alexametrics
27.2 C
Probolinggo
Sunday, 29 May 2022

PPKM Darurat: Okupansi Hotel Turun, Penumpang Bus Anjlok

PRIGEN, Radar Bromo – Baru beberapa hari berjalan, dampak penerapan PPKM Darurat sudah dirasakan di sejumlah sektor. Terutama perhotelan dan transportasi. Saat ini, okupansi hotel di Pasuruan maksimal 5 persen saja.

“Hotel jelas kena imbas penerapan PPKM Darurat ini. Sekarang tamu sepi. Yang bermalam atau menginap juga sepi,” terang Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Pasuruan Fuji Subagyo.

Sebelum PPKM Darurat, okupansi hotel mencapai 30 persen. Kini maksimal hanya 5 persen. Baik itu hotel berbintang dan nonbintang.

“Sekarang tamu yang menginap atau bermalam di hotel sehari mentok 3 sampai 4 kamar. Bahkan, beberapa hotel ada yang kosong lho,” cetusnya.

Salah satu penyebabnya, menurut Fuji, karena adanya penyekatan dan pengendalian mobilitas kendaraan di beberapa titik perbatasan. Sementara tamu hotel kebanyakan dari luar daerah. Mulai Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang, dan yang lain.

TERDAMPAK: Kawasan puncak Tretes di Prigen yang banyak terdapat tempat penginapan. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

“Mudah-mudahan PPKM ini sesuai jadwal dan tidak diperpanjang,” katanya.

Sektor transportasi juga kena imbas penerapan PPKM Darurat. Terminal Tipe A Pandaan kini sepi. Penumpang bus antarkota anjlok. Jumlah bus yang beroperasi juga berkurang.

“Sekarang lebih sepi. Penumpang bus sepi, armada bus juga berkurang. Ini terjadi sejak Sabtu (3/7) dan kami prediksi berlanjut hingga 20 Juli,” cetus Kepala Terminal Tipe A Pandaan Kriswantoro.

Sebelum PPKM Darurat, bus antarkota yang beroperasi rata-rata sehari mencapai 90-100 armada. Baik AKDP dan AKAP. Kini, maksimal hanya 50-60 yang beroperasi.

Sementara penumpang bus sehari rata-rata 500 penumpang. Sekarang maksimal 150 penumpang saja.

“Armada bus turun 30 persen. Kalau penumpangnya anjlok, turun hingga empat kali lipat,” katanya.

Saat ini, penumpang bus hanya didominasi buruh pabrik atau karyawan dan pegawai. Sementara masyarakat umum jarang. (zal/hn)

PRIGEN, Radar Bromo – Baru beberapa hari berjalan, dampak penerapan PPKM Darurat sudah dirasakan di sejumlah sektor. Terutama perhotelan dan transportasi. Saat ini, okupansi hotel di Pasuruan maksimal 5 persen saja.

“Hotel jelas kena imbas penerapan PPKM Darurat ini. Sekarang tamu sepi. Yang bermalam atau menginap juga sepi,” terang Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Pasuruan Fuji Subagyo.

Sebelum PPKM Darurat, okupansi hotel mencapai 30 persen. Kini maksimal hanya 5 persen. Baik itu hotel berbintang dan nonbintang.

“Sekarang tamu yang menginap atau bermalam di hotel sehari mentok 3 sampai 4 kamar. Bahkan, beberapa hotel ada yang kosong lho,” cetusnya.

Salah satu penyebabnya, menurut Fuji, karena adanya penyekatan dan pengendalian mobilitas kendaraan di beberapa titik perbatasan. Sementara tamu hotel kebanyakan dari luar daerah. Mulai Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang, dan yang lain.

TERDAMPAK: Kawasan puncak Tretes di Prigen yang banyak terdapat tempat penginapan. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

“Mudah-mudahan PPKM ini sesuai jadwal dan tidak diperpanjang,” katanya.

Sektor transportasi juga kena imbas penerapan PPKM Darurat. Terminal Tipe A Pandaan kini sepi. Penumpang bus antarkota anjlok. Jumlah bus yang beroperasi juga berkurang.

“Sekarang lebih sepi. Penumpang bus sepi, armada bus juga berkurang. Ini terjadi sejak Sabtu (3/7) dan kami prediksi berlanjut hingga 20 Juli,” cetus Kepala Terminal Tipe A Pandaan Kriswantoro.

Sebelum PPKM Darurat, bus antarkota yang beroperasi rata-rata sehari mencapai 90-100 armada. Baik AKDP dan AKAP. Kini, maksimal hanya 50-60 yang beroperasi.

Sementara penumpang bus sehari rata-rata 500 penumpang. Sekarang maksimal 150 penumpang saja.

“Armada bus turun 30 persen. Kalau penumpangnya anjlok, turun hingga empat kali lipat,” katanya.

Saat ini, penumpang bus hanya didominasi buruh pabrik atau karyawan dan pegawai. Sementara masyarakat umum jarang. (zal/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/