alexametrics
31.9 C
Probolinggo
Thursday, 29 July 2021

Cuaca Tak Menentu, Nelayan Pasuruan Sering Pulang Melaut Tanpa Ikan

PANGGUNGREJO, Radar Bromo – Nelayan Kota Pasuruan harus bersabar dalam beberapa hari terakhir. Sebab, mereka pulang melaut tanpa membawa hasil. Kondisi ini dikarenakan saat ini belum masuk musim ikan.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Pasuruan, Ihsan Khoiri mengungkapkan selama satu pekan ini, nelayan Kota Pasuruan melaut tanpa membawa hasil. Tidak ada ikan yang berhasil diperoleh mereka. Andaipun ada, hasilnya sangat sedikit.

“Sepi. Tidak ada tangkapan ikan. Bahkan walau dapat pun tidak sampai satu keranjang. Satu keranjang itu sekitar 35 kilogram. Memang saat ini masih belum musim ikan,” ungkapnya.

Ihsan menjelaskan hal ini membuat beberapa anak buah kapal (ABK) terpaksa hutang ke pemilik kapal. Ini dimungkinkan karena adanya perubahan cuaca yang tidak menentu di mana kemarau dan hujan masih bergiliran terjadi.

Tak ayal sepinya tangkapan ini membuat harga ikan jadi tidak menentu. Pasalnya ketersediaan ikan juga minim akibat tangkapan nelayan yang sepi. Namun beberapa hari ini masyarakat yang membeli ikan juga minim. Sebab banyak warga yang terdampak ekonomi akibat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat yang sudah berjalan selama dua pekan ini.

Kepala Dinas Perikanan Kota Pasuruan, Imam Subekti membenarkan hasil tangkap ikan di laut yang menurun. Ini tidak terlepas dari cuaca dan iklim di perairan Pasuruan. Sebab saat ini sedang terjadi fenomena bediding di mana cuaca bisa berubah drastis saat siang panas dan malah bisa tiba-tiba menjadi dingin.

Selain itu, saat ini memang belum musim ikan. Maka sekarang sedang berlaku hukum ekonomi. Karena tangkapan minim maka harga ikan menjadi naik. Kondisi ini diikuti dengan adanya PPKM darurat selama berminggu-minggu dan membuat daya beli masyarakat menjadi turun.

“Saat tangkapan ikan laut menurun, justru ini bisa menjadi momen bagi budi daya ikan air tawar untuk memasarkan produknya. Apalagi harga ikan air tawar malah sedang turun. Seperti nila yang jadi Rp 14 ribu dari sebelumnya Rp 25 ribu. Ini bisa dimanfaatkan mereka agar semakin dikenal masyarakat,” terang Imam. (riz/fun)

PANGGUNGREJO, Radar Bromo – Nelayan Kota Pasuruan harus bersabar dalam beberapa hari terakhir. Sebab, mereka pulang melaut tanpa membawa hasil. Kondisi ini dikarenakan saat ini belum masuk musim ikan.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Pasuruan, Ihsan Khoiri mengungkapkan selama satu pekan ini, nelayan Kota Pasuruan melaut tanpa membawa hasil. Tidak ada ikan yang berhasil diperoleh mereka. Andaipun ada, hasilnya sangat sedikit.

“Sepi. Tidak ada tangkapan ikan. Bahkan walau dapat pun tidak sampai satu keranjang. Satu keranjang itu sekitar 35 kilogram. Memang saat ini masih belum musim ikan,” ungkapnya.

Ihsan menjelaskan hal ini membuat beberapa anak buah kapal (ABK) terpaksa hutang ke pemilik kapal. Ini dimungkinkan karena adanya perubahan cuaca yang tidak menentu di mana kemarau dan hujan masih bergiliran terjadi.

Tak ayal sepinya tangkapan ini membuat harga ikan jadi tidak menentu. Pasalnya ketersediaan ikan juga minim akibat tangkapan nelayan yang sepi. Namun beberapa hari ini masyarakat yang membeli ikan juga minim. Sebab banyak warga yang terdampak ekonomi akibat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat yang sudah berjalan selama dua pekan ini.

Kepala Dinas Perikanan Kota Pasuruan, Imam Subekti membenarkan hasil tangkap ikan di laut yang menurun. Ini tidak terlepas dari cuaca dan iklim di perairan Pasuruan. Sebab saat ini sedang terjadi fenomena bediding di mana cuaca bisa berubah drastis saat siang panas dan malah bisa tiba-tiba menjadi dingin.

Selain itu, saat ini memang belum musim ikan. Maka sekarang sedang berlaku hukum ekonomi. Karena tangkapan minim maka harga ikan menjadi naik. Kondisi ini diikuti dengan adanya PPKM darurat selama berminggu-minggu dan membuat daya beli masyarakat menjadi turun.

“Saat tangkapan ikan laut menurun, justru ini bisa menjadi momen bagi budi daya ikan air tawar untuk memasarkan produknya. Apalagi harga ikan air tawar malah sedang turun. Seperti nila yang jadi Rp 14 ribu dari sebelumnya Rp 25 ribu. Ini bisa dimanfaatkan mereka agar semakin dikenal masyarakat,” terang Imam. (riz/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU