Cerita CJH Tertua Kota Probolinggo yang Batal Berangkat Tahun Ini

Pembatalan pemberangkatan jamaah haji tahun 2020, menimbulkan beragam perasaan di hati sejumlah calon jamaah haji (CJH). Terlebih mereka yang sudah sepuh. Seperti Slamet Prijadi, 75, CJH tertua di Kota Probolinggo.

RIZKY PUTRA DINASTI, Probolinggo, Radar Bromo

Sejak pandemi Covid-19 merebak, bayang-bayang penundaan terhadap pelaksanaan ibadah haji tahun ini terus menghantui. Dan ‘hantu’ itu akhirnya benar-benar datang. Kemenag RI memutuskan untuk menunda pemberangkatan jamaah haji tahun ini ke Makkah.

Keputusan itu tentu saja menyesakkan dada para CJH yang sudah melunasi BPIH tahun ini. Namun, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain hanya ikhlas dan harus legawa.

Hal itu juga yang dirasakan Slamet Prijadi, 75, jamaah haji tertua di Kota Probolinggo. Seharusnya, Slamet bersama Bawuk Sumiati, 68, istrinya akan berangkat haji pada Juli 2020. Namun, kini semuanya tinggal angan-angan.

Selasa (2/6) siang saat ditemui di rumahnya, keduanya mengaku belum menerima surat resmi dari Kemenag Kota Probolinggo tentang pembatalan itu. Namun, mereka sudah mengetahui melalui grup WA CJH Kota Probolinggo.

Slamet dan Bawuk pun mengaku legawa. Meskipun mulanya ada gejolak perasaan sedih. Lebih lagi, Slamet yang tahun ini berusia 75.

Bagi Slamet, kondisi ini dinilainya sebagai hal terbaik. Sebab, pemerintah mengambil keputusan untuk keselamatan semua jamaah.

“Kami tetap menerima keputusan yang diambil pemerintah. Kami yakin, semua telah direncanakan oleh Allah. Mungkin inilah yang terbaik buat kami,” tutur Slamet saat ditemui di rumahnya, Jl KH Hasan Genggong, Gang Flamboyan, RT 1/RW 2, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

Satu yang kini sangat diharapkan Slamet. Allah memberinya umur panjang, hingga dipertemukan dengan Kakbah tahun depan saat usianya menginjak 76.

“Kami hanya bisa berdoa agar sama-sama diberikan umur yang panjang. Sehingga, bisa melihat kakbah lagi sebelum tutup usia,” tuturnya.

Slamet memang pernah naik haji pada 1992. Namun, saat itu Bawuk tidak ikut. Karena itu, Slamet sangat ingin menemani istrinya berhaji. Dan kesempatan itu datang tahun ini.

“Bapak dulu pada tahun 1992 pernah naik haji. Kali ini berangkat lagi untuk menemani saya,” tambah Bawuk.

Perempuan yang telah memiliki 9 cucu dari 4 anaknya itu mengaku sedih. Namun, hal itu ia kembalikan lagi kepada sang Khalik. Keempat anaknya pun terus memberikan semangat melalui telepon.

“Saya daftar pada tahun 2011. Dan itu diurus anak-anak saya. Anak-anak ya menelepon kami. Mereka minta kami tetap sabar. Yang terpenting menjaga kesehatan,” tuturnya.

Bawuk mengakui, sejumlah persiapan sudah dilakukan anak-anaknya. Tetapi, hal tersebut masih bisa disimpan untuk tahun 2021.

“Untuk persiapan sebagian sudah diatur anak-anak. Kalau saya sendiri ada baju batik, tapi belum saya jahitkan. Memang saya bilang ke bapaknya, nanti dijahitkan kalau mau berangkat. Ternyata ditunda. Untuk koper dan baju ikram belum dapat dari Kemenag,” katanya.

Sementara persiapan pribadi, keduanya selalu menjaga kebugaran tubuh dengan rajin berolahraga serta minum vitamin. Terbukti, meski menginjak usia 76 tahun, Slamet tetap sehat. Dia bahkan masih bisa naik motor sendirian.

“Semoga kami diberikan umur panjang, sehingga bisa menjadi haji yang mabrur. Bisa berangkat dan pulang dengan selamat dan sehat. Serta terhindar dari Covid-19,” beber keduanya. (hn)