alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Wednesday, 25 May 2022

Minyak Goreng Masih Mahal, Gubernur: Rantai Pasok Terputus

PASURUAN, Radar Bromo – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meyakini, ada mata rantai yang terputus dalam distribusi minyak goreng. Sehingga terjadi kelangkaan di pasaran.

Seharusnya, menurut Khofifah, ketersediaan minyak goreng di Jawa Timur masih surplus 3.000 ton setiap bulannya. Sebab, kebutuhan konsumen selama ini di bawah jumlah minyak goreng yang diproduksi.

Khofifah mengatakan, produksi minyak goreng di Jawa Timur mencapai 62 ribu ton per bulan. Sedangkan kebutuhan konsumen setiap bulannya 59 ribu ton.

“Jadi seharusnya masih surplus. Saya melihat ada missing link di sini dari produsen hingga ke konsumen,” kata Khofifah usai meninjau operasi pasar minyak goreng murah di kantor UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Jawa Timur di Pasuruan, Minggu (6/2).

Untuk itu, dia berencana mendatangi pabrik minyak goreng bersama Pangdam V Brawijaya dan Kapolda Jawa Timur hari ini. Dia ingin menelusuri penyebab terputusnya mata rantai distribusi minyak goreng. Sehingga diharapkan pasokan minyak goreng di pasaran bisa terus tersedia. Apalagi, menurut Khofifah, subsidi minyak goreng dari pemerintah pusat cukup besar, mencapai Rp 3 triliun.

“Jadi memang perlu segera diurai penyebabnya kenapa terjadi keterputusan rantai pasok seperti sekarang,” ungkap Khofifah.

Di sisi lain, dia juga berharap agar Kementerian Perdagangan melakukan pengawasan terhadap rantai pasokan minyak dari produsen. Sehingga akar masalahnya bisa diketahui secara lebih jelas.

“Mungkin kementerian terkait yang diberi kewenangan oleh Pak Presiden juga bisa mengurai missing link-nya di sisi mana. Sehingga harga minyak goreng dari pabrikan, produsen, hingga konsumen akhir bisa sesuai HET (harga eceran tertinggi),” bebernya.

PASURUAN, Radar Bromo – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meyakini, ada mata rantai yang terputus dalam distribusi minyak goreng. Sehingga terjadi kelangkaan di pasaran.

Seharusnya, menurut Khofifah, ketersediaan minyak goreng di Jawa Timur masih surplus 3.000 ton setiap bulannya. Sebab, kebutuhan konsumen selama ini di bawah jumlah minyak goreng yang diproduksi.

Khofifah mengatakan, produksi minyak goreng di Jawa Timur mencapai 62 ribu ton per bulan. Sedangkan kebutuhan konsumen setiap bulannya 59 ribu ton.

“Jadi seharusnya masih surplus. Saya melihat ada missing link di sini dari produsen hingga ke konsumen,” kata Khofifah usai meninjau operasi pasar minyak goreng murah di kantor UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Jawa Timur di Pasuruan, Minggu (6/2).

Untuk itu, dia berencana mendatangi pabrik minyak goreng bersama Pangdam V Brawijaya dan Kapolda Jawa Timur hari ini. Dia ingin menelusuri penyebab terputusnya mata rantai distribusi minyak goreng. Sehingga diharapkan pasokan minyak goreng di pasaran bisa terus tersedia. Apalagi, menurut Khofifah, subsidi minyak goreng dari pemerintah pusat cukup besar, mencapai Rp 3 triliun.

“Jadi memang perlu segera diurai penyebabnya kenapa terjadi keterputusan rantai pasok seperti sekarang,” ungkap Khofifah.

Di sisi lain, dia juga berharap agar Kementerian Perdagangan melakukan pengawasan terhadap rantai pasokan minyak dari produsen. Sehingga akar masalahnya bisa diketahui secara lebih jelas.

“Mungkin kementerian terkait yang diberi kewenangan oleh Pak Presiden juga bisa mengurai missing link-nya di sisi mana. Sehingga harga minyak goreng dari pabrikan, produsen, hingga konsumen akhir bisa sesuai HET (harga eceran tertinggi),” bebernya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/