleng. Itu untuk mobil kecil bisa lewat,” terangnya.

Harian ini mencoba melewati Jalan Amir Hamzah yang digunakan untuk jalan alternatif bagi mobil. Lebar jalan tersebut sekitar 3 meter dan masuk ke lingkungan permukiman penduduk. Jalan tersebut berakhir ke jalan Prof Hamka dekat batas Kota Probolinggo. (put/hn/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2