alexametrics
29 C
Probolinggo
Monday, 23 May 2022

Sumber Mata Air Tamansari Dipercaya Bekas Pemandian Putri Raja

KECAMATAN Winongan melimpah akan sumber mata air. Ada Umbulan yang airnya kini dimanfaatkan warga di lima daerah. Ada juga Banyubiru, yang sampai kini menjadi tempat wisata. Masih berada satu desa dengan Banyubiru, ada pula sumber air Tamansari, yang konon dahulu dijadikan tempat pemandian putri raja dari Majapahit.

Berbicara tentang Banyubiru, sejarahnya memang erat berkaitan dengan Majapahit. Ini dibuktikan adanya beberapa situs yang sampai kini masih ada di kawasan sekitar.

Saat ke lokasi, tempat ini sedang ditutup karena ada pembangunan.

Dari jauh, terlihat seorang pria paro baya berjalan dengan terpincang. Ia mengenakan topi, baju batik dan celana panjang. Ya, ia adalah Subandi, juru kunci Banyubiru yang bertugas sejak 1992.

Tiba-tiba dia mengajak,”Ayo bekas pemandian putri raja Majapahit. Kalau Banyubiru kan dulunya digunakan sebagai pemandian raja. Sekarang, melihat pemandian putri raja. Lokasinya berbeda,” katanya melanjutkan.

Dari sisi historis, Banyubiru adalah tempat singgah raja dari Majapahit, yang hendak pergi ke Tengger. Pergi setelah perang terjadi. Untuk ke Tengger, mereka melalui jalur mulai dari Malang hingga ke Pasuruan.

Saat di Pasuruan itulah, berhenti tepat di Banyubiru. Saat itu, ditemukan sumber air yang tidak terawat. Ada dua sumber air. Pertama di Banyubiru yang sekarang digunakan untuk wisata. Kedua, mata air Tamansari. Pemandian inilah yang digunakan untuk putri raja.

“Jadi saat beristirahat itu, tidak satu lokasi mandinya. Ada sendiri-sendiri. Putri raja di selatan dan yang raja ya di Banyubiru,” katanya.

Cerita itu tidak ia karang. Melainkan ada bukunya yang ditemukannya di sekitar Banyubiru. “Saya tidak berani bercerita kalau tidak dari buku,” ungkapnya.

Sepeninggal rombongan kerajaan hingga turun-temurun, Tamansari itu digunakan untik mengairi sawah masyarakat. Puluhan tahun lamanya itu terjadi. Masyarakat, makmur dengan adanya sumber air itu.

Tetapi, setelah ditemukannya alat bor, banyak masyarakat yang melakukan pengeboran. Hingga, airnya susut dan sekarang tidak bisa digunakan untuk mengairi sawah.”Ulah manusianya sendiri. Kalau dulu dirawat pasti akan tetap besar sumbernya,” katanya.

Pemandian Tamansari lokasinya berjarak 500 meter dari Banyubiru. Untuk mencapai lokasi, tidak bisa ditempuh menggunakan kendaraan bermotor. Baik roda dua maupun roda empat. Hanya bisa dengan berjalan kaki.

Inilah yang dirasakan Jawa Pos Radar Bromo saat kesana. Untuk menuju ke mata air, harus melewati sebelah timur pemandian Banyubiru. Melewati lapangan tenis, kemudian menyusuri sungai dan persawahan.

“Hanya lewat sini saja. Kan di tengah sawah, jadi tidak bisa pakai motor,” katanya sembari menuntun mencarikan jalan yang enak untuk dilalui.

Sepanjang perjalanan, jika ingin berkunjung bekas pemandian putri raja itu harus melewati dua sungai. Kemudian menyusuri lahan tebu dan singkong. Jalanannya, naik-turun dan melewati galengan sawah. Jika tidak hati-hati, maka akan terkena rumput berduri yang tumbuh liar.

Hingga sekitar 15 – 20 menit kemudian, tibalah di lokasi. Mata air Tamansari terlihat masih asri. Namun pemandian tersebut ternyata sudah pernah tersentuh pembangunan. Seperti tembok penahan tanah (TPT) yang terbuat dari susunan batu yang direkatkan dengan cor. Itu hanya sebagian untuk mengalirkan air ke sawah masyarakat.

Lokasinya sendiri berada di tengah rimbunan bambu. “Sudah pernah ada pembangunan. Ini kan dulu digunakan untuk pengairan sawah,” katanya.

Sekarang, sumber air itu masih ada. Tetapi, tidak sebesar dulu. Airnya berwarna hijau. Banyak rerumputan yang tumbuh di sekelilingnya. Tampak pula, tempat warga sekitar mencuci dan mandi. Juga tambak bekas limbah rumah tangga seperti bungkus detergen dan sampo.

Debit airnya, sudah tidak mengalir lagi. Hanya bertahan di kubangan itu. Tetapi, tidak pernah surut. (sid/fun)

KECAMATAN Winongan melimpah akan sumber mata air. Ada Umbulan yang airnya kini dimanfaatkan warga di lima daerah. Ada juga Banyubiru, yang sampai kini menjadi tempat wisata. Masih berada satu desa dengan Banyubiru, ada pula sumber air Tamansari, yang konon dahulu dijadikan tempat pemandian putri raja dari Majapahit.

Berbicara tentang Banyubiru, sejarahnya memang erat berkaitan dengan Majapahit. Ini dibuktikan adanya beberapa situs yang sampai kini masih ada di kawasan sekitar.

Saat ke lokasi, tempat ini sedang ditutup karena ada pembangunan.

Dari jauh, terlihat seorang pria paro baya berjalan dengan terpincang. Ia mengenakan topi, baju batik dan celana panjang. Ya, ia adalah Subandi, juru kunci Banyubiru yang bertugas sejak 1992.

Tiba-tiba dia mengajak,”Ayo bekas pemandian putri raja Majapahit. Kalau Banyubiru kan dulunya digunakan sebagai pemandian raja. Sekarang, melihat pemandian putri raja. Lokasinya berbeda,” katanya melanjutkan.

Dari sisi historis, Banyubiru adalah tempat singgah raja dari Majapahit, yang hendak pergi ke Tengger. Pergi setelah perang terjadi. Untuk ke Tengger, mereka melalui jalur mulai dari Malang hingga ke Pasuruan.

Saat di Pasuruan itulah, berhenti tepat di Banyubiru. Saat itu, ditemukan sumber air yang tidak terawat. Ada dua sumber air. Pertama di Banyubiru yang sekarang digunakan untuk wisata. Kedua, mata air Tamansari. Pemandian inilah yang digunakan untuk putri raja.

“Jadi saat beristirahat itu, tidak satu lokasi mandinya. Ada sendiri-sendiri. Putri raja di selatan dan yang raja ya di Banyubiru,” katanya.

Cerita itu tidak ia karang. Melainkan ada bukunya yang ditemukannya di sekitar Banyubiru. “Saya tidak berani bercerita kalau tidak dari buku,” ungkapnya.

Sepeninggal rombongan kerajaan hingga turun-temurun, Tamansari itu digunakan untik mengairi sawah masyarakat. Puluhan tahun lamanya itu terjadi. Masyarakat, makmur dengan adanya sumber air itu.

Tetapi, setelah ditemukannya alat bor, banyak masyarakat yang melakukan pengeboran. Hingga, airnya susut dan sekarang tidak bisa digunakan untuk mengairi sawah.”Ulah manusianya sendiri. Kalau dulu dirawat pasti akan tetap besar sumbernya,” katanya.

Pemandian Tamansari lokasinya berjarak 500 meter dari Banyubiru. Untuk mencapai lokasi, tidak bisa ditempuh menggunakan kendaraan bermotor. Baik roda dua maupun roda empat. Hanya bisa dengan berjalan kaki.

Inilah yang dirasakan Jawa Pos Radar Bromo saat kesana. Untuk menuju ke mata air, harus melewati sebelah timur pemandian Banyubiru. Melewati lapangan tenis, kemudian menyusuri sungai dan persawahan.

“Hanya lewat sini saja. Kan di tengah sawah, jadi tidak bisa pakai motor,” katanya sembari menuntun mencarikan jalan yang enak untuk dilalui.

Sepanjang perjalanan, jika ingin berkunjung bekas pemandian putri raja itu harus melewati dua sungai. Kemudian menyusuri lahan tebu dan singkong. Jalanannya, naik-turun dan melewati galengan sawah. Jika tidak hati-hati, maka akan terkena rumput berduri yang tumbuh liar.

Hingga sekitar 15 – 20 menit kemudian, tibalah di lokasi. Mata air Tamansari terlihat masih asri. Namun pemandian tersebut ternyata sudah pernah tersentuh pembangunan. Seperti tembok penahan tanah (TPT) yang terbuat dari susunan batu yang direkatkan dengan cor. Itu hanya sebagian untuk mengalirkan air ke sawah masyarakat.

Lokasinya sendiri berada di tengah rimbunan bambu. “Sudah pernah ada pembangunan. Ini kan dulu digunakan untuk pengairan sawah,” katanya.

Sekarang, sumber air itu masih ada. Tetapi, tidak sebesar dulu. Airnya berwarna hijau. Banyak rerumputan yang tumbuh di sekelilingnya. Tampak pula, tempat warga sekitar mencuci dan mandi. Juga tambak bekas limbah rumah tangga seperti bungkus detergen dan sampo.

Debit airnya, sudah tidak mengalir lagi. Hanya bertahan di kubangan itu. Tetapi, tidak pernah surut. (sid/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/