alexametrics
25.7 C
Probolinggo
Thursday, 26 May 2022

Dampak PPKM di Probolinggo: Pembeli Sepi-Harga Bawang Merosot

DRINGU, Radar Bromo – Dampak penerapan PPKM Darurat juga dirasakan di pasar bawang Dringu Kabupaten Probolinggo. Pembeli yang datang ke pasar bawang sangat sepi. Akibatnya, harga bawang merah pun merosot hingga separo atau 50 persen.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo menyebutkan, suasana Pasar Bawang Dringu tak seramai sebelum penerapan PPKM Darurat. Kendaraan pikap yang keluar-masuk jarang terlihat. Pembeli juga sepi.

”Ayo bawang merahnya, mumpung harga lagi turun. Ini pembelinya sepi dan tidak bisa jual ke luar daerah, jadi harga bawang merah turun,” kata salah satu pedagang di pasar bawang Dringu.

Kepala UPT Pasar Bawang Dringu, Sutaman mengatakan, ada dampak PPKM Darurat yang dirasakan pedagang di Pasar Bawang Dringu. Pembeli yang datang untuk membeli ke pasar sangat sepi. Sisi lain, pengiriman bawang merah ke luar daerah juga tersendat. Dampaknya, harga bawang merah pun merosot.

”Karena pembeli memang sepi. Mau kirim ke luar daerah juga tidak bisa,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo kemarin.

Sutaman menerangkan, harga bawang merah ukuran kecil turun sampai Rp 6 ribu hingga Rp8ribu. Sementara, untuk harga bawang merah bukuran super Rp20 ribu hingga Rp21 ribu. Harga itu justru menurun. Sebab pekan lalu, harga bawang merah super berada di harga Rp28 ribu tiap kilogram.

Pembelian bawang merah di pasar itu menurun hingga 50 persen. Pembeliannya memang turun 20 persen sampai 50 persen. Padahal, biasanya laku hingga 40 ton per hari. Namun, stok di pasar ada 60 ton tadi dan hanya berlaku 25 – 30 ton,” katanya. (mas/fun)

DRINGU, Radar Bromo – Dampak penerapan PPKM Darurat juga dirasakan di pasar bawang Dringu Kabupaten Probolinggo. Pembeli yang datang ke pasar bawang sangat sepi. Akibatnya, harga bawang merah pun merosot hingga separo atau 50 persen.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo menyebutkan, suasana Pasar Bawang Dringu tak seramai sebelum penerapan PPKM Darurat. Kendaraan pikap yang keluar-masuk jarang terlihat. Pembeli juga sepi.

”Ayo bawang merahnya, mumpung harga lagi turun. Ini pembelinya sepi dan tidak bisa jual ke luar daerah, jadi harga bawang merah turun,” kata salah satu pedagang di pasar bawang Dringu.

Kepala UPT Pasar Bawang Dringu, Sutaman mengatakan, ada dampak PPKM Darurat yang dirasakan pedagang di Pasar Bawang Dringu. Pembeli yang datang untuk membeli ke pasar sangat sepi. Sisi lain, pengiriman bawang merah ke luar daerah juga tersendat. Dampaknya, harga bawang merah pun merosot.

”Karena pembeli memang sepi. Mau kirim ke luar daerah juga tidak bisa,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo kemarin.

Sutaman menerangkan, harga bawang merah ukuran kecil turun sampai Rp 6 ribu hingga Rp8ribu. Sementara, untuk harga bawang merah bukuran super Rp20 ribu hingga Rp21 ribu. Harga itu justru menurun. Sebab pekan lalu, harga bawang merah super berada di harga Rp28 ribu tiap kilogram.

Pembelian bawang merah di pasar itu menurun hingga 50 persen. Pembeliannya memang turun 20 persen sampai 50 persen. Padahal, biasanya laku hingga 40 ton per hari. Namun, stok di pasar ada 60 ton tadi dan hanya berlaku 25 – 30 ton,” katanya. (mas/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/