alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Harga Kubis di Kab Probolinggo Anjlok, Petani Harus Siap Merugi

KRUCIL, Radar Bromo– Petani kubis di wilayah selatan Kabupaten Probolinggo harus siap merugi. Pasalnya, harga komoditas sayuran ini sedang anjlok. Panen raya di sejumlah daerag menyebabkan harga kubis jadi merosot.

Seperti yang dikatakan Ragil, 40, salah satu petani kubis asal Desa/Kecamatan Krucil. Menurut dia, harga kubis mengalami penurunan cukup signifikan. Bahkan terhitung merugi.

Dua bulan lalu, harga kubis bisa sampai Rp 7.000 perkilo. “Saat ini kisaran Rp 400 perkilo di kalangan petani. Harga ini sangat jauh untuk bisa mendapat untung. Hitungannya sudah merugi,“ terang Ragil, saat ditemui Kamis (18/11).

Menurut Ragil, kerugian tersebut terhitung dari modal yang dikeluarkan. Terhitung sejak awal penanaman sampai panen dan dijual. Jika dihitung dari penanam sampai panen biaya satu pohon kubis membutuhkan Rp 1.500.

“Dari biaya dengan hasil saat panen saja sudah jauh. Misal satu hektare itu bisa tanam 10.000 pohon kubis. Jika dihitung, modalnya sampai Rp 150 juta,“ ujarmya.

Anjloknya harga ini diyakini Ragil lantaran sejumlah daerah lain saat ini sedang melakukan panen. Sehingga, kubis dalam daerah sulit menerima permintaan dari luar.

“Petani kubis ini kan tidak hanya disini. Seperti daerah Bromo, terus wilayah luar seperti Wonosobo, Salatiga dan daerah Jawa Tengah lainnya juga panen. Sehingga mempengaruhi harga, “ Ujarnya.

Selain itu, menurutnya, ada wilayah-wilayah lain yang saat ini juga mulai melakukan penanaman kubis. Seperti daerah Bali dan Sumatra. “Saat ini daerah lain yang dulunya ambil ke sini (Krucil, Red) seperti Bali, sudah menanam juga. Itu karena sekarang ada benih kubis yang bisa ditanam di dataran rendah,“ katanya.

Ragil sendiri di musim tanam saat ini mengaku masih belum melakukan penanam. Sebab, harga yang murah membuatnya enggan. “Kalau sudah murah seperti ini biasanya sudah tidak laku. Yang panen ya tidak dijual. Biasanya diberi ke para peternak yang menyabit rumput untuk pakan sapi,“ ujarnya.

Petani kubis lainya, Adi Santoso 62, mengatakan, selain harga kubis murah, kualitasnya juga menurun. Hal ini terpengaruh adanya musim hujan. “Bobotnya kurang. Biasanya 1 kubis itu 1,5 kilogram. Faktor hujan dan kekurangan sinar matahari bisa hanya 1 kilogram saja,“ beber Adi.

Di tanah sekitar 3 hektare miliknya, Adi mengatakan, 80 persen lahannya saat ini ditanami kubis. Ia mengaku tidak takut rugi dengan harga yang anjlok ini. Namun begitu ia berharap, harga saat panen nanti bisa berangsur membaik. “Harga Rp 2.000 saja sudah untung. Ya mau bagaimana lagi, kalau rugi konsekuensi. Tapi saya berharap harga bisa membaik, “ Ujarnya.

Jawa Pos Radar Bromo mencoba mengkonfirmasi perihal anjloknya harga kubis ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo. Hingga berita ini ditulis, Kasi Perdagangan Disperindag Ridwan, belum merespon saat dihubungi melalui panggilan seluler. (mu/fun)

KRUCIL, Radar Bromo– Petani kubis di wilayah selatan Kabupaten Probolinggo harus siap merugi. Pasalnya, harga komoditas sayuran ini sedang anjlok. Panen raya di sejumlah daerag menyebabkan harga kubis jadi merosot.

Seperti yang dikatakan Ragil, 40, salah satu petani kubis asal Desa/Kecamatan Krucil. Menurut dia, harga kubis mengalami penurunan cukup signifikan. Bahkan terhitung merugi.

Dua bulan lalu, harga kubis bisa sampai Rp 7.000 perkilo. “Saat ini kisaran Rp 400 perkilo di kalangan petani. Harga ini sangat jauh untuk bisa mendapat untung. Hitungannya sudah merugi,“ terang Ragil, saat ditemui Kamis (18/11).

Menurut Ragil, kerugian tersebut terhitung dari modal yang dikeluarkan. Terhitung sejak awal penanaman sampai panen dan dijual. Jika dihitung dari penanam sampai panen biaya satu pohon kubis membutuhkan Rp 1.500.

“Dari biaya dengan hasil saat panen saja sudah jauh. Misal satu hektare itu bisa tanam 10.000 pohon kubis. Jika dihitung, modalnya sampai Rp 150 juta,“ ujarmya.

Anjloknya harga ini diyakini Ragil lantaran sejumlah daerah lain saat ini sedang melakukan panen. Sehingga, kubis dalam daerah sulit menerima permintaan dari luar.

“Petani kubis ini kan tidak hanya disini. Seperti daerah Bromo, terus wilayah luar seperti Wonosobo, Salatiga dan daerah Jawa Tengah lainnya juga panen. Sehingga mempengaruhi harga, “ Ujarnya.

Selain itu, menurutnya, ada wilayah-wilayah lain yang saat ini juga mulai melakukan penanaman kubis. Seperti daerah Bali dan Sumatra. “Saat ini daerah lain yang dulunya ambil ke sini (Krucil, Red) seperti Bali, sudah menanam juga. Itu karena sekarang ada benih kubis yang bisa ditanam di dataran rendah,“ katanya.

Ragil sendiri di musim tanam saat ini mengaku masih belum melakukan penanam. Sebab, harga yang murah membuatnya enggan. “Kalau sudah murah seperti ini biasanya sudah tidak laku. Yang panen ya tidak dijual. Biasanya diberi ke para peternak yang menyabit rumput untuk pakan sapi,“ ujarnya.

Petani kubis lainya, Adi Santoso 62, mengatakan, selain harga kubis murah, kualitasnya juga menurun. Hal ini terpengaruh adanya musim hujan. “Bobotnya kurang. Biasanya 1 kubis itu 1,5 kilogram. Faktor hujan dan kekurangan sinar matahari bisa hanya 1 kilogram saja,“ beber Adi.

Di tanah sekitar 3 hektare miliknya, Adi mengatakan, 80 persen lahannya saat ini ditanami kubis. Ia mengaku tidak takut rugi dengan harga yang anjlok ini. Namun begitu ia berharap, harga saat panen nanti bisa berangsur membaik. “Harga Rp 2.000 saja sudah untung. Ya mau bagaimana lagi, kalau rugi konsekuensi. Tapi saya berharap harga bisa membaik, “ Ujarnya.

Jawa Pos Radar Bromo mencoba mengkonfirmasi perihal anjloknya harga kubis ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo. Hingga berita ini ditulis, Kasi Perdagangan Disperindag Ridwan, belum merespon saat dihubungi melalui panggilan seluler. (mu/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/