alexametrics
30.3 C
Probolinggo
Tuesday, 5 July 2022

Meski Tangan Nyut-nyutan Kena Sengat, Evakuasi Sarang Tawon Jalan Terus

Ia lantas berbagi pengalaman beberapa kesulitan yang pernah dialaminya. “Ada yang tingginya 12 meter. Bahkan, tangga yang kami bawa harus digabung dengan tangga milik warga, karena saking tingginya,” ceritanya.

Selain itu, konsentrasi juga jadi salah satu kunci dalam melakukan evakuasi tawon vespa. Apabila konsentrasi hilang, maka kejadian fatal bisa saja terjadi sewaktu-waktu. “Kalau tidak konsentrasi bisa fatal. Sebab, lokasi yang tinggi bisa saja kita tergelincir,” ujar pria asal Desa/Kecamatan Dringu ini.

Angga menceritakan, meski ia mengalami belasan sengatan karena kelalaiannya sendiri, ia masih bisa menyelesaikan pekerjaannya. Tuntas mengevakuasi sarang tawon yang dikeluhkan warga.

“Ya mau bagaimana lagi? Karena sudah sampai di atas. Meski sudah kena sengat, ya tetap diselesaikan. Turunnya itu juga harus hati-hati. Jadi pelan-pelan. Meski sakit, ditahan. Kalau sarang tawon yang kami evakuasi, pernah juga besarnya seukuran tempat sampah plastik itu. Besar sekali,” katanya.

Tersengat tawon vespa, sangat menyiksa. Hal itu diakui Angga. Tak hanya sakit ketika disengat. Selepas disengat, masih merasakan gejala meriang plus bintik-bintik merah yang muncul pada tubuhnya. “Istri saat tahu (kena sengat tawon) ya kaget. Cuma karena tidak fatal, hanya bengkak dan meriang saja, tidak terlalu khawatir, ” ujar bapak dua putra tersebut.

Tak hanya Angga, Munief Prahtamawan, 28, personel damkar lain juga kerap tersengat tawon saat melakukan evakuasi. Bahkan, jauh lebih banyak. Ia mengalami 28 sengatan di bagian tangan saat melakukan evakuasi di Kecamatan Tongas. “Empat hari saya tidak masuk kerja. Sepekan lalu. Sampai saat ini tangan masih bengkak,” katanya.

Munief mengatakan, tawon menyengat kala itu lantaran dirinya lebih memilih menggunakan sarung tangan biasa dibandingkan Alat Pelindung Diri (APD) tawon saat melakukan evakuasi. Sontak puluhan tawon melakukan serangan terhadap kedua tangannya.

Ia lantas berbagi pengalaman beberapa kesulitan yang pernah dialaminya. “Ada yang tingginya 12 meter. Bahkan, tangga yang kami bawa harus digabung dengan tangga milik warga, karena saking tingginya,” ceritanya.

Selain itu, konsentrasi juga jadi salah satu kunci dalam melakukan evakuasi tawon vespa. Apabila konsentrasi hilang, maka kejadian fatal bisa saja terjadi sewaktu-waktu. “Kalau tidak konsentrasi bisa fatal. Sebab, lokasi yang tinggi bisa saja kita tergelincir,” ujar pria asal Desa/Kecamatan Dringu ini.

Angga menceritakan, meski ia mengalami belasan sengatan karena kelalaiannya sendiri, ia masih bisa menyelesaikan pekerjaannya. Tuntas mengevakuasi sarang tawon yang dikeluhkan warga.

“Ya mau bagaimana lagi? Karena sudah sampai di atas. Meski sudah kena sengat, ya tetap diselesaikan. Turunnya itu juga harus hati-hati. Jadi pelan-pelan. Meski sakit, ditahan. Kalau sarang tawon yang kami evakuasi, pernah juga besarnya seukuran tempat sampah plastik itu. Besar sekali,” katanya.

Tersengat tawon vespa, sangat menyiksa. Hal itu diakui Angga. Tak hanya sakit ketika disengat. Selepas disengat, masih merasakan gejala meriang plus bintik-bintik merah yang muncul pada tubuhnya. “Istri saat tahu (kena sengat tawon) ya kaget. Cuma karena tidak fatal, hanya bengkak dan meriang saja, tidak terlalu khawatir, ” ujar bapak dua putra tersebut.

Tak hanya Angga, Munief Prahtamawan, 28, personel damkar lain juga kerap tersengat tawon saat melakukan evakuasi. Bahkan, jauh lebih banyak. Ia mengalami 28 sengatan di bagian tangan saat melakukan evakuasi di Kecamatan Tongas. “Empat hari saya tidak masuk kerja. Sepekan lalu. Sampai saat ini tangan masih bengkak,” katanya.

Munief mengatakan, tawon menyengat kala itu lantaran dirinya lebih memilih menggunakan sarung tangan biasa dibandingkan Alat Pelindung Diri (APD) tawon saat melakukan evakuasi. Sontak puluhan tawon melakukan serangan terhadap kedua tangannya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/