alexametrics
27 C
Probolinggo
Sunday, 16 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Zainal Iqbal Sejak Kecil Menghafal Alquran dan Kerap Juara MTQ

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Zainal Iqbal Fadhlur Rohman mulai menghafal Alquran sejak dia mulai berumur 12 tahun. Persisnya saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Meski saat itu dia baru menghafal 5 juz.

———————

BERAGAM tantangan didapatkan dalam proses menjadi hafiz. Tapi motivasi paling besar dia dapatkan dari Yakhub, ayah atau abahnya untuk

menuntaskan menghafal 1.114 surat Alquran. Sang ayah juga seorang hafiz Alquran.

Pemuda yang kini sudah berusia 26 tahun itu tinggal di Desa Asembagus, Kecamatan Kraksaan. Lingkungan yang kental dengan agama.

“Dari kecil memang sudah dikenalkan dengan dengan Alquran. Awalnya dikenalkan melalui juz ammah atau juz 30. Dari sana hafal. Kemudian saat kelas 6 SD sudah bisa hafal sekitar 5 juz,” ujar anak pertama dari tiga bersaudara tersebut.

Semasa SD-nya, metode yang digunakan oleh ayahnya bukan hanya spirit. Mulanya usai hafal juz ammah, Iqbal diminta untuk bisa menghafalkan satu lembar Alquran.

“Ditantang untuk menghafal 1 lembar. Kalau hapal diberi uang jajan Rp 5.000. Semangat dong saat itu. Saat hafal, saya setor ke Abah. Saat menyetor itu saya tagih uangnya,” ujarnya, sembari tersenyum mengingat masa-masa dirinya semangat untuk menghafal.

Hafalan demi hafalan, lembar demi lembar Alquran mulai disetor kepada ayahnya. Begitu pula uang jajan yang diberikan mulai banyak didapatkan oleh Iqbal. “Tambah banyak setorannya, uangnya tambah banyak. Alhamdulillah,” ungkapnya.

Tahun demi tahun mulai berganti. Hingga 2007, Iqbal mulai membulatkan tekad untuk terus mengasah kemampuan menghafal Alquran dan menambah hafalannya. Tekad tersebut dibuktikan di lanjutnya dengan mondok pondok pesantren (PP) Tahfidzil Quran Rangkang, Kraksaan yang diasuh oleh ustadz Abdul Qadir Somad.

Sementara itu sekolah formalnya berada di bangku madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Ulama (MTs NU) Kraksaan. “Dari sana benar-benar serius. Sebab eman-eman, sudah hafal 5 juz, kemudian tidak diteruskan,” terangnya.

Jarak pondok yang cukup jauh dengan sekolah formalnya tidak menghalangi Iqbal untuk terus menghafalkan ayat Alquran. Selepas pulang sekolah saat sore hari, Iqbal menyempatkan diri untuk menghafal. Dia berupaya membalik kelelahan usai sepulang sekolah, menjadi semangat.

“Setiap hari berangkat pagi untuk sekolah, dan jalan kaki pada waktu itu. Jaraknya cukup jauh. Sorenya saya sempatkan untuk menghafal di pondok pesantren. Berbulan-bulan terus seperti itu. Menghafalkan, setor, menghafalkan setor,” ujarnya.

Seperti manusia pada umumnya Iqbal juga memiliki rasa jenuh. Saat umurnya belasan tahun tersebut kejenuhan mulai menghinggapi. Sampai dia beberapa kali mengikuti perlombaan tahfiz, membuat semangatnya kembali meninggi. Selain itu itu kakak senior di pondoknya juga menjadi semangat untuk terus menggapai cita-citanya.

“Saat itu sempat ikut lomba tahfidz juz 30 se-Kabupaten. Syukur juara 2. Dari sana mulai senang dan semangat lagi. Selain mendapat piala juga mendapat uang. Kakak senior di pondok juga sering melibatkan saya dalam jam hataman. Pada saat itu saya masih menghafalkan 10 juz, meski belum tuntas 30 juz saya sering diajak. Alasannya bacaan saya sudah bagus,” ujarnya.

Usia remaja pun sampai pada Iqbal, dia melanjutkan sekolah di Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Kraksaan. Di sini ini titik jenuhnya mulai kembali datang. Penyebabnya, aktivitas sekolah formal yang mulai padat. Sehingga dalam mengatur waktu menghafal kian sulit.

Hingga masuk kelas 2 semester 1, ia membuat moment renungan untuk membulatkan tekadnya kembali dalam mengejar. Renungan tersebut menghasilkan keputusan. Iqbal memutuskan untuk berhenti sekolah dan melanjutkan cita-citanya menjadi penghafal Alquran.

Keputusan tersebut ditentang oleh Siti Halimah, yang tidak lain adalah ibunda. “Saat pamit terhadap orang tua, Umi tidak setuju pada waktu itu. Tapi karena saya ingin seperti Abah, sehingga sekitar 4 bulan saya berhenti sekolah. Untuk melanjutkan hafalan saya. Sebab saat sekolah waktu dirasa tidak cukup, masih harus hafalan masih harus mengerjakan tugas,” ujarnya.

Selama 4 bulan tidak sekolah, ayahnya mengerti tekanan yang didapatkan oleh anaknya. Sehingga tanpa sepengetahuan Iqbal, ayahnya mencoba mencarikan sekolah yang tidak begitu padat kegiatan dan lebih santai.

Walau begitu bukan berarti Iqbal mandek sekolah. Dia tetap melanjutkan pendidikan formalnya di sekolah. “Kemudian saya ditaruh di MA Saqo (syekh Abdul Qodir Al Jaelani) Kraksaan. Di sana tidak begitu padat kegiatannya, sehingga saya dapat menuntaskan hafalan saya seutuhnya. Seminggu sebelum ujian nasional saya sudah sudah hafal30 juz,” ujarnya.

Dari perjalanan dan proses penghafalan Alquran yang dilakukan oleh Iqbal, banyak pengalaman dan prestasi yang ditorehkan olehnya. Mulai dari kejuaraan tahfidzul Quran tingkat kabupaten dan provinsi sudah pernah dirasakan olehnya.

Pria yang rencananya akan melanjutkan studi di salah satu universitas di Brunei Darussalam melalui program tahfidz, pernah menjuarai perlombaan Musabaqah Tahfidzul Quran (MTQ) peringkat kampus Jawa Timur. Lomba itu berlokasi di Universitas Trunojoyo Madura dan beberapa MTQ di tingkat Kabupaten.

“Ada yang juara pertama dan harapan dua,” ujar pria Alumni Universitas Islam Zainul Hasan (UNZAH) Genggong tersebut.

Dengan tercapainya cita-cita menjadi tahfiz, saat ini kegiatannya juga mengikuti koordinator rumah tahfiz di Jawa Timur 2. Di sana dia juga menjadi salah satu atau pendamping tahfiz di beberapa sekolah.

“Seperti di SD Muhammadiyah Kreatif Kraksaan, Sekolah MTS NU Kraksaan. Dan banyak pengajaran privat lainnya yang saya lakukan,” ujarnya. (agus faiz musleh/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

Zainal Iqbal Fadhlur Rohman mulai menghafal Alquran sejak dia mulai berumur 12 tahun. Persisnya saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Meski saat itu dia baru menghafal 5 juz.

———————

BERAGAM tantangan didapatkan dalam proses menjadi hafiz. Tapi motivasi paling besar dia dapatkan dari Yakhub, ayah atau abahnya untuk

Mobile_AP_Half Page

menuntaskan menghafal 1.114 surat Alquran. Sang ayah juga seorang hafiz Alquran.

Pemuda yang kini sudah berusia 26 tahun itu tinggal di Desa Asembagus, Kecamatan Kraksaan. Lingkungan yang kental dengan agama.

“Dari kecil memang sudah dikenalkan dengan dengan Alquran. Awalnya dikenalkan melalui juz ammah atau juz 30. Dari sana hafal. Kemudian saat kelas 6 SD sudah bisa hafal sekitar 5 juz,” ujar anak pertama dari tiga bersaudara tersebut.

Semasa SD-nya, metode yang digunakan oleh ayahnya bukan hanya spirit. Mulanya usai hafal juz ammah, Iqbal diminta untuk bisa menghafalkan satu lembar Alquran.

“Ditantang untuk menghafal 1 lembar. Kalau hapal diberi uang jajan Rp 5.000. Semangat dong saat itu. Saat hafal, saya setor ke Abah. Saat menyetor itu saya tagih uangnya,” ujarnya, sembari tersenyum mengingat masa-masa dirinya semangat untuk menghafal.

Hafalan demi hafalan, lembar demi lembar Alquran mulai disetor kepada ayahnya. Begitu pula uang jajan yang diberikan mulai banyak didapatkan oleh Iqbal. “Tambah banyak setorannya, uangnya tambah banyak. Alhamdulillah,” ungkapnya.

Tahun demi tahun mulai berganti. Hingga 2007, Iqbal mulai membulatkan tekad untuk terus mengasah kemampuan menghafal Alquran dan menambah hafalannya. Tekad tersebut dibuktikan di lanjutnya dengan mondok pondok pesantren (PP) Tahfidzil Quran Rangkang, Kraksaan yang diasuh oleh ustadz Abdul Qadir Somad.

Sementara itu sekolah formalnya berada di bangku madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Ulama (MTs NU) Kraksaan. “Dari sana benar-benar serius. Sebab eman-eman, sudah hafal 5 juz, kemudian tidak diteruskan,” terangnya.

Jarak pondok yang cukup jauh dengan sekolah formalnya tidak menghalangi Iqbal untuk terus menghafalkan ayat Alquran. Selepas pulang sekolah saat sore hari, Iqbal menyempatkan diri untuk menghafal. Dia berupaya membalik kelelahan usai sepulang sekolah, menjadi semangat.

“Setiap hari berangkat pagi untuk sekolah, dan jalan kaki pada waktu itu. Jaraknya cukup jauh. Sorenya saya sempatkan untuk menghafal di pondok pesantren. Berbulan-bulan terus seperti itu. Menghafalkan, setor, menghafalkan setor,” ujarnya.

Seperti manusia pada umumnya Iqbal juga memiliki rasa jenuh. Saat umurnya belasan tahun tersebut kejenuhan mulai menghinggapi. Sampai dia beberapa kali mengikuti perlombaan tahfiz, membuat semangatnya kembali meninggi. Selain itu itu kakak senior di pondoknya juga menjadi semangat untuk terus menggapai cita-citanya.

“Saat itu sempat ikut lomba tahfidz juz 30 se-Kabupaten. Syukur juara 2. Dari sana mulai senang dan semangat lagi. Selain mendapat piala juga mendapat uang. Kakak senior di pondok juga sering melibatkan saya dalam jam hataman. Pada saat itu saya masih menghafalkan 10 juz, meski belum tuntas 30 juz saya sering diajak. Alasannya bacaan saya sudah bagus,” ujarnya.

Usia remaja pun sampai pada Iqbal, dia melanjutkan sekolah di Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Kraksaan. Di sini ini titik jenuhnya mulai kembali datang. Penyebabnya, aktivitas sekolah formal yang mulai padat. Sehingga dalam mengatur waktu menghafal kian sulit.

Hingga masuk kelas 2 semester 1, ia membuat moment renungan untuk membulatkan tekadnya kembali dalam mengejar. Renungan tersebut menghasilkan keputusan. Iqbal memutuskan untuk berhenti sekolah dan melanjutkan cita-citanya menjadi penghafal Alquran.

Keputusan tersebut ditentang oleh Siti Halimah, yang tidak lain adalah ibunda. “Saat pamit terhadap orang tua, Umi tidak setuju pada waktu itu. Tapi karena saya ingin seperti Abah, sehingga sekitar 4 bulan saya berhenti sekolah. Untuk melanjutkan hafalan saya. Sebab saat sekolah waktu dirasa tidak cukup, masih harus hafalan masih harus mengerjakan tugas,” ujarnya.

Selama 4 bulan tidak sekolah, ayahnya mengerti tekanan yang didapatkan oleh anaknya. Sehingga tanpa sepengetahuan Iqbal, ayahnya mencoba mencarikan sekolah yang tidak begitu padat kegiatan dan lebih santai.

Walau begitu bukan berarti Iqbal mandek sekolah. Dia tetap melanjutkan pendidikan formalnya di sekolah. “Kemudian saya ditaruh di MA Saqo (syekh Abdul Qodir Al Jaelani) Kraksaan. Di sana tidak begitu padat kegiatannya, sehingga saya dapat menuntaskan hafalan saya seutuhnya. Seminggu sebelum ujian nasional saya sudah sudah hafal30 juz,” ujarnya.

Dari perjalanan dan proses penghafalan Alquran yang dilakukan oleh Iqbal, banyak pengalaman dan prestasi yang ditorehkan olehnya. Mulai dari kejuaraan tahfidzul Quran tingkat kabupaten dan provinsi sudah pernah dirasakan olehnya.

Pria yang rencananya akan melanjutkan studi di salah satu universitas di Brunei Darussalam melalui program tahfidz, pernah menjuarai perlombaan Musabaqah Tahfidzul Quran (MTQ) peringkat kampus Jawa Timur. Lomba itu berlokasi di Universitas Trunojoyo Madura dan beberapa MTQ di tingkat Kabupaten.

“Ada yang juara pertama dan harapan dua,” ujar pria Alumni Universitas Islam Zainul Hasan (UNZAH) Genggong tersebut.

Dengan tercapainya cita-cita menjadi tahfiz, saat ini kegiatannya juga mengikuti koordinator rumah tahfiz di Jawa Timur 2. Di sana dia juga menjadi salah satu atau pendamping tahfiz di beberapa sekolah.

“Seperti di SD Muhammadiyah Kreatif Kraksaan, Sekolah MTS NU Kraksaan. Dan banyak pengajaran privat lainnya yang saya lakukan,” ujarnya. (agus faiz musleh/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2