alexametrics
25.5 C
Probolinggo
Friday, 12 August 2022

dr Baktiar, Koordinator Rumah Karantina, Sudah Rawat Ribuan Pasien

Untungnya, dia lebih dulu sempat merasakan terjun sekitar dua bulan di SKB Pandaan. Sehingga rasa waswas sedikit berkurang.

Meski begitu, dia harus tetap menggunakan pakaian alat pelindung diri (APD). Terutama saat tatap muka dan berjumpa langsung dengan pasien. Prokes ketat, terutama masker, bahkan hingga harus rangkap dua sampai tiga. Termasuk rajin cuci tangan, jaga imun, minum vitamin serta lainnya.

“Deg-degan dan waswas sih pasti ada dong. Karena sudah diberi wawasan, dan pernah terjun di SKB Pandaan lebih dulu, jadi biasa saja. Alhamdulillah belum pernah tertular,” kata anak pertama dari tiga bersaudara putra pasutri M. Khotib dan Kusniyah ini.

Rasa khawatir menjadi jauh berkurang juga berkat dukungan dari keluarga. Baik istri, anak dan juga kedua orang tuanya. Keluarga sudah menganggap, itu adalah bagian dari tugas utama seorang dokter. Selain itu misi sosial dan kemanusiaan.

“Dukungan penuh dari keluarga di rumah, juga orang tua merupakan imun ekstra bagi saya. Jadi tugas di lapangan menjadi maksimal,” imbuh penghobi traveling ini.

Meskipun menjadi koordinator, piket di rumah karantina BLK Rejoso dilakukannya sepekan tiga kali. Bergantian dengan dua dokter lainnya. Di luar itu, tiap harinya Adil juga praktik dokter umum di Puskesmas Kraton. Malam harinya di luar jam kerja, dia masih bisa membuka praktik di rumahnya berada di Tanggulangin, Sidoarjo.

“Waktu dengan keluarga masih ada, meskipun sibuk urusi pasien Covid dan pekerjaan, saat di rumah selalu saya sempatkan santai bareng keluarga. Sesekali keluar jalan-jalan, biar tidak bosan,” katanya tersenyum.

Untungnya, dia lebih dulu sempat merasakan terjun sekitar dua bulan di SKB Pandaan. Sehingga rasa waswas sedikit berkurang.

Meski begitu, dia harus tetap menggunakan pakaian alat pelindung diri (APD). Terutama saat tatap muka dan berjumpa langsung dengan pasien. Prokes ketat, terutama masker, bahkan hingga harus rangkap dua sampai tiga. Termasuk rajin cuci tangan, jaga imun, minum vitamin serta lainnya.

“Deg-degan dan waswas sih pasti ada dong. Karena sudah diberi wawasan, dan pernah terjun di SKB Pandaan lebih dulu, jadi biasa saja. Alhamdulillah belum pernah tertular,” kata anak pertama dari tiga bersaudara putra pasutri M. Khotib dan Kusniyah ini.

Rasa khawatir menjadi jauh berkurang juga berkat dukungan dari keluarga. Baik istri, anak dan juga kedua orang tuanya. Keluarga sudah menganggap, itu adalah bagian dari tugas utama seorang dokter. Selain itu misi sosial dan kemanusiaan.

“Dukungan penuh dari keluarga di rumah, juga orang tua merupakan imun ekstra bagi saya. Jadi tugas di lapangan menjadi maksimal,” imbuh penghobi traveling ini.

Meskipun menjadi koordinator, piket di rumah karantina BLK Rejoso dilakukannya sepekan tiga kali. Bergantian dengan dua dokter lainnya. Di luar itu, tiap harinya Adil juga praktik dokter umum di Puskesmas Kraton. Malam harinya di luar jam kerja, dia masih bisa membuka praktik di rumahnya berada di Tanggulangin, Sidoarjo.

“Waktu dengan keluarga masih ada, meskipun sibuk urusi pasien Covid dan pekerjaan, saat di rumah selalu saya sempatkan santai bareng keluarga. Sesekali keluar jalan-jalan, biar tidak bosan,” katanya tersenyum.

MOST READ

BERITA TERBARU

/