alexametrics
28 C
Probolinggo
Monday, 17 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Pengurus Hebitren Jawa Timur Terbentuk

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

PAITON, Radar Bromo – Upaya mendorong peningkatan potensi perekonomian dan pengembangan bisnis pesantren di Indonesia terus dilakukan. Termasuk, di Jawa Timur. Salah satunya melalui pembentukan Holding Bisnis Pesantren (Hebitren) bersama Bank Indonesia.

Kini, kepengurusan Hebitren Korwil Jawa Timur telah terbentuk. Kemarin (4/5), kepengurusan Hebitren Korwil Jawa Timur Periode 2021-2026, dikukuhkan di Pesantren Nurul Jadid, Paiton.

Sebagai langkah awal, di Jawa Timur, telah didirikan distribution center (DC) di tiga pondok pesantren (ponpes). Yakni, di Ponpes Sunan Drajat, Lamongan; Ponpes Bahrul Ulum, Jombang; dan di Ponpes Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Difi Ahmad Johansyah mengatakan, di tingkat nasional, Hebitren secara resmi di-launching pada Kick Off ISEF ke-7 pada 7 Agustus 2020. Peresmian ini disaksikan langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia K.H. Ma’ruf Amin. “Potensi bisnis dan pasar pesantren belum dimanfaatkan secara optimal oleh pesantren karena masih menjadi target pasar semata,” katanya.

Dengan adanya kepengurusan Hebitren di Jatim, diharapkan dapat mendorong ekonomi pesantren yang berdaulat, mandiri, dan berdaya saing yang tinggi sebagai basis ekosistem dan sentra pemberdayaan ekonomi syariah di Jawa Timur. “Hal ini dapat dilakukan melalui replikasi bisnis atau unit usaha pesantren maupun pengembangan virtual market pesantren,” ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi pesantren di Jawa Timur, dimulai saat penandatanganan Deklarasi Surabaya oleh Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK, Gubernur Jawa Timur, serta perwakilan 17 pondok pesantren yang telah membentuk Koperasi Sarekat Bisnis Pesantren (KSBP) di Jawa Timur, pada penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) pertama.

Ia mengungkapkan, pada 2020, aset KSBP telah mencapai Rp 4,07 miliar. Meningkat 358 persen dibandingkan aset tahun 2019 sebesar Rp 1,14 miliar. Dari sisi omzet penjualan, pada 2020 telah mencapai Rp 2,26 miliar. “Meningkat signifikan dibandingkan 2019 yang hanya Rp 123,5 juta,” ujarnya.

Kepala Departemen Ekonomi Syariah Bank Indonesia Anwar Bashori mengatakan, Hebitren Korwil Jawa Timur merupakan Korwil ke-7 yang telah dikukuhkan setelah Korwil Jawa Tengah, DIY, Riau, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Papua, serta DKI Jakarta.

“Dalam tahun ini, insyaallah kita akan menyaksikan pengukuhan pengurus korwil. Baik yang sudah dibentuk maupun dalam proses pembentukan, yaitu Jawa Barat, Sumatera Utara, Lampung, Banten, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan NTB,” katanya. (uno/rud)

Mobile_AP_Rectangle 1

PAITON, Radar Bromo – Upaya mendorong peningkatan potensi perekonomian dan pengembangan bisnis pesantren di Indonesia terus dilakukan. Termasuk, di Jawa Timur. Salah satunya melalui pembentukan Holding Bisnis Pesantren (Hebitren) bersama Bank Indonesia.

Kini, kepengurusan Hebitren Korwil Jawa Timur telah terbentuk. Kemarin (4/5), kepengurusan Hebitren Korwil Jawa Timur Periode 2021-2026, dikukuhkan di Pesantren Nurul Jadid, Paiton.

Sebagai langkah awal, di Jawa Timur, telah didirikan distribution center (DC) di tiga pondok pesantren (ponpes). Yakni, di Ponpes Sunan Drajat, Lamongan; Ponpes Bahrul Ulum, Jombang; dan di Ponpes Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo.

Mobile_AP_Half Page

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Difi Ahmad Johansyah mengatakan, di tingkat nasional, Hebitren secara resmi di-launching pada Kick Off ISEF ke-7 pada 7 Agustus 2020. Peresmian ini disaksikan langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia K.H. Ma’ruf Amin. “Potensi bisnis dan pasar pesantren belum dimanfaatkan secara optimal oleh pesantren karena masih menjadi target pasar semata,” katanya.

Dengan adanya kepengurusan Hebitren di Jatim, diharapkan dapat mendorong ekonomi pesantren yang berdaulat, mandiri, dan berdaya saing yang tinggi sebagai basis ekosistem dan sentra pemberdayaan ekonomi syariah di Jawa Timur. “Hal ini dapat dilakukan melalui replikasi bisnis atau unit usaha pesantren maupun pengembangan virtual market pesantren,” ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi pesantren di Jawa Timur, dimulai saat penandatanganan Deklarasi Surabaya oleh Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK, Gubernur Jawa Timur, serta perwakilan 17 pondok pesantren yang telah membentuk Koperasi Sarekat Bisnis Pesantren (KSBP) di Jawa Timur, pada penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) pertama.

Ia mengungkapkan, pada 2020, aset KSBP telah mencapai Rp 4,07 miliar. Meningkat 358 persen dibandingkan aset tahun 2019 sebesar Rp 1,14 miliar. Dari sisi omzet penjualan, pada 2020 telah mencapai Rp 2,26 miliar. “Meningkat signifikan dibandingkan 2019 yang hanya Rp 123,5 juta,” ujarnya.

Kepala Departemen Ekonomi Syariah Bank Indonesia Anwar Bashori mengatakan, Hebitren Korwil Jawa Timur merupakan Korwil ke-7 yang telah dikukuhkan setelah Korwil Jawa Tengah, DIY, Riau, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Papua, serta DKI Jakarta.

“Dalam tahun ini, insyaallah kita akan menyaksikan pengukuhan pengurus korwil. Baik yang sudah dibentuk maupun dalam proses pembentukan, yaitu Jawa Barat, Sumatera Utara, Lampung, Banten, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan NTB,” katanya. (uno/rud)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2