Mengunjungi Bukit Candi, Wisata Baru di Tiris yang Eksotis

MENANTANG: Jalur menuju puncak Bukit Candi hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki, udara yang sejuk dan pemandangan yang indah mampu mengobati lelah. Salah satu spot foto pengunjung. Dari sini, pengunjung dapat melihat wilayah Tiris dan sekitarnya. (Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Kabupaten Probolinggo memiliki potensi wisata yang tersebar di sejumlah wilayah. Satu per satu potensi wisata itu pun mulai dikembangkan. Salah satunya adalah Bukit Candi di Desa Ranugedang, Kecamatan Tiris. Keindahan Bukit Candi ini mampu menarik wisatawan datang.

ACHMAD ARIANTO, Tiris, Radar Bromo

Angin sepoi-sepoi menyapa kedatangan pengunjung. Sabtu (1/8) pagi itu, jam masih menunjukkan pukul 08.00. Namun, sejumlah wisatawan lokal sudah berdatangan ke Bukit Candi.

Sebenarnya, Bukit Candi tergolong wisata baru. Baru beberapa bulan ini bukit yang terletak di Dusun Darungan, Desa Ranugedang, Kecamatan Tiris, itu dikembangkan. Namun, pesonanya mampu menarik wisatawan lokal datang. Terutama mereka yang menyukai tantangan, sekaligus keindahan alam.

Ya, wisata baru Bukit Candi ini memang layak dieksplorasi. Sekitar 4 kilometer dari kantor Desa Ranugedang, lokasi menuju Bukit Candi relatif mudah ditempuh.

Ada beberapa akses jalan yang bisa dilalui menuju Bukit Candi. Dari kantor Desa Ranugedang, pengunjung akan melewati sebuah jalan aspal sepanjang 500 meter ke arah timur. Terdapat sebuah pertigaan jalan, kemudian pengunjung menuju ruas jalan sisi selatan.

Dari titik ini, pengunjung masih harus menaklukkan ruas jalan makadam sepanjang 1 kilometer. Kemudian, dilanjutkan dengan jalan sepanjang 2,5 kilometer berupa tanah yang sedikit berpasir.

“Akses paling mudah memang mengikuti ruas jalan timur kantor desa. Sebab, di sana sudah ada penunjuk jalan menuju Bukit Candi. Pengunjung juga akan melewati tiga ruas jalan yang memiliki medan berbeda. Semakin ke atas, semakin menantang,” ujar warga Desa Ranugedang, Dedi Irawan.

Semua jalur itu bisa dilalui kendaraan bermotor. Ruas jalan yang berupa tanah berpasir mengharuskan pengunjung lebih sigap mengendalikan motor yang dikendarainya.

Di ruas jalan ini, pengaturan gigi motor sangat menentukan dapat dilaluinya jalan. Kondisi jalan yang menikung dan menanjak bisa ditaklukkan, jika pengendara cekatan.

“Jalan yang didominasi tanah dan pasir begitu licin, ditambah ada beberapa ruas jalan berkelok dan menanjak. Jika tidak terbiasa, maka motor yang dikendarai akan mundur,” tandasnya.

Sebagai tempat wisata baru, di sepanjang perjalanan memang belum ada warung yang dapat digunakan oleh pengunjung beristirahat. Namun, dalam perjalanan pengunjung dapat berhenti sejenak melepaskan letih di sejumlah titik atau spot. Terdapat spot foto yang berlatar belakang gunung dan pemandangan yang indah untuk didokumentasikan.

“Kalau pengunjung letih, bisa berhenti sejenak, menghela napas sambil menikmati indahnya pemandangan dan sejuknya udara pegunungan,” tuturnya.

Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan selama 20 menit, terdapat sebuah parkiran dan beberapa warung yang dikelola warga setempat. Lokasi ini kerap dijadikan pengunjung untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak bukit yang berupa padang sabana.

Ketua Pokdarwis Ranugedang Rike Nur Malita mengatakan, di tempat ini pengunjung diwajibkan untuk menitipkan kendaraannya. Sebab, medan yang akan dilalui hanya berupa jalan setapak yang menanjak. Hanya bisa dilalui dengan jalan kaki.

“Dari parkir motor jaraknya hanya 300 meter ke puncak. Di sini pengunjung bisa membeli makanan ringan atau minum yang nanti bisa dinikmati di puncak sambil menikmati pemandangan sekitar,” ujarnya.

Jalan menuju puncak berupa tanah yang diberi penahan kayu mengharuskan pengunjung bergantian menapaki jalan. Sebab, tanah belum mampu menahan beban yang terlalu berat. Melewati jalan ini embusan angin pun semakin kencang, seolah-olah mendorong tubuh untuk segera sampai ke puncak.

Sesampainya di puncak, terdapat beberapa spot foto yang ditawarkan. Di sisi utara ada sarang burung dan bunga teratai. Sisi sebelah timur terdapat jembatan. Dari jembatan ini, terlihat beberapa desa di Kecamatan Tiris. Sedangkan di sisi selatan, pengunjung dapat berfoto dengan berlatar belakang Gunung Tarub dan Lemongan.

Tak hanya dapat dikunjungi untuk sekadar melepas lelah atau rekreasi. Di bukit ini juga ada sebuah camping ground yang dapat dimanfaatkan untuk mendirikan tenda dan bermalam. Pemandangan sunrise dan sunset turut menjadi daya tarik pengunjung di tempat ini.

“Bukit ini memiliki ketinggian sekitar 1.326 meter di atas permukaan laut. Pengunjung yang bermalam dapat menikmati sunrise dan sunset. Bagus untuk pengunjung yang punya hobi fotografi,” terangnya.

Yusron, seorang pengunjung asal Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (1/8) datang ke Bukit Candi. Menurutnya, Bukit Candi menawarkan pemandangan yang cukup bagus, sehingga membuat pengunjung tertarik untuk berwisata.

“Awalnya tahu dari foto yang ada di media sosial. Karena penasaran, akhirnya saya datang. Ternyata memang bagus,” katanya.

Peningkatan pengunjung yang berangsur-angsur, membuat warga setempat berinisiatif membuka warung. Salah satunya adalah Karianto. Sebulan belakangan dia mendirikan warung semipermanen di Bukit Candi.

“Buka warung kecil-kecilan, supaya pengunjung yang lupa membawa makanan bisa beli di sini. Selain itu, juga ada minuman hangat yang bisa dinikmati sembari ngobrol di alam yang masih asri,” tuturnya.

Rike melanjutkan, pengembangan potensi wisata ini saat ini masih dikelola secara swadaya. Pengembangan dilakukan bertahap, sesuai kemampuan.

“Walaupun baru dikembangkan, setidaknya paling sedikit seratus pengunjung datang. Yang penting dalam pengembangan warga guyub rukun. Jika bukit ini bisa dikembangkan dengan baik, tentunya akan berdampak pada peningkatan ekonomi penduduk sekitar,” ujar Rike. (hn)