Inilah Tristan Rokhmawan, Dosen yang Juga Penulis Folklor

Pasuruan memang lekat dengan identitas kota santri. Hal itu tak lepas dari banyaknya ulama yang disegani. Tentu, kehidupan para ulama itu juga meninggalkan warisan berupa cerita rakyat. Tristan Rokhmawan merangkumnya dalam tulisan folklor.

———–

Pria berusia 31 tahun itu mulai mengenal folklor ketika dirinya masih mengenyam pendidikan sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang. Sekitar 2009 silam, mendekati semester akhir, Tristan mendapat tugas menulis cerita rakyat. Sebagian kebudayaan kolektif yang tersebar dan diwariskan turun-temurun.

Tristan lantas mengangkat cerita rakyat yang sudah tak asing baginya. Inspirasi itu justru ia dapat dari kampung halamannya sendiri. Di Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Sosok Kiai Sepuh dengan berbagai ceritanya di masa lampau, tentu sudah sering ia dengar.

“Tetapi untuk menyelesaikan tugas itu, saya keliling kampung. Mulai dari Gentong sampai Sebani,” ungkap dia.

Selama tiga bulan ia habiskan waktu untuk melakukan riset demi mendapatkan data dan informasi yang lengkap. Sebelum akhirnya dituangkan dalam sebuah karya berupa folklor untuk memenuhi tugas kuliahnya. Sepanjang riset itulah, Tristan juga sering berinteraksi dengan Kaji Karno. Budayawan yang juga penulis buku Membeli Cahaya Bulan.

“Nah sama (Alm) Kaji Karno waktu itu disarankan agar saya tidak hanya mengangkat cerita Kiai Sepuh saja, karena di Pasuruan ini banyak figur yang lain. Tapi karena kebutuhan saya waktu itu hanya untuk tugas kuliah, ya saya gali cerita-cerita tentang Kiai Sepuh saja,” bebernya.

Selang beberapa tahun kemudian, Tristan sudah menjadi dosen di STKIP PGRI Pasuruan (sekarang Universitas PGRI Wiranegara). Dia mendapat tugas dari Kaprodi tempatnya mengajar, untuk melakukan penelitian mengenai potensi budaya di Kota Pasuruan. Baru setelah itu, dia kembali melakukan riset sebagaimana yang ia lakukan ketika masih menjadi mahasiswa.

“Saya buka lagi data-data lama, mengenai Kiai Sepuh kan sudah ada. Akhirnya saya gali cerita-cerita ulama yang lain. Seperti Kiai Hamid, Mbah Mas Imam, Mbah Slagah, Mbah Dacin dan lainnya,” katanya.

Sedikitnya, ada 10 ulama yang masuk dalam daftar risetnya. Segala cerita yang beredar di masyarakat mengenai 10 ulama itu ia gali. Akan tetapi, tidak semua cerita akhirnya ia tuangkan dalam tulisan folklornya. Sebab dia hanya berkonsentrasi pada cerita-cerita yang mudah dipahami oleh anak-anak.

“Sebenarnya banyak cerita yang saya temukan. Tapi karena ini akan disajikan untuk anak-anak saya hanya merangkum 10 cerita saja,” ujarnya.

Orang pertama yang ia temui dalam menggali cerita satu sosok ulama ialah juru kunci makam. Kemudian juga beberapa masyarakat sekitar. Namun tak semua warga bisa dimintai informasi. Tristan memiliki kriteria tersendiri. Setidaknya, warga itu tinggal di kawasan itu selama 30 tahun ke belakang.

“Dengan begitu, mereka tentu paham dan akrab dengan cerita-cerita rakyat yang berkembang,” jelasnya.

Meski begitu, riset yang dilakukan ternyata tak semulus yang dia bayangkan. Menurutnya, sebagian masyarakat yang dia temui terbilang masih awam dengan yang namanya riset. “Sehingga saat ditanyai itu banyak yang takut, ini kan kendala saya cari data. Semakin ditutupi, ceritanya juga semakin tidak lengkap,” terangnya.

Tristan perlu waktu untuk bisa membuat orang-orang itu nyaman. “Saya hadir sebagai anak, keponakan atau cucu mereka,” katanya.

Sebenarnya, Tristan juga ingin agar anak-anak yang menjadi generasi penerus di Kota Pasuruan melek literasi. Keinginan itulah yang kemudian mendorongnya semangat dalam menyusun folklor. Cerita-cerita mengenai ulama Kota Pasuruan sengaja ia angkat agar diketahui secara luas oleh masyarakat kota sendiri.

Sayangnya, di awal dia merasa ikhtiarnya itu justru tak direspons baik oleh pemerintah setempat. “Dulu waktu awal riset saya sempat izin ke dinas terkait. Barangkali karya saya ini nanti bisa untuk materi pembelajaran anak-anak di sekolah tapi tidak ada support sama sekali. Padahal saya tidak minta uang lho,” kelakarnya.

Meski begitu, keinginan Tristan mengenalkan cerita rakyat para ulama melalui karyanya tak putus begitu saja. Setelah kumpulan cerita rakyat itu rampung, ia mendapat angin segar dari Dinas Perpustakaan dan Arsip setempat. Tristan mulai mengikuti kegiatan perpustakaan keliling.

Dalam kesempatan itu, dia memfotokopi sebagian cerita rakyat untuk dibagikan kepada anak-anak yang datang. Kini, karyanya itu sudah diterbitkan dalam bentuk buku. Judulnya Do’a dan Teladan Para Ulama. Buku yang terbit pada Februari 2020 itu ternyata juga menuai komentar beberapa pihak.

Salah satunya ada yang memprotes karena dalam bukunya tercantum cerita seorang kiai yang digambarkan sedang dalam konflik. “Apapun yang berkembang di masyarakat, cerita-cerita turun-temurun itu yang saya tulis. Terlepas dari kebenaran sejarah, karena folklor itu beda dengan sejarah,” bebernya. (tom/fun)