Cerita Warga Krejengan Sukses Tekuni Bisnis Bonsai

MERAWAT: Nurul Amin, 39, warga Dusun Kaliurang, Desa Sokaan, Kecamatan Krejengan, sedang merawat pohon serut yang dijadikan bonsai. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Ketekunan, kerja keras, dan support keluarga. Ketiganya menjadi kunci keberhasilan Nurul Amin, 39, mengelola usaha bonsai miliknya. Berawal dari iseng, kini warga Dusun Kaliurang, Desa Sokaan, Kecamatan Krejengan, itu berhasil meraup untung puluhan juta dari usaha bonsai yang dikelolanya.

AGUS FAIZ MUSLEH, Krejengan, Radar Bromo

Rimbun tanaman tembakau menghiasi sebuah areal persawahan di Desa Sokaan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. Di sebuah rumah tepat di depan areal persawahan itu, berjejer tanaman dengan bentuk unik. Ada yang besar, ada yang tanggung, dan ada yang berukuran kecil.

Unik karena batang pohon mendominasi. Lalu, cabang pohon hanya sedikit. Itu pun hanya di bagian atas. Dan bagian daun jumlahnya jauh lebih sedikit. Bentuknya tidak beraturan, namun indah dipandang.

Itulah bonsai milik Nurul Amin, 39, warga Dusun Kaliurang, Desa Sokaan. Bonsai-bonsai itu berjejer di halaman rumahnya. Tidak sekadar jadi pajangan tentu saja. Amin –panggilannya- menjadikan seni mengkerdilkan pohon itu sebagai usaha keluarga.

“Dulu saya tidak bisa membuat model pohon seperti ini. Kemudian saya terus belajar melalui media sosial. Saya juga belajar dari pengalaman teman-teman yang lebih dulu merawat bonsai,” tutur Amin sambil menunjuk sebuah bonsai dari pohon Serut.

Awal menekuni bonsai dua tahun lalu, Amin sebenarnya hanya iseng. Dia coba-coba merawat serut untuk dijadikan bonsai. Serut dipilih karena merupakan salah satu jenis bonsai yang paling digemari. Setelah jadi, bonsai serut itu lantas dijualnya. “Ternyata kok hasilnya lumayan,” tuturnya.

Dari situ, Amin lantas berusaha membuat lebih banyak bonsai. Jenis pohon yang dibuat bonsai pun makin beragam. Kini, puluhan bonsai ada di halaman rumahnya yang diambil dari lima jenis pohon. Yaitu, serut, beringin, asam, santigi, dan pohon arah.

Harga jualnya pun lumayan. Sekitar Rp 15 juta paling mahal. “Saat ini paling mahal bonsai saya laku Rp 15 juta. Dalam satu bulan, rata-rata Rp 30 juta sampai Rp 40 juta,” ujarnya sambil memotong beberapa bagian bonsai beringin dengan hati-hati.

Pemasarannya pun tidak hanya di Probolinggo. Namun, sampai ke beberapa daerah yang ada di Indonesia. Seperti Sumatera, Kalimantan, Bali, Sumbawa, NTB, dan Papua.

Biasanya, bonsai itu dikirim lewat pos dengan lebih dulu dibungkus kardus. Tak heran, puluhan kardus berjejer rapi di ruang tamu rumahnya. Beberapa bonsai bahkan ada yang sudah dibungkus untuk dikirim ke luar Jawa.

“Saya memasarkan via online, dengan modal kepercayaan. Biasanya pembeli saya dapatkan dari grup WhatsApp yang berisi para pebisnis bonsai semua,” ujar ayah dua anak ini.

Selama mengelola usaha bonsainya, Amin mengaku, ketekunan dan kerja keras menjadi kunci utama. Tanpa keduanya, usahanya itu sulit berkembang. Sebab, di balik uang jutaan rupiah yang ia dapatkan dari menjual bonsai, ada perjuangan yang kadang sering mengancam nyawa.

“Karena tidak sembarang pohon bisa dijadikan bonsai. Ketika bahan baku sudah tidak ada, saya mencari ke Probolinggo bagian selatan. Mencari ke gunung-gunung yang masih ada jenis pohon bonsai,” tuturnya.

Dan butuh usaha tidak mudah untuk menjangkau gunung-gunung tersebut. Panas terik atau dingin menggigil diterjangnya. Hujan lebat dengan kondisi jalan licin pun dilaluinya. “Saat hujan, jalan menuju gunung jadi licin. Dan itu membahayakan,” tuturnya.

Semangat dari keluarga kecilnya membuat dirinya pantang menyerah. Terlebih lagi pada masa pandemi Covid-19 ini, bisnisnya sempat tidak jalan. Sebab, akses pengiriman barang ditutup.

“Maret sampai Mei, tidak ada sama sekali bonsai yang terjual. Jadi, saya kembali bertani dan menjadi buruh tani untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dalam kondisi seperti itu, dukungan keluarga yang membuat saya terus bersemangat,” ujarnya. (hn)