alexametrics
27 C
Probolinggo
Sunday, 16 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Andriana Susanti Menghafal Quran saat Ibunya Sakit, Jadi Motivasi

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Sibuk dengan kuliah sembari mondok di Ponpes. Itulah yang menjadi tantangan Andriana Susanti untuk menghafal Alquran. Dia pernah berhenti menghafal lantaran mendapat cobaan saat ibunya sakit. Namun semuanya tidak menyurutkan niat dan semangatnya.

————-

ANAK ragil dari tiga bersaudara, putri pasangan suami istri (pasutri) Hari Susanto dan Almarhumah Tasmini ini, mulai menghafal Alquran sejak 2016 lalu. Kala itu ia masih menjadi mahasiswa semester akhir jurusan pendidikan bahasa arab di Universitas Yudharta Pasuruan.

Selain kuliah, gadis asal Desa Kayukebek, Kecamatan Tutur u juga mondok di Ponpes Ngalah, Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari. Kulian dan mondok inilah yang membuat jadwalnya padat. Berkat kerja keras dan ketekunannya, lima tahun berjalan akhirnya tuntas menghafal hingga 30 juz. Tepat pada Januari Maret 2021, dia diwisuda.

“Untuk menghafal Alquran 30 juz, saya tempuh dalam lima tahun. Memulainya dari Juz Amma. Dengan metode tikror atau membaca berulang–ulang dan tasmi’ atau mendengarkan hafalan,” beber Indri, sapaan akrabnya.

Indri mulai tertarik untuk menjadi seorang hafiz, awalnya terinspirasi para seniornya di pondok. Para kakak tingkatnya, tampak semangat saat menghafalkan Alquran, saat di masjid maupun di kamar asrama.

BERSAMA KIAI: Andriana Susanti, pascawisuda hafalan Alquran (tengah) bersama pengasuh Ponpes Ngalah Kiai Sholeh Bahruddin beserta istri. (Foto: Istimewa)

Dari situlah selama sekitar tiga bulan terakhir, pada saat itu dirinya terus berfikir. Akhirnya mantab dan memutuskan mulai menghafalkan Alquran, untuk menjadi seorang hafizah.

“Setelah mantab, saya bersama orang tua menghadap Ning Hj. Luluk Nadhiroh atau putri dari Kiai Sholeh Bahruddin, pengasuh Ponpes Ngalah. Lalu dapat restu. Setelah itu, Bismillah memulainya secara bertahap dan Alhamdulillah berhasil,” katanya.

Saat menghafal, lebih dulu ia baca berulang hingga 10 kali bahkan lebih. Semuanya dilakukan saat waktu luang di kamar asrama pondok. Selain itu, juga mendengarkan lantunan ayat–ayat Alquran hingga berulang-berulang yang diputar di komputernya.

Setelah hafal, dia setor bacaan ke pengasuhnya, per halaman. Sehari bisa sekali, atau lebih. Tergantung siap dan tidaknya. Biasanya saat pagi dan ba’da magrib.

“Dari 30 juz, diatas juz 15 cukup sulit dalam menghafalkan. Terutama juz 28 dan 29, banyak ayat-ayat yang sama. Butuh sabar, dan paling penting telaten,” ungkapnya.

Perjuangannya menghafal Alquran sempat berhenti selama sekitar delapan bulan, pada 2017 lalu. Ketika itu ibunya sakit, hingga harus rawat inap di rumah sakit. Sang ibu akhirnya berpulang.

“Setelah sempat berhenti lumayan lama, saya putuskan lanjut lagi. Almarhumah ibu menjadi motivasi untuk menuntaskan hafalan Alquran. Karena saat mau memulai, menghadap Ning hingga mendapat restu juga didampingi ibu,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca mengingatnya.

Kini, setelah menjadi hafizah yang hafal 30 juz, dirinya sekarang tetap terus fokus untuk menjaga kemampuan hafalannya. Selain itu, juga aktif menjadi pengajar di madrasah diniyah yang ada di Ponpes Ngalah.

“Hafalan harus tetap dijaga, juga diamalkan. Sekaligus serta memperbaiki kualitas bacaannya pula. Ini tak mudah, tapi harus dijalani,” bebernya. (rizal fahmi syatori/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

Sibuk dengan kuliah sembari mondok di Ponpes. Itulah yang menjadi tantangan Andriana Susanti untuk menghafal Alquran. Dia pernah berhenti menghafal lantaran mendapat cobaan saat ibunya sakit. Namun semuanya tidak menyurutkan niat dan semangatnya.

————-

ANAK ragil dari tiga bersaudara, putri pasangan suami istri (pasutri) Hari Susanto dan Almarhumah Tasmini ini, mulai menghafal Alquran sejak 2016 lalu. Kala itu ia masih menjadi mahasiswa semester akhir jurusan pendidikan bahasa arab di Universitas Yudharta Pasuruan.

Mobile_AP_Half Page

Selain kuliah, gadis asal Desa Kayukebek, Kecamatan Tutur u juga mondok di Ponpes Ngalah, Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari. Kulian dan mondok inilah yang membuat jadwalnya padat. Berkat kerja keras dan ketekunannya, lima tahun berjalan akhirnya tuntas menghafal hingga 30 juz. Tepat pada Januari Maret 2021, dia diwisuda.

“Untuk menghafal Alquran 30 juz, saya tempuh dalam lima tahun. Memulainya dari Juz Amma. Dengan metode tikror atau membaca berulang–ulang dan tasmi’ atau mendengarkan hafalan,” beber Indri, sapaan akrabnya.

Indri mulai tertarik untuk menjadi seorang hafiz, awalnya terinspirasi para seniornya di pondok. Para kakak tingkatnya, tampak semangat saat menghafalkan Alquran, saat di masjid maupun di kamar asrama.

BERSAMA KIAI: Andriana Susanti, pascawisuda hafalan Alquran (tengah) bersama pengasuh Ponpes Ngalah Kiai Sholeh Bahruddin beserta istri. (Foto: Istimewa)

Dari situlah selama sekitar tiga bulan terakhir, pada saat itu dirinya terus berfikir. Akhirnya mantab dan memutuskan mulai menghafalkan Alquran, untuk menjadi seorang hafizah.

“Setelah mantab, saya bersama orang tua menghadap Ning Hj. Luluk Nadhiroh atau putri dari Kiai Sholeh Bahruddin, pengasuh Ponpes Ngalah. Lalu dapat restu. Setelah itu, Bismillah memulainya secara bertahap dan Alhamdulillah berhasil,” katanya.

Saat menghafal, lebih dulu ia baca berulang hingga 10 kali bahkan lebih. Semuanya dilakukan saat waktu luang di kamar asrama pondok. Selain itu, juga mendengarkan lantunan ayat–ayat Alquran hingga berulang-berulang yang diputar di komputernya.

Setelah hafal, dia setor bacaan ke pengasuhnya, per halaman. Sehari bisa sekali, atau lebih. Tergantung siap dan tidaknya. Biasanya saat pagi dan ba’da magrib.

“Dari 30 juz, diatas juz 15 cukup sulit dalam menghafalkan. Terutama juz 28 dan 29, banyak ayat-ayat yang sama. Butuh sabar, dan paling penting telaten,” ungkapnya.

Perjuangannya menghafal Alquran sempat berhenti selama sekitar delapan bulan, pada 2017 lalu. Ketika itu ibunya sakit, hingga harus rawat inap di rumah sakit. Sang ibu akhirnya berpulang.

“Setelah sempat berhenti lumayan lama, saya putuskan lanjut lagi. Almarhumah ibu menjadi motivasi untuk menuntaskan hafalan Alquran. Karena saat mau memulai, menghadap Ning hingga mendapat restu juga didampingi ibu,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca mengingatnya.

Kini, setelah menjadi hafizah yang hafal 30 juz, dirinya sekarang tetap terus fokus untuk menjaga kemampuan hafalannya. Selain itu, juga aktif menjadi pengajar di madrasah diniyah yang ada di Ponpes Ngalah.

“Hafalan harus tetap dijaga, juga diamalkan. Sekaligus serta memperbaiki kualitas bacaannya pula. Ini tak mudah, tapi harus dijalani,” bebernya. (rizal fahmi syatori/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2