alexametrics
29.7 C
Probolinggo
Thursday, 26 May 2022

Harga Terus Turun, Petani Apel di Tutur Pindah ke Jeruk

TUTUR, Radar Bromo – Apel asal Nongkojajar, Kecamatan Tutur, begitu terkenal sampai menasional. Keunggulannya bahkan mampu menggantikan popularitas apel asal Kota Batu. Namun, petani apel mengeluhkan harganya yang terus turun.

Petani apel di kawasan Tutur menyebar di berbagai lokasi. Selain Nongkojajar, ada Andonosari, Kayukebek, Blarang, dan Pungging. Hasil panen apel dari sana menjadi incaran pedagang dari berbagai kota. Bahkan, pedagang asal Batu justru kulakan apel ke Tutur.  Masalahnya, harga dari tengkulak itu dinilai terlalu rendah.

Ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Kharisma Agro Andonosari Heri Subhan mengatakan, para petani sambat setelah harga apel turun drastis daripada tahun-tahun sebelumnya.

Saat ini, harga jual apel anjlok. Harganya per kilogram Rp 3 ribu sampai Rp 4 ribu saja. Itu terjadi mulai awal Januari 2022. Sebelumnya, harga per kilo sekitar Rp 5 ribu sampai Rp 6 ribu. Penurunan mulai dirasakan sejak pandemi Covid-19. Pembelinya tetap para tengkulak dari Kota Batu.

”Petani tidak tahu sebabnya. Mengapa harganya kok terus turun,” ujar Heri Subhan.

Memang, lanjut Heri Subhan, pernah terjadi harga naik. Tapi, yang lebih sering turun. Karena tak ingin terus rugi, petani mulai berpikir lain. Sebab, biaya operasional tanam tidak sebanding dengan hasil panen. Sebagian petani apel mulai beralih ke tanaman jeruk. Itu telah berlangsung hampir 2 tahun.

”Sekitar 30 persen petani mulai pindah tanam jeruk,” ungkapnya. Para petani apel berharap ada perhatian dari pemerintah daerah dan provinsi. Karena apel merupakan produk unggulan dan harus diselamatkan. (zal/far)

TUTUR, Radar Bromo – Apel asal Nongkojajar, Kecamatan Tutur, begitu terkenal sampai menasional. Keunggulannya bahkan mampu menggantikan popularitas apel asal Kota Batu. Namun, petani apel mengeluhkan harganya yang terus turun.

Petani apel di kawasan Tutur menyebar di berbagai lokasi. Selain Nongkojajar, ada Andonosari, Kayukebek, Blarang, dan Pungging. Hasil panen apel dari sana menjadi incaran pedagang dari berbagai kota. Bahkan, pedagang asal Batu justru kulakan apel ke Tutur.  Masalahnya, harga dari tengkulak itu dinilai terlalu rendah.

Ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Kharisma Agro Andonosari Heri Subhan mengatakan, para petani sambat setelah harga apel turun drastis daripada tahun-tahun sebelumnya.

Saat ini, harga jual apel anjlok. Harganya per kilogram Rp 3 ribu sampai Rp 4 ribu saja. Itu terjadi mulai awal Januari 2022. Sebelumnya, harga per kilo sekitar Rp 5 ribu sampai Rp 6 ribu. Penurunan mulai dirasakan sejak pandemi Covid-19. Pembelinya tetap para tengkulak dari Kota Batu.

”Petani tidak tahu sebabnya. Mengapa harganya kok terus turun,” ujar Heri Subhan.

Memang, lanjut Heri Subhan, pernah terjadi harga naik. Tapi, yang lebih sering turun. Karena tak ingin terus rugi, petani mulai berpikir lain. Sebab, biaya operasional tanam tidak sebanding dengan hasil panen. Sebagian petani apel mulai beralih ke tanaman jeruk. Itu telah berlangsung hampir 2 tahun.

”Sekitar 30 persen petani mulai pindah tanam jeruk,” ungkapnya. Para petani apel berharap ada perhatian dari pemerintah daerah dan provinsi. Karena apel merupakan produk unggulan dan harus diselamatkan. (zal/far)

MOST READ

BERITA TERBARU

/