alexametrics
28.9 C
Probolinggo
Wednesday, 16 June 2021
Desktop_AP_Top Banner

Irawan Berhenti Jadi Buruh lalu Rintis Bisnis Anyaman Sintetis

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Iseng-iseng mendatangkan rupiah. Itulah yang dirasakan Irawan, 39, warga Martopuro, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, dalam menekuni bisnis anyaman rotan. Bisnis yang semula hanya coba-coba itu, ternyata mendatangkan berkah baginya.

—————–

BERAGAM produk anyaman dipamerkan. Ada tempat tisu, pot bunga, tudung saji, dan aneka anyaman lainnya. Semuanya terbuat dari rotan. Tapi, bukan rotan biasa. Melainkan rotan sintetis.

Produk-produk tersebut merupakan kreasi dari Irawan. Ia sengaja memajang produknya di salah satu stan UKM ketika mengikuti pasar murah gelaran Disperindag Kabupaten Pasuruan, beberapa waktu lalu. Tak hanya bertujuan menyemarakkan acara. Ikut sertanya diharapkan bisa membuat pengunjung “kecantol” dengan produknya.

“Ini anyaman rotan sintentis buatan saya. Ada beragam produk. Termasuk meja kursi yang tak sempat terpajang di sini,” ungkap mantan buruh pabrik susu di Purwosari ini.

Irawan mengaku, mulai menekuni bisnis anyaman rotan sejak 2017. Sebelumnya, ia tak terpikirkan untuk menjadi perajin anyaman rotan sintetis. Meski basic untuk mengayam sudah dimiliki.

Maklum, sebelum bekerja di pabrik susu ia merupakan buruh pabrik furnitur di Pandaan. Ia kebagian menganyam. Saban harinya, tangannya hampir tak lepas dari anyaman rotan.

“Dulu saya pernah bekerja di pabrik furnitur. Kebetulan dapat bagian menganyam,” kenangnya.

Hingga suatu hari pada 2017, ia pergi berwisata ke Batu bersama keluarganya. Saat jalan-jalan di Batu itulah anaknya melihat pedagang lampion dari rotan sintetis.

Rupanya lampion itu membuat si buah hati tertarik. Dia pun merengek minta dibelikan. Tak tahan dengan rengekan anaknya, Irawan membelinya. Harganya tidaklah murah.

“Saya tanya harganya, ternyata tidak murah. Sekitar Rp 80 ribu waktu itu. Padahal kecil ukurannya. Karena anak saya memaksa, mau tidak mau saya beli,” kisahnya.

Dari situ, ia tertarik untuk membuat kerajinan serupa. Berbekal pengalamannya menganyam, Irawan yakin bisa membuat lampion seperti yang diminta anaknya.

Maka, Irawan pun menggali informasi tentang bahan baku dan kerangka untuk membuat kerajinan dari rotan sintetis itu. Hingga ia tahu, bahan baku kerajinan itu dijual di Malang.

Irawan pun langsung membeli bahan baku seperlunya saat itu. Lalu, dia pun mulai membuat lampion berbentuk stroberi dari rotan sintetis itu. Ia membuat lima buah. Begitu jadi, ia tawarkan ke teman-temannya.

“Saya berujar dalam hati. Kalau lima buah ini terjual, maka akan saya teruskan membuat kerajinan anyaman. Tapi, kalau tidak ya berhenti,” tandas dia.

Tak disangka, lima lampion stroberi buatannya itu laris manis. Padahal, tiap lampion dia jual Rp 90 ribu. Semuanya dibeli rekannya sesama buruh pabrik susu di Purwosari.

Irawan pun jadi bersemangat. Otaknya terus berpikir untuk mengembangkan inovasi kerajinan dari rotan sintetis. Tidak hanya membuat lampion. Namun, juga membuat produk perabot rumah lainnya.

Dia pun akhirnya membuat tempat tisu, tudung saji, dan aneka barang lainnya. Bahkan, ia juga mengembangkannya dengan memproduksi meja dan kursi.

“Saya tambah semangat dan saya lanjutkan produksi. Tidak hanya mainan, saya buat mebeler juga. Kursi dan kayu,” timpalnya.

Setiap produk barang anyaman itu dia hargai berbeda. Tergantung jenis barangnya. Mulai puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Seperti tempat tisu Rp 50 ribu per unit. Sedangkan meja kursi untuk ruang Rp 4,2 juta per set.

Sejak mengembangkan bisnis itu, ia pun tak khawatir meninggalkan pekerjaannya sebagai buruh. Ia bahkan fokus mengembangkan bisnis anyaman rotan sintetis tersebut.

“Saya buruh kontrak. Begitu kontrak habis tiga tahun lalu, saya keluar dan fokus pada bisnis ini,” jelas dia.

Untuk membuat anyaman sintetis dibutuhkan ketelatenan. Irawan mengaku, membutuhkan waktu seharian untuk menyelesaikan dua buah tempat tisu. Sementara untuk satu set kursi dan meja bisa sampai dua minggu.

Pesanan yang diterimanya pun tidak hanya dari Pasuruan. Tetapi juga merambah Samarinda dan Aceh. Bahkan, produknya juga sempat dilirik warga Singapura.

“Sayangnya terkendala surat-surat. Sehingga, pengiriman kursi ke sana gagal dilakukan,” tutup dia. (one/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

Iseng-iseng mendatangkan rupiah. Itulah yang dirasakan Irawan, 39, warga Martopuro, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, dalam menekuni bisnis anyaman rotan. Bisnis yang semula hanya coba-coba itu, ternyata mendatangkan berkah baginya.

—————–

BERAGAM produk anyaman dipamerkan. Ada tempat tisu, pot bunga, tudung saji, dan aneka anyaman lainnya. Semuanya terbuat dari rotan. Tapi, bukan rotan biasa. Melainkan rotan sintetis.

Mobile_AP_Half Page

Produk-produk tersebut merupakan kreasi dari Irawan. Ia sengaja memajang produknya di salah satu stan UKM ketika mengikuti pasar murah gelaran Disperindag Kabupaten Pasuruan, beberapa waktu lalu. Tak hanya bertujuan menyemarakkan acara. Ikut sertanya diharapkan bisa membuat pengunjung “kecantol” dengan produknya.

“Ini anyaman rotan sintentis buatan saya. Ada beragam produk. Termasuk meja kursi yang tak sempat terpajang di sini,” ungkap mantan buruh pabrik susu di Purwosari ini.

Irawan mengaku, mulai menekuni bisnis anyaman rotan sejak 2017. Sebelumnya, ia tak terpikirkan untuk menjadi perajin anyaman rotan sintetis. Meski basic untuk mengayam sudah dimiliki.

Maklum, sebelum bekerja di pabrik susu ia merupakan buruh pabrik furnitur di Pandaan. Ia kebagian menganyam. Saban harinya, tangannya hampir tak lepas dari anyaman rotan.

“Dulu saya pernah bekerja di pabrik furnitur. Kebetulan dapat bagian menganyam,” kenangnya.

Hingga suatu hari pada 2017, ia pergi berwisata ke Batu bersama keluarganya. Saat jalan-jalan di Batu itulah anaknya melihat pedagang lampion dari rotan sintetis.

Rupanya lampion itu membuat si buah hati tertarik. Dia pun merengek minta dibelikan. Tak tahan dengan rengekan anaknya, Irawan membelinya. Harganya tidaklah murah.

“Saya tanya harganya, ternyata tidak murah. Sekitar Rp 80 ribu waktu itu. Padahal kecil ukurannya. Karena anak saya memaksa, mau tidak mau saya beli,” kisahnya.

Dari situ, ia tertarik untuk membuat kerajinan serupa. Berbekal pengalamannya menganyam, Irawan yakin bisa membuat lampion seperti yang diminta anaknya.

Maka, Irawan pun menggali informasi tentang bahan baku dan kerangka untuk membuat kerajinan dari rotan sintetis itu. Hingga ia tahu, bahan baku kerajinan itu dijual di Malang.

Irawan pun langsung membeli bahan baku seperlunya saat itu. Lalu, dia pun mulai membuat lampion berbentuk stroberi dari rotan sintetis itu. Ia membuat lima buah. Begitu jadi, ia tawarkan ke teman-temannya.

“Saya berujar dalam hati. Kalau lima buah ini terjual, maka akan saya teruskan membuat kerajinan anyaman. Tapi, kalau tidak ya berhenti,” tandas dia.

Tak disangka, lima lampion stroberi buatannya itu laris manis. Padahal, tiap lampion dia jual Rp 90 ribu. Semuanya dibeli rekannya sesama buruh pabrik susu di Purwosari.

Irawan pun jadi bersemangat. Otaknya terus berpikir untuk mengembangkan inovasi kerajinan dari rotan sintetis. Tidak hanya membuat lampion. Namun, juga membuat produk perabot rumah lainnya.

Dia pun akhirnya membuat tempat tisu, tudung saji, dan aneka barang lainnya. Bahkan, ia juga mengembangkannya dengan memproduksi meja dan kursi.

“Saya tambah semangat dan saya lanjutkan produksi. Tidak hanya mainan, saya buat mebeler juga. Kursi dan kayu,” timpalnya.

Setiap produk barang anyaman itu dia hargai berbeda. Tergantung jenis barangnya. Mulai puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Seperti tempat tisu Rp 50 ribu per unit. Sedangkan meja kursi untuk ruang Rp 4,2 juta per set.

Sejak mengembangkan bisnis itu, ia pun tak khawatir meninggalkan pekerjaannya sebagai buruh. Ia bahkan fokus mengembangkan bisnis anyaman rotan sintetis tersebut.

“Saya buruh kontrak. Begitu kontrak habis tiga tahun lalu, saya keluar dan fokus pada bisnis ini,” jelas dia.

Untuk membuat anyaman sintetis dibutuhkan ketelatenan. Irawan mengaku, membutuhkan waktu seharian untuk menyelesaikan dua buah tempat tisu. Sementara untuk satu set kursi dan meja bisa sampai dua minggu.

Pesanan yang diterimanya pun tidak hanya dari Pasuruan. Tetapi juga merambah Samarinda dan Aceh. Bahkan, produknya juga sempat dilirik warga Singapura.

“Sayangnya terkendala surat-surat. Sehingga, pengiriman kursi ke sana gagal dilakukan,” tutup dia. (one/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2