alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Saturday, 2 July 2022

Hanya 4 Pasar di Kab Probolinggo yang Bisa Layani Penjualan Online

KRAKSAAN, Radar Bromo– Saat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat berlangsung, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo berupaya memfasilitasi pedagang untuk melakukan penjualan secara online. Hingga kini masih ada 4 pasar yang menerapkan sistem penjualan secara online.

Layanan belanja online sebenarnya sudah mulai diperkenalkan pada akhir tahun lalu. Ini dilakukan untuk memfasiltasi pedagang yang mengalami penurunan penjualan karena pembeli menurun akibat khawatir dengan pandemi. Langkah strategis yang dilakukan adalah memfasilitasi pedagang agar tetap mampu memasarkan dagangannya. Tidak secara konvensional, tetapi dilakukan secara online.

Pandemi yang tak kunjung usai, membuat keberadaan layanan ini dirasa butuh. Karenanya tidak hanya satu pasar yang melakukan penjualn secara online. Beberapa pasar yang dirasa mampu melakukan kegiatan serupa juga melayani aktivitas pasar secara online.

“Yang menjadi pilot project Pasar Dringu. Rupanya disana berhasil maka beberapa pasar lainnya dicoba. Sayangnya hanya tiga pasar yakni Pasar Maron, Semampir dan Paiton yang bisa,” ujar Kasi Pengelola Pasar Disperindag Kabupaten Probolinggo Aditya Arya Guntoro.

Menurutnya, pasar yang mampu melaksanakan kegiatan pasar secara online pada umumnya berada dekat dengan perumahan. Selain itu penduduk sekitar sudah mulai mengenal teknologi. Sehingga mampu beradaptasi ditengah keterbatasan seperti saat ini.

“Karakter warga sekitar yang cepat beradaptasi menjadi salah satu alasan penting layanan ini bisa berjalan. Kalau di pelosok desa masih belum maksimal. Tidak hanya terkendala sinyal. Sebab warga lebih nyaman datang ke pasar sendiri,” katanya.

Kendati demikian evaluasi dan kajian terus dilakukan. Utamanya penentuan tarif yang disesuaikan dengan jarak pengiriman dari pasar menuju lokasi konsumen. Disamping itu masih proses penyesuaian kepada pedagang, utamanya pedagang tradisional yang masih belum paham teknologi. Juga banyak konsumen yang bingung cara untuk memanfaatkan fasilitas yang ada.

“Pastinya akan terus dievaluasi dan disempurnakan. Fasilitas yang dibuat sejatinya untuk mempermudah masyarakat,” ucapnya. (ar/fun)

KRAKSAAN, Radar Bromo– Saat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat berlangsung, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo berupaya memfasilitasi pedagang untuk melakukan penjualan secara online. Hingga kini masih ada 4 pasar yang menerapkan sistem penjualan secara online.

Layanan belanja online sebenarnya sudah mulai diperkenalkan pada akhir tahun lalu. Ini dilakukan untuk memfasiltasi pedagang yang mengalami penurunan penjualan karena pembeli menurun akibat khawatir dengan pandemi. Langkah strategis yang dilakukan adalah memfasilitasi pedagang agar tetap mampu memasarkan dagangannya. Tidak secara konvensional, tetapi dilakukan secara online.

Pandemi yang tak kunjung usai, membuat keberadaan layanan ini dirasa butuh. Karenanya tidak hanya satu pasar yang melakukan penjualn secara online. Beberapa pasar yang dirasa mampu melakukan kegiatan serupa juga melayani aktivitas pasar secara online.

“Yang menjadi pilot project Pasar Dringu. Rupanya disana berhasil maka beberapa pasar lainnya dicoba. Sayangnya hanya tiga pasar yakni Pasar Maron, Semampir dan Paiton yang bisa,” ujar Kasi Pengelola Pasar Disperindag Kabupaten Probolinggo Aditya Arya Guntoro.

Menurutnya, pasar yang mampu melaksanakan kegiatan pasar secara online pada umumnya berada dekat dengan perumahan. Selain itu penduduk sekitar sudah mulai mengenal teknologi. Sehingga mampu beradaptasi ditengah keterbatasan seperti saat ini.

“Karakter warga sekitar yang cepat beradaptasi menjadi salah satu alasan penting layanan ini bisa berjalan. Kalau di pelosok desa masih belum maksimal. Tidak hanya terkendala sinyal. Sebab warga lebih nyaman datang ke pasar sendiri,” katanya.

Kendati demikian evaluasi dan kajian terus dilakukan. Utamanya penentuan tarif yang disesuaikan dengan jarak pengiriman dari pasar menuju lokasi konsumen. Disamping itu masih proses penyesuaian kepada pedagang, utamanya pedagang tradisional yang masih belum paham teknologi. Juga banyak konsumen yang bingung cara untuk memanfaatkan fasilitas yang ada.

“Pastinya akan terus dievaluasi dan disempurnakan. Fasilitas yang dibuat sejatinya untuk mempermudah masyarakat,” ucapnya. (ar/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/