alexametrics
27 C
Probolinggo
Sunday, 16 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Inilah Rebana Raksasa Milik Warga Wedar yang Hanya untuk Acara Sakral

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Rebana atau masyarakat biasa menyebut terbang biasanya berukuran kecil. Namun, rebana yang ada di Dusun Wedar, Desa Gading, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan ini berukuran besar. Berdiamater 1 meter dan usianya dipercaya sudah ratusan tahun.

—————-

TERBANG berdiameter 1 meter itu disimpan di gudang yang ada di rumah Anwar, warga Dusun Wedar, Desa Gading, Kecamatan Winongan. Sihab Alwi, 58, sesepuh penabuh terbang di Dusun Wedar menemani Jawa Pos Radar Bromo melihat terbang berukuran besar itu. Rumahnya tepat di depan rumah Anwar.

“Saya juga salah seorang penabuh terbang Wedar. Meskipun sudah sepuh, saya selalu ikut ngurusi,” katanya memperkenalkan diri.

Setelah berkenalan, ia kemudian mengajak ke gudang rumah Anwar. “Sebentar saya cari kuncinya. Pak Anwar sedang sakit. Dia dirawat di rumah sakit,” katanya.

Beberapa menit kemudian, ia telah kembali dan membuka gudang itu. Ada tujuh terbang dan satu untuk suara bas di sana. Semuanya digantung di dinding gudang. Kondisinya masih bagus, terawat.

Sihab bercerita, warga Wedar tidak tahu pasti berapa usia terbang berdimater satu meter itu. Namun, warga percaya terbang itu sudah berusia ratusan tahun.

“Usianya kurang tahu pasti berapa. Kakek buyut saya dulu itu tidak ada yang tahu. Menurut cerita turun temurun, terbang ini tiban dan sudah berusia ratusan tahun,” kata Sihab didampingi anaknya.

Berdasar cerita turun temurun juga menurutnya, dulu ada sesepuh desa bernama Mbah Kluntung yang bisa membuat terbang. Ia menjemur kulit binatang untuk dijadikan terbang. Setelah kering, Mbah Kluntung membuat terbang dengan ukuran besar.

Setelah jadi, terbang itu diserahkan kepada warga dusun yang berada di Barat dusunnya. Namun, warga menolak. Karena ditolak, Mbah Kluntung kemudian membuang terbangnya ke Timur. Yakni ke Dusun Wedar.

“Terbang jatuh dan tempat jatuhnya bersinar kala itu. Sehingga, warga gempar,” katanya.

Sayang, warga Wedar juga menolaknya. Lalu, terbang itu kembali dilemparkan ke Barat. “Setelah di Barat ditolak lagi. Dan kembali dilempar ke Timur. Dari situ kemudian terbang itu menetap,” katanya.

Kondisi itu diketahui Mbah Soleh Semendi kala itu. Mbah Semendi lantas bertapa di sungai besar di sekitar Winongan. Sekembalinya dari bertapa, dia membawa terbang yang ukurannya sama. Menurutnya, itu terbang perempuan.

“Jadi yang dibuat Mbah Kluntung itu adalah terbang laki-laki. Sedangkan yang perempuan dibuat oleh Mbah Semendi,” jelasnya.

Sejak saat itu, terbang tersebut digunakan untuk acara-acara penting. Seperti acara selamatan desa, orang-orang yang bernadar dan lainnya. Bahkan, hingga sekarang.

“Kalau orang nadar mengundang terbang wedar ini dan lupa, pasti rumahnya akan didatangi ular. Ular itu katanya sebagai pengingatnya,” terang Sihab.

Terbang itu sendiri tidak boleh ditabuh sembarangan. Ada ritual khusus sebelum memainkannya. Jika itu tidak dilakukan, dipercaya akan menyebabkan pemainnya sakit setelahnya. Juga akan berdampak pada suaranya.

Riyawan Budi Santoso, 29, ketua RT setempat mengatakan, terbang itu memang dijaga dengan baik oleh warga. Meskipun usianya sudah tua, tetapi kayunya tidak dimakan rayap.

“Masih terjaga. Tidak rusak sama sekali. Hanya memang kulitnya yang sudah beberapa kali diganti karena sobek,” tuturnya.

Ia menjelaskan, setiap acara selamatan desa terbang itu selalu dimainkan. Bukan hanya di desanya, tetap tetangga desa juga demikian. (sid/hn/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

Rebana atau masyarakat biasa menyebut terbang biasanya berukuran kecil. Namun, rebana yang ada di Dusun Wedar, Desa Gading, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan ini berukuran besar. Berdiamater 1 meter dan usianya dipercaya sudah ratusan tahun.

—————-

TERBANG berdiameter 1 meter itu disimpan di gudang yang ada di rumah Anwar, warga Dusun Wedar, Desa Gading, Kecamatan Winongan. Sihab Alwi, 58, sesepuh penabuh terbang di Dusun Wedar menemani Jawa Pos Radar Bromo melihat terbang berukuran besar itu. Rumahnya tepat di depan rumah Anwar.

Mobile_AP_Half Page

“Saya juga salah seorang penabuh terbang Wedar. Meskipun sudah sepuh, saya selalu ikut ngurusi,” katanya memperkenalkan diri.

Setelah berkenalan, ia kemudian mengajak ke gudang rumah Anwar. “Sebentar saya cari kuncinya. Pak Anwar sedang sakit. Dia dirawat di rumah sakit,” katanya.

Beberapa menit kemudian, ia telah kembali dan membuka gudang itu. Ada tujuh terbang dan satu untuk suara bas di sana. Semuanya digantung di dinding gudang. Kondisinya masih bagus, terawat.

Sihab bercerita, warga Wedar tidak tahu pasti berapa usia terbang berdimater satu meter itu. Namun, warga percaya terbang itu sudah berusia ratusan tahun.

“Usianya kurang tahu pasti berapa. Kakek buyut saya dulu itu tidak ada yang tahu. Menurut cerita turun temurun, terbang ini tiban dan sudah berusia ratusan tahun,” kata Sihab didampingi anaknya.

Berdasar cerita turun temurun juga menurutnya, dulu ada sesepuh desa bernama Mbah Kluntung yang bisa membuat terbang. Ia menjemur kulit binatang untuk dijadikan terbang. Setelah kering, Mbah Kluntung membuat terbang dengan ukuran besar.

Setelah jadi, terbang itu diserahkan kepada warga dusun yang berada di Barat dusunnya. Namun, warga menolak. Karena ditolak, Mbah Kluntung kemudian membuang terbangnya ke Timur. Yakni ke Dusun Wedar.

“Terbang jatuh dan tempat jatuhnya bersinar kala itu. Sehingga, warga gempar,” katanya.

Sayang, warga Wedar juga menolaknya. Lalu, terbang itu kembali dilemparkan ke Barat. “Setelah di Barat ditolak lagi. Dan kembali dilempar ke Timur. Dari situ kemudian terbang itu menetap,” katanya.

Kondisi itu diketahui Mbah Soleh Semendi kala itu. Mbah Semendi lantas bertapa di sungai besar di sekitar Winongan. Sekembalinya dari bertapa, dia membawa terbang yang ukurannya sama. Menurutnya, itu terbang perempuan.

“Jadi yang dibuat Mbah Kluntung itu adalah terbang laki-laki. Sedangkan yang perempuan dibuat oleh Mbah Semendi,” jelasnya.

Sejak saat itu, terbang tersebut digunakan untuk acara-acara penting. Seperti acara selamatan desa, orang-orang yang bernadar dan lainnya. Bahkan, hingga sekarang.

“Kalau orang nadar mengundang terbang wedar ini dan lupa, pasti rumahnya akan didatangi ular. Ular itu katanya sebagai pengingatnya,” terang Sihab.

Terbang itu sendiri tidak boleh ditabuh sembarangan. Ada ritual khusus sebelum memainkannya. Jika itu tidak dilakukan, dipercaya akan menyebabkan pemainnya sakit setelahnya. Juga akan berdampak pada suaranya.

Riyawan Budi Santoso, 29, ketua RT setempat mengatakan, terbang itu memang dijaga dengan baik oleh warga. Meskipun usianya sudah tua, tetapi kayunya tidak dimakan rayap.

“Masih terjaga. Tidak rusak sama sekali. Hanya memang kulitnya yang sudah beberapa kali diganti karena sobek,” tuturnya.

Ia menjelaskan, setiap acara selamatan desa terbang itu selalu dimainkan. Bukan hanya di desanya, tetap tetangga desa juga demikian. (sid/hn/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2