Arjuna Shooting Club (ASC), Pemburu yang Fokus pada Hama, Dari Babi Hutan, Bajing hingga Tikus

Berburu tidak sekadar hobi. Bagi Arjuna Shooting Club (ASC), berburu juga merupakan sarana untuk membantu petani yang tanamannya diserang hama. Bahkan, juga menjadi wadah sosialisasi agar tidak sembarangan membunuh hewan. Apalagi, binatang yang dilindungi.

————

Malam tiba. Kawasan hutan di wilayah Ledug, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan pun menjadi begitu gelap. Saking gelapnya, nyaris tidak terlihat benda di sekelilingnya. Hitam pekat.

Gelapnya suasana itu, tak menyurutkan niatan Bagus Surya Atmaja, 40 dan rekan-rekannya untuk mencari mangsa. Mereka terus menyusuri hutan setempat. Berbekal cahaya senter, mereka mengikuti jejak kaki binatang yang diincarnya. Yaitu, babi hutan.

Umpan berupa biji kelapa dan nangka, dipasangnya. Tape recorder berisi suara babi hutan diputar. Selanjutnya, ia dan rekan-rekannya menaiki pohon untuk menghindari serudukan babi hutan ataupun binatang buas lainnya.

“Biasanya, kami berlima dalam setiap operasi. Setelah menyusun strategi, kami mendatangi lokasi dan mencari jejak kaki babi hutan. Begitu dirasa ada tempat yang pas, kami pasang umpan agar babi hutan datang. Kami kemudian naik pohon dan mengintai di atasnya,” kata Bagus mengisahkan proses berburu babi hutan yang biasa dilakukannya.

SUDAH LAMA TERBENTUK: ASC berdiri tahun 2006. (Foto: ASC for Jawa Pos Radar Bromo)

Bagus merupakan ketua ASC, wadah bagi penembak di wilayah Kabupaten Pasuruan. Ada 60 orang yang tergabung dalam ASC. Mereka rata-rata merupakan pemburu. Tapi, ada beberapa yang merupakan atlet olahraga menembak.

Menurutnya, ASC berdiri tahun 2006. Semula, ASC hanya sarana berkumpul bagi penghobi penembak dan pemburu di Pandaan. Dengan jumlah anggota 15 orang. Namun, lambat laun berkembang menjadi wadah untuk sosialisasi bagi pemburu lainnya. Bahkan, organisasi ini sudah memiliki legal hukum sejak 2019.

“ASC kini bukan hanya untuk pemburu, tetapi juga ajang pencari bibit atlet penembak,” ulas warga Tawangrejo, Kecamatan Pandaan, ini.

Sebelum organisasi ini terbentuk, banyak pemburu yang tidak paham aturan berburu. Karena itu, mereka sembarangan melakukan perburuan. Tidak hanya memburu hewan yang dilarang. Tetapi juga menggunakan senjata sembarangan.

Bagi sebagian besar pemburu, semua binatang yang ada di hutan dianggap sebagai target buruan. Seperti kijang, harimau, ataupun binatang lainnya. “Termasuk burung kuntul yang biasa hidup di sawah, tak jarang jadi target sasaran. Padahal, burung tersebut kan termasuk yang dilarang untuk diburu,” sampainya.

Dalam pikiran mereka, yang terpenting pulang membawa hewan buruan. Hal ini yang kerap memicu pandangan miring pada pemburu. Mereka dianggap merusak alam.

“Berangkat dari situlah, kami ingin mengubah image negatif tentang pemburu. Kami juga prihatin kalau perburuan dilakukan secara liar. Karena bisa merusak keseimbangan alam,” ungkap dia.

Ia dan rekan-rekannya lantas berusaha memperbaiki citra pemburu. Caranya, dengan membantu masyarakat. Bentuknya, tidak memburu binatang seenaknya. Tetapi, hanya memburu hewan yang jadi hama bagi pertanian.

Ada dua binatang yang dianggap hama bagi petani. Selain babi hutan, juga bajing kelapa. Babi hutan dianggap hama karena serangannya bisa merusak pertanian jagung dan tanaman lainnya. Pernah, ada beberapa hektare lahan jagung rusak gara-gara serangan babi hutan.

Sementara bajing kelapa, kerap menjadi perusak bagi tanaman pinus ataupun durian. Bahkan, serangan bajing kelapa bisa membuat mati pinus-pinus yang ada. Sehingga, petani tidak bisa mengambil getah dari pinus tersebut. Kedua binatang inilah yang kerap menjadi sasaran perburuan.

“Kami juga memasukkan binatang tikus sebagai buruan. Pernah, kami memburu tikus-tikus di Pasar Pandaan. Karena ada permintaan dari pasar yang resah dengan serangan tikus,” aku dia.

Bagus mengungkapkan, perburuan yang dilakukannya bersama tim, terorganisasi. Ia dan rekan-rekannya tidak asal berangkat. Mereka sering berburu karena mendapatkan “panggilan” dari warga atau petani yang resah karena serangan hama. Tidak hanya warga di Kabupaten Pasuruan. Karena mereka juga pernah mendapat panggilan ke wilayah lain seperti Lamongan.

Namun, tidak semua “order” berburu ia terima. Permintaan memburu binatang yang dilindungi, tidak dilakukan. Pernah, ia mendapat order berburu hama tambak, burung kowak. Namun, karena burung tersebut dilarang untuk diburu, pihaknya pun menolak.

“Kami lakukan survei dulu untuk kemudian menyusun strategi. Barulah perburuan dilakukan,” sambungnya.

Perlengkapan standar pun dibawanya saat melakukan perburuan. Selain senapan angin dengan kaliber 4,5 milimeter, senter, dan beberapa peralatan berburu lainnya. Ia juga tak lupa membawa perbekalan makanan dan minuman, untuk menyanggong binatang di sana.

Berburu babi hutan tidaklah mudah. Karena saat berburu, membutuhkan kesabaran. Ia pernah menyanggong sehari semalam. Namun, buruan yang diincar tak kunjung muncul batang hidungnya.

“Kami nyanggong di pohon mulai pukul 12.00 sampai pagi hari. Tidak muncul-muncul,” tuturnya.

Bukan hanya itu, ia juga pernah sampai jatuh dari pohon sekitar 3 meter saat nyanggong. Gara-garanya, ia tak sadar ketiduran saat nyanggong. “Ya sakit. Jadi saat berburu itu, sering juga kami gagal dapat buruan,” ulas lelaki yang berprofesi sebagai pedagang ini.

Meski begitu, berburu tetaplah hal menyenangkan baginya. Selain bisa melepaskan kepenatan juga bisa berbaur dengan teman-temannya.

Cerita seru berburu lainnya, juga dirasakan oleh Sucipto, ketua bidang berburu ASC. Lelaki asal Durensewu, Kecamatan Pandaan, ini mengaku pernah kepropok babi hutan. Saat asyik berburu, tiba-tiba binatang buruannya berada di depannya. Hanya berjarak dua meter. Babi itu pun langsung mengejarnya.

“Saya mundur pelan-pelan. Begitu agak jauh, saya lari dan naik pohon. Untungnya, babi hutan tersebut tidak sampai menyeruduk saat mengejar,” akunya.

Ia menambahkan, menembak sasaran tidak bisa sembarangan. Harus mengenai titik vital. Titik vital tersebut, berada di area telinga. “Kalau meleset, bisa-bisa pemburu itu yang menjadi sasaran binatang buruannya,” tandas dia. (one/hn/fun)