alexametrics
29.5 C
Probolinggo
Sunday, 22 May 2022

Pedagang Pasar Tradisional Beli Minyak Goreng di Swalayan untuk Dijual Lagi

PASURUAN, Radar Bromo– Distribusi minyak goreng di sebut hanya menyasar swalayan. Sedangkan pasar tradisional tidak kebagian. Alhasil, pedagang di pasar tradisional masih menjual dagangannya diatas harga eceran tertinggi (HET).

Seperti yang diungkapkan salah seorang pedagang di Pasar Kebonagung, Kota Pasuruan Sofyan. Menurutnya, salah satu penyebab masih mahalnya minyak goreng di pasaran karena distributor mengutamakan memasok swalayan. Bahkan banyak pedagang pasar yang terpaksa kulakan ke swalayan untuk dijual kembali.

“Saya jual minyak goreng kemasan Rp 19 ribu per liter. Belum bisa turun,” katanya.

Ia mengaku kesulitan mendapatkan barang. Ia harus kulakan ke swalayan. Itu juga tidak mudah. Ia harus ikut antre seperti pembeli kebanyakan. “Saya terpaksa antre di toko-toko besar itu untuk pelanggan saya di pasar,” terangnya.

Sofia, penjual minyak goreng curah mengatakan, pasokan juga masih seret. Setiap hari ia mendapatkan pasokan 3 jeriken. Padahal sebelum minyak langka setiap hari ia mendapatkan pasokan 10 jeriken.

“Saya menjual dengan harga Rp 16 ribu per liter untuk kualitas biasa.  Sedngkan kualitas bagus Rp 21 ribu per liter,” ungkapnya.

Menurut Sofyan dan Sofia, minyak goreng di swalayan selalu tersedia puluhan dus. Minyak goreng di swalayan dijual sesuai HET.”Selalu ada barangnya, cuma antre dan dibatasi 2 liter per orang,” kata Tekad, pembeli minyak goreng di swalayan Jalan Alun-alun Utara.

Di sisi lain, Kepala Disperindag Kota Pasuruan, Yanuar Afriansyah mengaku, pihaknya juga menemukan pasokan minyak goreng dari distributor tidak merata. Swalayan selalu menerima pasokan yang melimpah.

“Kami sudah menemukan kondisi itu. Kami sudah mendata dan sudah kami kiriman ke provinsi. Kami juga akan operasi pengawasan dengan jajaran samping,” katanya. (sid/fun)

PASURUAN, Radar Bromo– Distribusi minyak goreng di sebut hanya menyasar swalayan. Sedangkan pasar tradisional tidak kebagian. Alhasil, pedagang di pasar tradisional masih menjual dagangannya diatas harga eceran tertinggi (HET).

Seperti yang diungkapkan salah seorang pedagang di Pasar Kebonagung, Kota Pasuruan Sofyan. Menurutnya, salah satu penyebab masih mahalnya minyak goreng di pasaran karena distributor mengutamakan memasok swalayan. Bahkan banyak pedagang pasar yang terpaksa kulakan ke swalayan untuk dijual kembali.

“Saya jual minyak goreng kemasan Rp 19 ribu per liter. Belum bisa turun,” katanya.

Ia mengaku kesulitan mendapatkan barang. Ia harus kulakan ke swalayan. Itu juga tidak mudah. Ia harus ikut antre seperti pembeli kebanyakan. “Saya terpaksa antre di toko-toko besar itu untuk pelanggan saya di pasar,” terangnya.

Sofia, penjual minyak goreng curah mengatakan, pasokan juga masih seret. Setiap hari ia mendapatkan pasokan 3 jeriken. Padahal sebelum minyak langka setiap hari ia mendapatkan pasokan 10 jeriken.

“Saya menjual dengan harga Rp 16 ribu per liter untuk kualitas biasa.  Sedngkan kualitas bagus Rp 21 ribu per liter,” ungkapnya.

Menurut Sofyan dan Sofia, minyak goreng di swalayan selalu tersedia puluhan dus. Minyak goreng di swalayan dijual sesuai HET.”Selalu ada barangnya, cuma antre dan dibatasi 2 liter per orang,” kata Tekad, pembeli minyak goreng di swalayan Jalan Alun-alun Utara.

Di sisi lain, Kepala Disperindag Kota Pasuruan, Yanuar Afriansyah mengaku, pihaknya juga menemukan pasokan minyak goreng dari distributor tidak merata. Swalayan selalu menerima pasokan yang melimpah.

“Kami sudah menemukan kondisi itu. Kami sudah mendata dan sudah kami kiriman ke provinsi. Kami juga akan operasi pengawasan dengan jajaran samping,” katanya. (sid/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/