alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Saturday, 2 July 2022

Petani Sayur di Pasuruan Menjerit, Rugi karena Biaya Produksi

PASURUAN, Radar Bromo – Para petani sayur di Kabupaten Pasuruan tengah gundah. Biaya produksi melejit, tapi harga hasil panen mereka anjlok. Mereka tidak dapat untung.

Wakil Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Kabupaten Pasuruan Heri Subkhan menyatakan, kondisi petani Kabupaten Pasuruan, terutama di Tutur, memang tengah dilematis. Tidak bercocok tanam, tidak dapat penghasilan. Tapi, ketika bertani, harga hasil pertanian tak sebanding dengan biaya produksi. ”Rugi,” ungkap Heri Subkhan Selasa (9/11).

Dia menjelaskan, biaya produksi pertanian saat ini benar-benar menggila. Naik lipat dua. Kondisi itu dipengaruhi oleh melambungnya harga bahan pertanian. Misalnya pestisida.

Sebelumnya, harganya masih sekitar Rp 100 ribu untuk 250 ml. Namun sekarang, angkanya tembus Rp 250 ribu. Belum lagi pupuk. Petani di wilayah Tutur banyak menggunakan pupuk nonsubsidi. Harga pupuk nonsubsidi sebelumnya masih Rp 450 ribu per 50 kg. Namun, sekarang Rp 725 ribu per 50 kg.

”Kondisi seperti ini sudah berlangsung lebih dari sebulan,” tambah Heri.

Ibaratnya, para petani mendapatkan buah simalakama. Dengan menggarap lahan, petani berharap bisa dapat untung. Tapi, kenyataannya tidak demikian. Para petani justru sangat rugi. Biaya produksi membengkak. Tidak sebanding dengan pendapatan.

Itu terjadi gara-gara harga sayur anjlok tajam. Misalnya, tomat semula masih Rp 6 ribu per kilogram. Tapi, saat ini hanya Rp 500 hingga Rp 1.000 per kilogram. Hal yang hampir sama terjadi untuk sayuran lain. Kubis misalnya. Sebelumnya, masih Rp 2 ribu ke atas per kilogram. Sekarang hanya Rp 1 ribu per kilogram.

PASURUAN, Radar Bromo – Para petani sayur di Kabupaten Pasuruan tengah gundah. Biaya produksi melejit, tapi harga hasil panen mereka anjlok. Mereka tidak dapat untung.

Wakil Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Kabupaten Pasuruan Heri Subkhan menyatakan, kondisi petani Kabupaten Pasuruan, terutama di Tutur, memang tengah dilematis. Tidak bercocok tanam, tidak dapat penghasilan. Tapi, ketika bertani, harga hasil pertanian tak sebanding dengan biaya produksi. ”Rugi,” ungkap Heri Subkhan Selasa (9/11).

Dia menjelaskan, biaya produksi pertanian saat ini benar-benar menggila. Naik lipat dua. Kondisi itu dipengaruhi oleh melambungnya harga bahan pertanian. Misalnya pestisida.

Sebelumnya, harganya masih sekitar Rp 100 ribu untuk 250 ml. Namun sekarang, angkanya tembus Rp 250 ribu. Belum lagi pupuk. Petani di wilayah Tutur banyak menggunakan pupuk nonsubsidi. Harga pupuk nonsubsidi sebelumnya masih Rp 450 ribu per 50 kg. Namun, sekarang Rp 725 ribu per 50 kg.

”Kondisi seperti ini sudah berlangsung lebih dari sebulan,” tambah Heri.

Ibaratnya, para petani mendapatkan buah simalakama. Dengan menggarap lahan, petani berharap bisa dapat untung. Tapi, kenyataannya tidak demikian. Para petani justru sangat rugi. Biaya produksi membengkak. Tidak sebanding dengan pendapatan.

Itu terjadi gara-gara harga sayur anjlok tajam. Misalnya, tomat semula masih Rp 6 ribu per kilogram. Tapi, saat ini hanya Rp 500 hingga Rp 1.000 per kilogram. Hal yang hampir sama terjadi untuk sayuran lain. Kubis misalnya. Sebelumnya, masih Rp 2 ribu ke atas per kilogram. Sekarang hanya Rp 1 ribu per kilogram.

MOST READ

BERITA TERBARU

/