alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Slamet Mardianto, Kembangkan Dayung dari Ranu Grati sampai Nasional

Menggeliatnya olahraga dayung di Danau Ranu Grati sampai tingkat Nasional, tidak lepas dari peran Slamet Mardianto. Lelaki yang awalnya hanya tenaga umum di Danau Ranu Grati itu, kini berkontribusi pada prestasi lomba dayung yang pesertanya nelayan Kabupaten Pasuruan.

——————-

KEGIATAN pariwisata di Danau Ranu Grati memang tidak banyak menggeliat saat pandemi Covid-19 . Sebab, di awal pandemi tempat ini tutup seperti tempat wisata lain di Kabupaten Pasuruan.

Memang, Danau Ranu Grati sempat dibuka. Dan aktivitas masyarakat yang berlibur atau sekadar memancing pun mulai terlihat, beberapa waktu lalu.

Namun, setelah ditutup lagi oleh Pemkab Pasuruan pada akhir September, aktivitas perahu sampai latihan dayung juga vakum. Apalagi, juga tidak ada kejuaraan sejak Maret 2020 atau selama pandemi. Praktis, memang tidak ada prestasi yang diraih selama tahun ini.

Prestasi diraih oleh tim dayung di Danau Ranu Grati di tahun-tahun sebelumnya. Sebut saja juara II dalam Jember Dragon Boat tingkat Nasional di Pantai Payangan pada 2019. Membuat tim asuhan Slamet Mardianto ini tidak bisa dipandang sebelah mata.

Slamet Mardianto, 38, warga Gratitunon, Kecamatan Grati ini memang bukan orang baru di dunia perahu dayung. Sebelumnya, dia seorang atlet dayung di tim Baru Klinting yang dimulai tahun 2000-an.

“Dulu juga sempat ada tim dayung di Danau Ranu Grati. Namun, sempat vakum dan coba saya geliatkan lagi,” terangnya.

Slamet sendiri bekerja di Danau Ranu Grati mulai tahun 1998. Awalnya dirinya sebagai tenaga umum yang membantu bersih-bersih Danau Ranu Grati. Dia bertugas membantu merawat perlengkapan dan sebagainya.

PENGALAMAN: Slamet Mardianto bersama tim dayung lamanya yaitu Baru Klinting. (Foto: Istimewa)

 

Baru tahun 2004, diangkat menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT). Dan di tahun 2009 menjadi PNS dan menjadi staf di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pasuruan.

Selain memiliki pengalaman sebagai atlet dayung, Slamet pernah menjadi motorist perahu spead boat di Danau Ranu Grati. Sehingga, pengalamannya dengan dayung dan perahu sudah fasih. Sedangkan di Danau Ranu Grati sendiri, saat ini dirinya adalah koordinator.

Tim Dayung lamanya yaitu Baru Klinting juga sudah sering memenangkan kejuaraan nasional. Namun, memang sudah lama vakum sejak terakhir ikut lomba pada tahun 2012.

“Kemudian tahun 2016, saya liat ada geliat lagi setelah sempat ada lomba dayung di Rejoso,” terangnya.

Geliat tim dayung di Danau Ranu Grati juga tidak terduga. Berawal dari membuat tim dayung untuk lomba dayung tingkat lokal saat Agustusan 2016. Rupanya Slamet melihat potensi menang di sana. Bahkan tim yang diasuhnya dari Desa Tambaklekok, Kecamatan Lekok ini bisa menjadi tim dayung profesional.

“Setelah saat itu menang, saya melihat tim baru ini yaitu Lamsari yang semuanya dari nelayan punya potensi maju. Sehingga saya tawarin jadi tim dayung profesional. Ternyata mereka mau dan semangat,” terangnya.

Sejak itu, Slamet serius melatih tim dayung asuhannya. Bahkan, tim yang semuanya dari nelayan ini mau meluangkan waktu untuk latihan dayung. Biasanya, mereka latihan setiap habis Jumatan, jam 14.00 sampai 17.00 di Danau Ranu Grati.

Sebelumnya, tim dayung Lamsari ini tercatat sudah tiga kali juara lokal tingkat Kabupaten Pasuruan. Tiap ada lomba dayung, baik di Lekok atau Rejoso rutin juara pertama. Yaitu mulai tahun 2016 – 2018.

Akhirnya tahun 2017, mulai latihan rutin di Danau Ranu Grati seminggu sekali sebagai tim dayung profesional. Nama Lamsari diambil dari nama anggota tertua, karena disegani.

Untuk fasilitas latihan, Slamet sudah meminta izin ke Disparbud menggunakan perahu dayung yang ada di Danau Ranu Grati. “Tapi ya belajarnya otodidak. Saya melatih tidak ada biaya. Mereka juga biaya sendiri latihan ke danau setiap Jumat,” terangnya.

Awalnya, tim yang diasuhnya beranggotakan 22 orang. Lalu, saat ini mencapai 60 orang mulai tingkat junior SD sampai dewasa. Sedangkan tim Lamsari yang anggotanya nelayan Lekok ini berjumlah 15 orang dengan usia bervariasi dari 25-40 tahun.

Selama latihan semuanya sukarela. Pelatih tak dibayar dan nelayan juga mau berlatih keras karena suka. Untuk maju ke jalur yang lebih serius, mereka harus mencari donatur untuk ikut lomba ke luar daerah.

“Salah satunya saat ke Jember lalu, kami mencari donatur. Alhamdulillah ada yang mau menyumbang. Seperti Kades Tambaklekok dan tokoh-tokoh lainnya,” terangnya.

Dengan dana dan fasilitas masih seadanya, Slamet mengajak tim asuhannya ke lomba tingkat Nasional. “Dan lawannya juga berat, banyak yang atlet sampai TNI. Tapi ternyata kami mampu bersaing dan bisa menjadi juara kedua tingkat Nasional,” terangnya.

Ke depan akan lebih banyak lomba yang bakal diikuti. Namun, memang menunggu pandemi Covid-19 usai. Agar kegiatan wisata, termasuk lomba dayung bisa digelar kembali. (eka/fun)

Menggeliatnya olahraga dayung di Danau Ranu Grati sampai tingkat Nasional, tidak lepas dari peran Slamet Mardianto. Lelaki yang awalnya hanya tenaga umum di Danau Ranu Grati itu, kini berkontribusi pada prestasi lomba dayung yang pesertanya nelayan Kabupaten Pasuruan.

——————-

KEGIATAN pariwisata di Danau Ranu Grati memang tidak banyak menggeliat saat pandemi Covid-19 . Sebab, di awal pandemi tempat ini tutup seperti tempat wisata lain di Kabupaten Pasuruan.

Memang, Danau Ranu Grati sempat dibuka. Dan aktivitas masyarakat yang berlibur atau sekadar memancing pun mulai terlihat, beberapa waktu lalu.

Namun, setelah ditutup lagi oleh Pemkab Pasuruan pada akhir September, aktivitas perahu sampai latihan dayung juga vakum. Apalagi, juga tidak ada kejuaraan sejak Maret 2020 atau selama pandemi. Praktis, memang tidak ada prestasi yang diraih selama tahun ini.

Prestasi diraih oleh tim dayung di Danau Ranu Grati di tahun-tahun sebelumnya. Sebut saja juara II dalam Jember Dragon Boat tingkat Nasional di Pantai Payangan pada 2019. Membuat tim asuhan Slamet Mardianto ini tidak bisa dipandang sebelah mata.

Slamet Mardianto, 38, warga Gratitunon, Kecamatan Grati ini memang bukan orang baru di dunia perahu dayung. Sebelumnya, dia seorang atlet dayung di tim Baru Klinting yang dimulai tahun 2000-an.

“Dulu juga sempat ada tim dayung di Danau Ranu Grati. Namun, sempat vakum dan coba saya geliatkan lagi,” terangnya.

Slamet sendiri bekerja di Danau Ranu Grati mulai tahun 1998. Awalnya dirinya sebagai tenaga umum yang membantu bersih-bersih Danau Ranu Grati. Dia bertugas membantu merawat perlengkapan dan sebagainya.

PENGALAMAN: Slamet Mardianto bersama tim dayung lamanya yaitu Baru Klinting. (Foto: Istimewa)

 

Baru tahun 2004, diangkat menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT). Dan di tahun 2009 menjadi PNS dan menjadi staf di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pasuruan.

Selain memiliki pengalaman sebagai atlet dayung, Slamet pernah menjadi motorist perahu spead boat di Danau Ranu Grati. Sehingga, pengalamannya dengan dayung dan perahu sudah fasih. Sedangkan di Danau Ranu Grati sendiri, saat ini dirinya adalah koordinator.

Tim Dayung lamanya yaitu Baru Klinting juga sudah sering memenangkan kejuaraan nasional. Namun, memang sudah lama vakum sejak terakhir ikut lomba pada tahun 2012.

“Kemudian tahun 2016, saya liat ada geliat lagi setelah sempat ada lomba dayung di Rejoso,” terangnya.

Geliat tim dayung di Danau Ranu Grati juga tidak terduga. Berawal dari membuat tim dayung untuk lomba dayung tingkat lokal saat Agustusan 2016. Rupanya Slamet melihat potensi menang di sana. Bahkan tim yang diasuhnya dari Desa Tambaklekok, Kecamatan Lekok ini bisa menjadi tim dayung profesional.

“Setelah saat itu menang, saya melihat tim baru ini yaitu Lamsari yang semuanya dari nelayan punya potensi maju. Sehingga saya tawarin jadi tim dayung profesional. Ternyata mereka mau dan semangat,” terangnya.

Sejak itu, Slamet serius melatih tim dayung asuhannya. Bahkan, tim yang semuanya dari nelayan ini mau meluangkan waktu untuk latihan dayung. Biasanya, mereka latihan setiap habis Jumatan, jam 14.00 sampai 17.00 di Danau Ranu Grati.

Sebelumnya, tim dayung Lamsari ini tercatat sudah tiga kali juara lokal tingkat Kabupaten Pasuruan. Tiap ada lomba dayung, baik di Lekok atau Rejoso rutin juara pertama. Yaitu mulai tahun 2016 – 2018.

Akhirnya tahun 2017, mulai latihan rutin di Danau Ranu Grati seminggu sekali sebagai tim dayung profesional. Nama Lamsari diambil dari nama anggota tertua, karena disegani.

Untuk fasilitas latihan, Slamet sudah meminta izin ke Disparbud menggunakan perahu dayung yang ada di Danau Ranu Grati. “Tapi ya belajarnya otodidak. Saya melatih tidak ada biaya. Mereka juga biaya sendiri latihan ke danau setiap Jumat,” terangnya.

Awalnya, tim yang diasuhnya beranggotakan 22 orang. Lalu, saat ini mencapai 60 orang mulai tingkat junior SD sampai dewasa. Sedangkan tim Lamsari yang anggotanya nelayan Lekok ini berjumlah 15 orang dengan usia bervariasi dari 25-40 tahun.

Selama latihan semuanya sukarela. Pelatih tak dibayar dan nelayan juga mau berlatih keras karena suka. Untuk maju ke jalur yang lebih serius, mereka harus mencari donatur untuk ikut lomba ke luar daerah.

“Salah satunya saat ke Jember lalu, kami mencari donatur. Alhamdulillah ada yang mau menyumbang. Seperti Kades Tambaklekok dan tokoh-tokoh lainnya,” terangnya.

Dengan dana dan fasilitas masih seadanya, Slamet mengajak tim asuhannya ke lomba tingkat Nasional. “Dan lawannya juga berat, banyak yang atlet sampai TNI. Tapi ternyata kami mampu bersaing dan bisa menjadi juara kedua tingkat Nasional,” terangnya.

Ke depan akan lebih banyak lomba yang bakal diikuti. Namun, memang menunggu pandemi Covid-19 usai. Agar kegiatan wisata, termasuk lomba dayung bisa digelar kembali. (eka/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/